Menangislah

A’isyah r.a. bercerita tentang peristiwa yang disebutnya sebagai “yang paling mempesona dari kehidupan Nabi.” Nabi bangun di tengah malam, mengambil wudhu, melakukan shalat malam.

Baru saja sampai pada bacaan Al-Quran, Rasulullah terisak-isak. Sepanjang shalatnya, Nabi saw. menangis. Aisyah ra. melaporkan, “Beliau menangis sampai janggutnya basah oleh air mata.”

Pada kesempatan lain, Nabi saw. membacakan akhir surat Az-Zumar ayat ke-71 ke hadapan sekelompok orang Anshar:

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ ءَايَٰتِ رَبِّكُمْ وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا۟ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ ٱلْعَذَابِ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ
Orang-orang kafir digiring ke neraka jahanam secara berbondong-bondong. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu, dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya:

“Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?”

Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.

Semuanya menangis, kecuali seorang pemuda di antara mereka. Ia berkata, “Saya berusaha untuk menangis, tapi air mataku tak keluar.”

Nabi bersabda, “Siapa yang menangis, tetapi air matanya tak keluar, baginya surga.”

Kepada Abu Dzar dan shahabat* yang lain, Nabi berkata, “Jika kamu mampu menangis, menangislah. Jika tidak, rasakan dalam hatimu kesedihan. Berusahalah untuk menangis, karena hati yang keras jauh dari Allah.”

Menangis, dianjurkan oleh Nabi. Allah menggambarkan orang-orang saleh dengan menyebutkan:

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُ ٱلرَّحْمَٰنِ خَرُّوا۟ سُجَّدًا وَبُكِيًّا …
… apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih, mereka rebah bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58).

Menangis bukan lambang keputusasaan. Menangis mengungkapkan kelembutan hati untuk menerima petunjuk Tuhan.

Tangisan juga menunjukan kasih sayang pada sesama manusia dan kepekaan kepada penderitaan orang lain.

Ketika Ibrahim, putra Nabi saw. meninggal, terlihat Nabi saw. meneteskan air mata.

Melihat air mata Nabi yang tak terbendung, Abdurahman bin Auf, tercengang dan berkata:

”Engkau juga menangis, wahai  Rasul?”

Rasulullah menjawab, ”Ini adalah rahmat.” 

Lalu beliau bersabda, “Air mata berlinang, hati terkoyak-koyak kesedihan, namun kami tidak akan berkata kecuali yang diridai Allah. Wahai anakku Ibrahim, sunggguh kami sedih atas perpisahan ini.”

Ketika Ja’far gugur sebagai syahid dengan tubuh yang tercabik-cabik, Rasulullah memerintahkan:

“Buat orang seperti Ja’far, hendaklah orang-orang menangis.” Menangis untuk melibatkan diri dalam perjuangan membela kebenaran.

Ketika Sa’ad bin Mua’adz Al-Anshari memperlihatkan tangannya yang melepuh karena memecah batu sebagai mata pencahariannya, Nabi saw. meneteskan air matanya.

Rasul yang mulia mengambil tangan kasar itu dan menciumnya, seraya berkata:

“Inilah tangan yang tidak akan disentuh api neraka.”

Nabi menangis karena kepekaannya terhadap penderitaan orang lain.

Saat gadis kecil Sulis bersama Hadad Alwi, belasan tahun lalu, di Gedung Wanita Simprug, Jakarta; melantunkan shalawat Nabi, seribu hadirin tak mampu manahan tetesan air mata. Air mata kerinduan kepada Rasul tercinta, Muhammad saw.

Memang, banyak ulama yang, untuk mengekspresikan kerinduannya kepada sang kekasih -yang telah membukakan jalan kebenaran, menggubah syair-syair shalawat.

Syaikh Bu’syiri  – dengan diiringi tetesan air mata- menggubah Shalawat Burdah yang kesohor itu; dan pada malam harinya, dalam mimpi dia,  Rasulullah saw. datang menemuinya.

Salami, pedagang gorengan di Manggarai –pada zaman pemerintahan Gus Dur, dikunjungi Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

Ketika Ibu Negara menyalaminya, Salami meneteskan air mata. Ia haru, orang besar, istri seorang presiden, mau menyempatkan diri mengunjungi orang kecil seperti dia.

Kita juga menangis ketika membaca dalam tarikh betapa derita yang dialami Rasul, para shahabat, Banu Hasyim, dan Banu Abdul Muthalib.

Ketika itu mereka semua diembargo oleh Masyarakat Makkah dari segala aktivitas ekonomi dan sosial, sehingga banyak di antara shahabat hanya memakan daun-daun kering.

Disusul kemudian, dengan kematian  orang terdekat yang selama ini memberikan dorongan dan perlindungan dalam berdakwah, sementara kebanyakan orang mendustakan dan bahkan mau membunuhnya: meninggalnya Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib.

Kita pun menangis ketika membaca Rasul sujud di pasir Badar mencemaskan pasukannya yang sedikit.

Waktu itu Rasul berdoa, ”Ya Allah, kalau pasukan Badar ini gugur, Engkau tak akan disembah lagi di dunia ini.”

Dan, tetesan air mata tak mungkin terbendung kalau kita membaca bagaimana Husen, cucu kinasih Rasulullah, beserta 70 sahabatnya, dibantai di Padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah.

Air mata yang tercurah akibat penyesalan atas dosa, ketakutan akan siksaan Tuhan, atau kekhawatiran akan nasib di hari kemudian, di samping kebahagiaan atas penemuan kebenaran dan kehampiran kepada Tuhan, kesemuanya mendapat tempat terpuji dalam perbendaharaan bahasa kitab suci.

Dalam dunia tasawuf, dikenal istilah al-bakka’un yang berarti penangis atau yang suka menangis.

Kelompok ini dipelopori oleh Hasan Al-Basri, di mana setiap kali  merenungkan ayat-ayat Al-Quran mereka menangis tersedu-sedu.

Ketika surga dibahas, mereka mencucurkan air mata sambil berharap dapat memasukinya; dan saat neraka disebutkan, mereka menangis takut terjerumus ke dalamnya.

Di depan makam Kanjerng Nabi di Madinah, para jamaah haji tak mungkin mampu menahan tangis. Tangisan kerinduan kepada sang kekasih, Rasulullah saw.

Al-Quran, seperti disinggung di atas,  mengisahkan orang-orang yang telah diberi nikmat Allah, “ …apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (Q.S. Maryam: 58).

Ketika berceritera tentang orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman, Al-Quran menuturkan:

وَإِذَا سَمِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ تَرَىٰٓ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا۟ مِنَ ٱلْحَقِّ

“Dan, apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, engkau lihat air mata mereka bercucuran … “ (QS. Al-Maidah: 83).

Melihat tayangan dalam berita-berita, bagaimana Israel tak henti membombardir Palestina, menyebabkan jutaan rakyat sangat menderita; sementara negara-negara Arab kaya raya -tetangga negeri para Nabi itu, tidak terlihat membela; hati ini menangis sedih.

Dalam skala Nasional, tak jarang air mata menghampiri. Selain kesulitan ekonomi, bencana demi bencana, hadir silih berganti. Berbagai penderitaan melanda rakyat Indonesia.

Di saat-saat rakyat sedang sangat prihatin dan tak berdaya dengan bermacam rekayasa pemerintah mengutak-atik otak, mempermainkan aturan demi kepentingannya pribadi, keluarga, dan orang-orang terdekat; penguasa dan kroni-kroninya pun memaperkan kekuasaan dan kekayaan.

Ketika rakyat hidup dalam garis kemiskinan, ketika para guru dan murid di desa-desa,
untuk mencapai sekolah harus melewati jembatan usang atau tali-tali yang diikat sangat sederhana; seorang putra mahkota mempertontonkan perjalanan dengan jet pribadi!

Masih hangat dalam ingatan, gempa bumi yang melanda Cianjur Selatan. Ratusan bangunan hancur. Sebanyak 10.000 orang terluka, dan lebih dari 500 jiwa meninggal dunia. Kita semua berduka.

Tangisan itu, datang kembali. Tanggal 18 September, 3 hari lalu; saudara-saudara kita di Bandung Selatan, Bandung Barat, dan di sebagian wilayah Garut diguncang gempa pula. Sebanyak 3.601 bangunan rusak dan 79 orang terluka. Kerugian finansial mencapai 298 miliar!

Liburan 3 hari kemarin, banyak orang pergi ke daerah sejuk dan nyaman. Bagi Masyarakat Jabodetabek, Puncak menjadi pilihan.

Belasan hingga puluhan ribu kendaraan terjebak macet, nyaris tak bisa bergerak sama sekali. Seorang motoris kelelahan, ia meninggal dunia. Sepertinya, negeri ini, tak pernah sepi dari bencana dan air mata.

Seorang kawan yang perkasa, naik-turun gunung sudah biasa; Himalaya pun ditapakinya. Tapi, saat menyaksikan atlet-atlet Asean Paragames berlomba di Jakarta, hatinya terenyuh; sudut-sudut penglihatannya menghangat, matanya membasah.

Rasulullah saw. bersabda, “Ada dua mata yang tidak akan disentuh api neraka, mata yang menangis di waktu malam hari karena takut kepada Allah Swt. dan mata yang menjaga pasukan fi sabilillah di malam hari.”

Rasulullah juga menyebutkan bahwa di antara tujuh golongan manusia yang mendapat naungan Allah di hari kiamat adalah ”…seseorang yang berzikir dan berkhalwat kepada Allah lalu ia mengucurkan air mata.”

Menangis juga merupakan salah satu tanda kekhusyukan dalam beribadah -walau tidak semua tangisan seperti itu.

Orang-orang tertindas atau yang sedang menerima cobaan yang berat, bermohon kepada Tuhan dengan penuh harap, diiringi tetesan air mata. Allah mendengarkannya.

Jalaluddin Rumi menggambarkan suasana itu.

Bunga-bunga mawar di taman takkan pernah merekah
Sebelum langit menurunkan air matanya

Bayi-bayi itu takkan pernah diberi susu
Sebelum mereka menangis terlebih dahulu

Maka menangislah kamu
Supaya Sang perawat Agung memberikan padamu
Limpahan susu kasih sayang-Nya.

*Kata shababat dalam pengertian syariat, apalagi dalam Ilmu Hadits, adalah orang Islam -siapa pun dia- yang hidup pada sezaman dengan Rasulullah saw. dan pernah bertemu Nabi Muhammad. Ia berbeda pengertian dengan sahabat dalam bahasa Indonesia yang berarti teman dekat.

Diperbaharui @ 21 September 2024, menjelang Zuhur.
Salam hangat dari Ciomas, Jr.

Tinggalkan komentar