Mendadak (Lagi) Memberikan Sambutan

Sesaat setelah prosesi akad nikah, di sebuah mushalla, di Kampung Carangpulang, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor; tadi pagi, rombongan kedua mempelai berpindah ke kediaman keluarga pihak wanita.

Perwakilan dari Keluarga Mempelai Wanita menyampaikan sambutan singkat tapi padat. Setelah menutupnya, sambil menyodorkan mike kepada ayah dari mempelai pria – yang duduk di depannya, ia berkata:

“Kepada perwakilan dari mempelai pria, silakan untuk menyampaikan sambutannya.”

Ketua rombongan pihak pria menyambut mike itu. Lalu, diserahkannya kepada saya, “Silakan Bapak saja yang bicara!”

Agak kaget sejenak. Tapi, saya raih pengeras suara itu, dan langsung berkata-kata, seolah memang sudah ditugaskan sebelumnya, untuk menyampaikan sambutan dari rombongan mempelai pria.

Yang bikin rada-rada tersentak adalah saya, sebenarnya, undangan saja. Tidak dihubungi atau ditunjuk untuk melaksanakan tugas apa pun. Juga, selain nama calon pengantin pria, tak ada nama-nama yang saya tahu.

Daud, mempelai pria, dulu, waktu masih sekolah, pernah tinggal bersama kami di Yayasan Ar-Rahmah. Setelah bekerja, ia menjadi salah seorang sahabat Apik -anak bungsu kami. Dia sering menginap di Ciomas.

Nama ayah Daud, lupa. Dulu, kami pernah silaturahmi ke rumahnya. Beliau seorang ustaz. Beberapa tetangganya, memanggil beliau dengan sebutan kiai.

Tapi, nama Bu ustazah -istri Pak ustaz; dan nama mempelai wanita serta ayah dan ibunya, sama sekali tidak tahu saya!

Saya harus berbicara dengan mengeliminasi nama orang-orang yang menjadi pokok-pokok kalimat. Namun, the show must go on. Acara harus tetap berjalan. Berkata-katalah saya.

Dua-tiga tahun lalu, bersama istri, saya menghadiri undangan pernikahan di daerah Bojongloa, Bandung kota. Indra, seorang keponakan mau nikah.

Pas mencari kursi untuk menahan beban badan –yang agak overweight, ada suara dari Pembawa Acara, “Kepada Perwakilan dari Pengantin Pria, dipersilakan untuk menyampaikan sambutannya.”

Merasa tidak termasuk yang mendapat tugas khusus, saya santai saja, buka pesan-pesan WA di hp. Sementara, keluarga pengantin saling melirik, siap kiranya yang akan menyerahkan mempelai pria.

“Tuh…tuh…, ada Kang Jonih. Kang Jonih saja!” Majulah saya.

Tahun lalu, sebuah kabar rencana pernikahan datang. Kemenakan dari seorang sahabat, hendak menikah di Jember, Jawa Timur.

Sebab hari kerja, dan mau long week end, pun agak mendadak –hanya 2 hari sebelumnya, saya tak diminta datang. Info saja sifatnya.

Dengan keluarga besar itu, lantaran sudah merasa saudara, kami seperti punya ikatan darah.

Saya tidak berencana untuk menghadiri pernikahan tersebut, sebab –terutama- bentrok dengan acara syukuran di Bandung.

Tapi, Sri, istri saya mendesak, “Bapak harus datang. Mas Budi nikahkan terakhir, nich! Juga, satu-satunya anak laki-laki beliau; sedangkan Mas Budinya sakit, tak bisa hadir.”

Karena mau libur panjang, tidak mudah mendapat transportasi ke sana. Kebetulan pada waktu yang sama, ada syukuran kakak saya yang mau berangkat umrah.

“Ke Bandung, biar ibu dengan Isal saja.” Faisal adalah anak kedua kami.

“Naik apa Bapak ke Jawa Timur?”

“Nanti, sambil jalan ke Bandung, Isal carikan tiketnya.”

Beberapa jam kemudian. “Dapat, Pak. Bapak naik pesawat ke Banyuwangi; terus, sambung kereta ke Jember. Akan tiba sore hari, Bapak menginap di Jember, sebelum besok paginya ke acara.”

“Untuk kembalinya?”

“Pulangnya, hari besoknya lagi (jadi, Bapak menginap tambah semalam di Jember), naik kereta ke Surabaya. Lanjutkan dengan pesawat ke Jakarta.”

Tanpa sepengetahuan keluarga itu, saya sudah lebih dulu tiba di Jember, bakda Zuhur, menjelang Ashar. Langsung, naik ojek motor ke pantai, pergi-pulang, 100 km –an.

Bakda Isya, baru tiba kembali di kota.

Kepada Feni -putri sulung Mbak Titik, kakak dari Bramas –calon pengantin, saya kirim pesan via WA, menanyakan posisi saat itu dan akan menginap di hotel apa.

Petang itu, di lobi hotel, saya bertemu calon pengantin dan ibunya. Keduanya sangat kaget. Kok, saya ada di situ!

Feni –yang belum lama saling berbalas WA dengan saya, bersama suaminya, Ari, sedang berada di kamar, di lantai sekian.

“Ini ada Om Jonih,” kata Mbak Titik.

“Ooo, Mama sedang teleponan dengan Om Jonih? Aku juga barusan saling kirim WA.”

“Bukan, Om Jonih ada di sini, di lobi!”

“Yang benar saja!”

Feni turun ke lobi. “Om ngerjain, dech!” Ia segera hubungan Ari bahwa saya ada di hotel.

Tak lama, Feni berkata, “Aduh Om, Mas Ari sudah panas dingin, keringatan. Selama ini, dia belum pernah bicara di depan orang banyak. Ini harus memimpin rombongan, ngasih sambutan, menyerahkan calon mempelai pria!”

“Sekarang, ia senang sekali, bebas dari tugas berat. Terima kasih sekali, Om!”

Tiga belas tahun lalu, dalam rombongan keluarga calon mempelai pria, saya dan istri berada di barisan paling belakang.

Saat rombongan mulai masuk gang, di mana rumah keluarga calon mempelai wanita berada, di daerah Dramaga, Bogor Barat, pas seberang RS Karya Bakti Pertiwi.

Tiba-tiba, Pak Dodi –ayah calon pengantin, tergopoh, berjalan cepat ke belakang.

“Minta tolong, Pak Jonih yang menyerahkan, ya!”

“Minta nama lengkap calon pengantin dan nama ayah-ibunya,” saya menjawab.

Hari itu, di acara pernikahan ini; saya tidak hanya menjadi petugas untuk menyerahkan calon mempelai pria; tapi juga menjadi pembawa cara: memimpin pengantin untuk sungkeman, mengajak hadirin untuk memberikan selamat, hingga mempersilakan tamu untuk menikmati hidangan.

Itulah sekelumit kisah hal sambutan dadak-dadakan; atau mendadak memberikan sambutan.

Lain kesempatan; mungkin, saya menulis hal mendadak memimpin doa, mendadak menjadi saksi pernikahan, mendadak menjadi pembicara dalam sharing session, atau mendadak menjadi khatib Jumat.

Ciomas, 23 Juli 2025, bakda Isya. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar