Selama 6 tahun kuliah, hampir tiap hari, berangkatnya dijemput kawan –yang rumahnya di Jln. Kopo, Sayati –satu jalur dengan saya yang di Jln. Caringin Kopo, untuk ke Dago.
Pulangnya pun, demikian. Jadi, berangkat-pulang ke/dari kampus, ongkosnya gratis. Begitu juga ketika tempat kuliah berpindah ke Jatinangor, Sumedang.
Tahun-tahun akhir kuliah, saya kehabisan biaya. Saya harus mencari kerja, tapi kuliah harus selesai.
Melamar ke banyak sekolah, dan diterima di SMP Karya Pembangunan, di Jln. Kopo, Margahayu, depan atau sebelah Lapangan Udara Sulaiman.
Geografi dan Ekonomi adalah mata pelajaran yang ditugaskan kepada guru baru ini. Saya mengajar di 8 kelas, tiap ruang kelas muridnya ada 48 orang.
Kalau ada guru yang berhalangan hadir, baik karena sakit atau hal lainnya, saya suka mengisi kelas-kelas itu. Yang paling sering adalah mengajar kelas bahasa Inggris dan Matematika. Dapatlah honor tambahan.
Di sekolah diselenggarakan jumatan. Pernah, ustaz yang terjadwal, tidak bisa hadir, padahal waktu sudah mendekati azan Zuhur. Majulah saya. Setelah itu, di sekolah ini, saya sering diminta menjadi khatib Jumat.
Pada tahun 1996, kami pindah kantor dari Fungsi Eksplorasi Pertamina UEP III, Cirebon; ke Dinas Pengembangan Usaha Pertamina EP, di Jln. Kramat Raya 59, Jakarta.
Ruang kerja pada Divisi Kajian dan Pengembangan berada di lantai II. Di sebelah kanan adalah kantor tentara, di kiri kantor polisi. Kata orang-orang sih, gedung kantor Pertamina, karena memegang aset vital negara, harus aman.
Dari banyak alamat kantor kerja di Jakarta, inilah lokasi yang paling saya suka!
“Why, kunaon?”
Lokasinya sangat strategis untuk berbagai keperluan.
Kramat Sentiong, selain secara sekuritas –sebab diapit tentara dan polisi, aman; pun, sepanjang Jalan Kramat Raya dan jalan-jalan kecil Kramat I, II, III …, dipenuhi warung-warung makan dengan menu sangat bervariasi dan harganya murah.
Sering juga diajak makan sama Abung Tonny S. Asikin, seorang sahabat –yang anak professor, makan di warung nasi di dalam kompleks sekolah Muhammadiyah.
Kadang dalam hati tertawa, kawan-kawan dengan penghasilan dari perusahaan minyak, tapi makan di warung dengan harga untuk anak-anak SMP!
“Terus, apa lagi yang menarik, di sini?”
Kalau ada keperluan belanja barang-barang elektronika atau perlengkapan perlistrikan, ke arah kampus UI Salemba, terdapat Pasar Kenari. Apa pun alat-alat lstrik, ada di sini.
Ke Pasar Senen yang segala barang tersedia, juga dekat.
Pernah, turun dari metromini, mau menyeberang ke kantor, kehujanan. Baju basah kuyup. Ditunda sebentar masuk gedung tempat kerja, pergi ke Pasar Senen dulu, beli baju.
Untuk mencapai kantor ini dari Bogor, ada 2 cara. Pertama, ini yang paling sering dilakukan, dengan kereta di Bogor, turun di stasiun Cikini; sambung dengan metromini ke arah Senen, turun di Jln. Kramat Raya, depan BRI, seberang kantor.
Kedua, naik bus jurusan Priok atau Pulogadung, turun di Cempaka Putih, pas depan Gudang Garam, Coca Cola, atau RS Pertamina Jaya; sambung metro mini jurusan Senen; lanjut dengan mikrolet Senen-Kp. Melayu, turun pas depan Kramat Raya 59.
Teman-teman, kalau mau makan siang, di samping pergi ke warung-warung sekitar kantor, bisa juga makan di Lantai M. Satu lantai ini, khusus untuk tempat makan.
Apabila mau jumatan, para pekerja kantor-kantor di Kramat Sentiong dan sekitarnya, bisa memilih salah satu masjid terdekat: Masjid di SMP Muhammadiyah atau di Dewan Dakwah Islamiyah.
Waktu itu, baru beberapa hari saya berkantor di sini; barusan pindah dari Cirebon. Satu hari Jumat, hujan disertai angin kencang, turun sangat lebat. Hari sudah mendekati saat shalat Jumat. Sangat sulit untuk ke masjid.
Beberapa kawan menghubungi saya bahwa jumatan akan dilakukan di lantai M, tapi belum ada untuk khatibnya.
Akang, bersedia?” kata mereka.
Saya menyebut beberapa orang geolog, geofisikawan, dan insinyur perminyakan yang biasa berbicara agama.
“Nggak ada yang mau!”
“Bagamana kalau Akang yang jadi khatib?”
“Daripada -lantaran hujan- teman-teman tidak shalat Jumat, bolehlah.” Jadi khatiblah saya.
Waktu itu, kami berkantor di Gedung Wisma Mulia, Jln. Gatot Subroto, Jakarta. Tim Manajemen mangadakan Rapat Koordinasi di Hotel Shangri-La, Jln. Sudirman.
Hari Jumat mendekatai pk 12, rapat baru mau baru break. Kalau jumatan ke masjid, di luar hotel, waktunya, tidak akan terkejar.
Ketika saya berjalan cepat menuju toilet, Elan Biantoro dan Rudi Satwiko, 2 orang sahabat, mengejar.
“Kang…Kang, sebentar. Waktunya sudah mepet, tidak mungkin ke masjid. Kita mau jumatan di sini. Jadi khatib, ya!” Saya mengungguk.
Di Ball Room hotel besar itu, saya menyampaikan taushiah dalam khotbah Jumat di hadapan teman-teman sekantor. Beberapa tahun kemudian, di ruangan yang sama, saya mengisi acara pernikahan.
Tahun 2004, saya mendapat kesempatan mengikuti Seminar yang diselenggarakan pemerintah Norwegia.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh PETRAD -International Programme for Petroleum Management and Administration.
Peserta dibagi dua kelompok: 1. Kelas Petroleum Policy & Management, untuk yang berlatar belakang Eksplorasi; dan 2. Kelas Petroleum Operation, untuk teman-teman petroleum engineers. Saya di kelas pertama.
Peserta kursus ada 48 orang, berasal dari sekitar 30 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa. Terdapat 11 peserta beragama Islam.
Kami dipinjami 1 ruangan untuk jumatan. Khatibnya, bergantian antara Ilham Sheikhsidov –orang Azerbaijan, dengan saya.
Dengan bahasa Inggris apa adanya, saya kebagian 4 kali menjadi khatib.
Dalam suatu penugasan ke Tokyo, Jepang, hari Jumat, seorang kawan menyampaikan bahwa khatib yang akan memberikan ceramah akan berhalangan.
Saya diminta menggantikannya. Saya sudah siap-siap. Tapi, rupanya, menjelang azan, ustaz datang. Alhamdulillah. Saya batal menjadi khatib.
Kepada kawan-kawan yang menduduki posisi manajemen, saya tawarkan kata-kata pembuka untuk khotbah, ceramah. taushiah, atau sekadar kultum.
“Siapa tahu, suatu hari, dihadapkan pada siatuasi harus berceramah di masjid atau diminta berbicara di depan orang banyak –dalam suasana keagamaan; yang paling penting adalah kata-kata pembukanya dulu, isinya mah bisa hal pekerjaan, menajemen, atau pengalaman hidup.”
Banyak kawan menerima penawaran ini. Saya kirimkan beberapa pembuka kata.
Ciomas, 1 Agustus 2025; bakda jumatan di Masjid An-Nur, Yayasan Ar-Rahmah, Ciomas, Bogor. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar