“Ada seorang perempuan yang iri hati kepada kami.
Dia selalu ingin mempermalukan saya dan istri. Padahal, kami tak pernah menyakiti dia.
Misal, jika saat berfoto bersama, dia selalu memerintahkan istri saya pindah tempat. Ia berusaha mempermalukan.
Dalam kepengurusan di organisasi, wanita itu menggeser saya, dari suatu posisi bagus ke yang kurang nyaman.
Di berbagai kegiatan, dia selalu ingin mempertontonkan kekuasaannya, mengatur dan memerintah ini dan itu.
Untung, istri saya penyabar, tidak pernah berontak; diikuti saja kemauannya.
Karena dia seorang perempuan, saya merasa tidak enak kalau harus bertindak.
Kini, kesabaran saya semakin menipis. Mohon arahan Pak Ustaz, bagaimana saya menyikapinya?”
Curcor itu datang dari seorang senior di sebuah kota, sebelah barat Bandung, seminggu yang lalu.
Saya meresponsnya dengan bercerita.
Ada kisah sangat populer.
Setiap hari, Kanjeng Nabi ﷺ menyuapi seorang pengemis yg tuna netra, di pinggir jalan, di salah satu sudut Kota Madinah. Walau tak bisa melihat, tapi kerjaan pengemis itu terus menghina Rasulullah ﷺ.
Dia bilang, “Muhammad itu tukang sihir, pembohong besar, dan semua orang harus mewaspadainya!”
Tapi, Rasulullah ﷺ tetap membantunya untuk dia bisa makan. Hingga, suatu saat Rasulullah wafat, dan kegiatan menyuapi itu digantikan Abu Bakar.
Pengemis itu merasa, yang melayani dia, beda. Tak selembut yg biasanya. Lalu, Abu Bakar bilang bahwa yg biasa menyuapinya telah wafat.
“Siapa dia?” pengemis bertanya.
“Rasulullah,” jawab Abu Bakar.
Pengemis menyesal. Lalu, dia menyucapkan syahadat.
Demikian pula, kisah seorang wanita tua pembenci Nabi ﷺ. Setiap melihat Rasululah ﷺ, ia selalu meludah ke depan Kanjeng Nabi.
Satu hari, dia jatuh sakit; tak ada orang yg mau datang ke rumahnya. Nabi ﷺ, dengan membawa buah-buahan, menjenguk perempan itu.
Karena kelembutan Nabi ﷺ., orang yang dijenguk ini menjadi insaf dan menyesal atas sikapnya selama ini. Dia, kemudian, masuk Islam.
Dulu, waktu saya masih SMA, di masjid kecil (orang Sunda menyebutnya: masigit) belakang rumah; saya biasa shalat wajib.
Pak Uba Suparlan, pendatang asal Sukamandi, Subang –yang mengajinya bagus, menjadi imam, untuk shalat2 Magrib, Isya, dan Subuh.
Suatu hari, dia berhalangan. Seorang anggota jamaah, sudah sepuh, sebut saja Pak Fulan –yang juga setiap saat shalat di masjid, berinisiatif maju ke depan.
Dan, setiap imam tetap tak bisa ke masjid, sebab sedang ke luar kota, Pak Fulan langsung menjadi imam. Ini berlangsung berkali-kali.
Menggantikan posisi imam yang berhalangan, bagus sekali. Tapi, ada yang mengganjal di hati saya. Imam pengganti ini, bacaan fatihah dan surat, banyak salahnya.
Yang seharusnya panjang, ia baca pendek. Demikian pula sebaliknya. Ini bisa mengubah arti ayat. Bahadur!
Sudah berhari-hari saya tahan, sampai suatu Magrib, begitu selesai wiridan, setelah jamaah bubar, pelan2, sy bicara kepadanya.
“Pak, mohon maaf sekali, mudah2an sy yg salah dengar: bacaan fatihah dan suratnya, banyak yang salah.”
Seketika, ia membalikkan badannya.
Dengan suara keras, orangtua ini memarahi saya. Dia bilang bahwa tiap hari ini dan hari itu, menghadiri majelis ilmu.
Dia sebut nama masjid & kiainya.
“Kamu anak kecil, tahu dari mana, saya salah baca!”
Mendengar suara orang berteriak, jamaah shalat yang barusan meninggal kan masjid, kembali masuk, menyaksikan saya dimarahi bapak itu.
Masih terengah-engah napasnya, tadi sudah berhenti bicara; saya mulai berkata lagi:
“Mohon maaf, saya menegur Bapak, bukan karena saya merasa lebih pintar; tetapi, ada beberapa bacaan Bapak yang perlu dibetulkan..
Kalau saya tidak berbuat apa2, mendiamkan saja, ikut dosa juga.”
“Nanti, di yaumil akhir, saya bisa kena marah Tuhan, tidak meluruskan kesalahan yg saya saksikan. Sekarang mah, saya sudah lepas kewajiban.”
Saya minta maaf lagi, menyalaminya, dan berpamitan.
Besoknya, beberapa ibu jamaah masjid, pada berbicara satu sama lain. Mereka menyalahkan saya, sebagai anak muda yang sok tahu.
Sebab, dalam menegur itu, saya tak ada vested interest , tak punya kepentingan apa pun; dimarahi di depan banyak orang, tak malu dan tidak sakit hati.
Selepas SMA, saya kuliah; lalu, bekerja di Cirebon. Akhir minggu, saya pulang ke Bandung.
Setiap melihat saya datang, dari jauh, bapak yang dulu pernah ditegur itu, memanggil-manggil, minta saya singgah, dan mengobrol dengannya.
Mungkin, dia mendengar atau mendapatkan pencerahan dari orang lain mengenai kejadian sekian tahun lalu tsb, sehingga beliau menyadarinya. Alhamdulilah.
Agama mengajarkan agar membalas keburukan dg kebaikan.
ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat: 34).
Dulu, ada anak yatim lulusan SMP bergabung dg Yayasan Ar-Rahmah. Kami lanjutkan pendidikannya, hingga lulus SLTA, dan sempat kuliah bbrp semster, tapi tak selesai, keburu nikah.
Karena suatu hal yg ia tak suka, pernah dia mengirim pesan via hp kepada sy, dengan bahasa yang sangat tidak sopan.
Kalau hati, ingin rasanya, dilabrak saja. Tapi, kata istri biarkan saja.
Saat ini, orang yang pernah marah sama yang mengurus hidup dan pendidikannya, menjadi salah satu anak yg berbakti..
“Alhamdullilah, saya jadi tenang tdk berpikiran buruk, ingin membalas lagi,“ setelah mendengar kisah-kisah itu, senior yang curcor ini merasa lega.
“Kesimpulannya, sanajan hate tetep ngageremet, antep wae, nya!” , dalam bahasa daerah, senior berkomentar.
“Nuhun pisan, Pa Ustad Saya tdk bisa membalas kebaikan Pa Ustad. Allahlah yg membalasnya,” beliau menutup pembicaraan.
Ciomas, 11/12/25; waktu Dhuha akhir. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar