Mendadak Menyalatkan, Menguburkan, dan Memberikan Sambutan di Pemakaman

Kamis kemarin; selesai shalat Subuh bersama anak-anak yatim/duafa Ar-Rahmah, membaca wirid dan menyampaikan doa yang banyak serta panjang, sekitar 40 menit; hp dibuka.

Saya membaca beberapa pesan –at glance, dan berkirim dua WA. Lalu – agar dalam mengerjakan shalat Syuruq, kaki, tangan, wajah, dan kepala terasa segar- saya memperbaharui wudhu.

Telepon genggam berbunyi. Seseorang dari Cilegon, Banten, sambil terisak, mengabarkan, “Triono meninggal.”

Kepada istri yang sedang -ngasih_ makan marmut dan sugar glider, saya berkata, “Harus ke Bandung sekarang, Mas Tri meninggal dunia.”

Menjelang waktu Zhuhur, kami tiba di Sayati, Bandung Selatan. Lantaran perginya buru-buru, Sri –istri saya, lupa bawa tongkat.

Kami mencari dulu apotik atau toko alat kesehatan, untuk membeli tongkat. Toko-toko obatnya banyak, tapi stok alat bantu berjalan itu, kosong.

Di rumah duka, di Margahayu Permai, Jln. Kopo; di dalam rumah, teras, dan halaman, hingga jalan kompleks, tamu berkerubung.

Pada ruang depan, sesosok jenazah sudah dibaringkan.

Kepada yang duduk di sekitar mayat, terhadap yang berada di ruang dalam, mereka yang di teras, pun yang di jalan depan rumah; saya bersuara agak keras

“Bagi yang mau menyalatkan, silakan ambil wudhu, kita shalat jenazah. Saya imamnya.”

Jemaah memenuhi ruangan, siap melaksanakan shalat.

“Masih ada yang sedang berwudhu!” seseorang berkata.

“Tak apa, kita jalan dulu saja. Nanti, saya imami lagi bagi yang belum siap.”

Saya biasa mengimami shalat jenazah, untuk satu orang yang wafat, berkali-kali.

Sering mengimami hingga 20 sekian kali. Makin sering, makin banyak yang menyalati, makin banyak yang mendoakan, semakin bagus untuk jenazah.

“Sebab tidak tiap hari kita melakukan shalat jenazah, barangkali ada yang lupa, saya terangkan shalat ini, yang paling praktis.”

“Yang lazim dengan 4 kali takbir:

Takbir I: Al-Fatihah

Takbir II: Shalawat. Yang paling pendek:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ
AllaaHumma sholli ‘alaa Muhammad, wa aali Muhammad.

Takbir III: Doa bagi jenazah. Paling pendek:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
AllaaHumaghfir laHu warhamHu wa ’aafiHi wa’fuanHu.

Takbir IV: Doa untuk yang wafat dan bagi kita semua. Terpendek:

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَ اغْفِرْ لَنَا وَلَهُ
AllaaHumma Laa tahrimnaa ajraHu, wa laa taftinnaa ba’daHu, wahgfirlanaa wa laHu.”

Demikian, saya menerangkan. Shalat pun dilaksanakan.

Catatan:
Bacaan lengkap untuk setelah takbir ke-2, ke-3 dan ke-4; jika diperlukan, akan ditulis di lembar terpisah.

Kita menggunakan dhamir/pronoun/kata ganti “Hu”, sebab yang di-shalatkannya laki2, 1 orang. Hu dalam bahas Arab; bahasa Inggrisnya “him”; artinya: dia, 1 orang, laki-laki.

Jika yang wafatnya perempuan, kata “Hu” diganti dengan “Haa”. Haa dalam bahasa Arab; bahasa Inggrisnya “her”; artinya: dia, 1 orang, perempuan.

Jika yang di-shalatkan 2 orang, apa pun gendernya (keduanya pria/wanita/campuran), kata “Hu/Haa” diganti “Humaa”.

Apabila jenazahnya lebih dari 2 orang, dan salahsatunya atau semuanya pria, kata ganti yang digunakan: “Hum”, artinya mereka semua.

Tapi, kalau perempuan semua, “Hum” itu menjadi “Hunna”, mereka perempuan.

Karena urusan ke toilet dulu, kami tiba di area pemakaman, pada barisan terakhir.

Heru, teman dekat almarhum sejak kecil, dari depan lubang yang sudah disiapkan untuk mayat, berjalan cepat ke arah kami.

“Karena pembicaraan dengan pihak masjid rencana pemakaman, tadinya, bakda Ashar, minta tolong ya untuk menanam jenazah ke liang lahat!”

“Insya Allah.”

Pelan-pelan saya menuruni liang kubur sambil mengajak dua putra almarhum.

Saya memperagakan posisi tangan untuk menerima jenazah, dan meletakkan mayat di dalam kubur.

“Tolong buka semua tali di kain kafan. Simpan semua diujung kaki.”

“Yang di bagian kepala dan kaki, setelah talinya dibuka; juga, disingkapkan kepala dan telapak kakinya,” saya menambahkan.

Kapada Mas Heru yang berada di bibir lubang, “Tolong bola-bola tanah atau dikepal saja.”

Ini perlu untuk mengganjal bagian bawah badan agar tidak terguling; dan untuk diletakkan di atas kepala serta di bawah kaki –sehingga kulit kepala dan ujung kaki menempel pada dinding tanah makam.”

Kami menutupkan papan-papan, melindungi badan jenazah dari timbunan langsung tanah.

“Tolong tikar tadi, pegang ujung-ujungnya untuk menahan tanah dari menimpa langsung badan dan kaki yang memadatkannya.”

Ditarik teman-teman dari atas, saya naik ke permukaan tanah, berjalan menuju tempat yang iyup.

Terlihat keluarga dekat, kerabat, dan sahabat berbicara hal siapa yang akan menyampaikan sambutan atas nama keluarga. Beberapa orang melirik dan mengisyaratkan sesuatu. Saya maju dan menyampaikan kata-kata.

Dulu, waktu masih aktif bekerja, saat saya dinas ke Bandung; dari grup WA kantor, ada kabar bahwa ibunda dari Pak Harry Hermansyaf, wafat.

Almarhumah adalah istri dari Pak Sulaiman –yang nama beliau diabadikan menjadi nama Bandara Sulaiman di Jln. Kopo Margahayu, Bandung Selatan.

Saya datang ke rumah duka; dan menghantar ke peristirahatan terakhir di Jalan Karang Anyar. Di kompleks ini, dimakamkan para bupati, patih, dan bangsawan Bandung lainnya.

Ada dua tanah pemakaman para menak Bandung: di belakang Masjid Raya, dan di sini.

Selesai pekerjaan pemakaman, tibalah waktu pihak keluarga menyampaikan sepatah dua patah kata. Pak Harry berbisik, “Tolong Pak Jonih saja, ya, yang menyampaikan sambutan.” Saya mengangguk.

Beberapa tahun lalu, Kang Rony Nurzaman, Wanandri 002, 1 dari 6 orang pendiri klub pendaki gunung dan penjelajah hutan terkemuka di Indonesia, meninggal dunia.

Kang Rony adalah suami Ceu Uut –dosen Planologi ITB dan kakak sepupu istri saya.

Selang beberapa bulan, Ceu Uut menyusul suaminya.

Di area peristirahatan terakhir keduanya, saat pemakaman, saya diminta mewakili keluarga, menyampaikan sambutan.

Seorang Bu Dokter di Depok bertemu saya di sebuah acara pernikahan. Beliau pun pernah bersilaturami ke Ciomas. Ketika suaminya dirawat di RSPAD, saya menjenguknya.

Waktu suaminya wafat, saya yang masuk ke lubang kubur, menanam jenazah di liang lahat. Saya pun diminta menyampaikan sambutan atas nama keluarga.

Ketika istri seorang kawan dimakamkan di Al-Azhar memorial Park, kurang 1 orang untuk meloncat ke lubang pemakaman. Saya mengangkat tangan kanan, menawarkan tenaga.

Demikian sering saya lakukan saat-saat pemakaman saudara, kerabat, sahabat di Bandung dan area Jabodetabek.

Tak lain, sekadar menyumbangkan apa yang saya bisa, walaupun tak seberapa; dan meringankan beban bagi yang memerlukan bantuan.

Ciomas, 25 Juli 2025; baklda Isya. Salam, Jr.

MENDADAK MENYALATKAN, MENGUBURKAN, DAN MEMBERIKAN SAMBUTAN DI PEMAKAMAN

Kamis kemarin; selesai shalat Subuh bersama anak-anak yatim/duafa Ar-Rahmah, saya membaca wirid dan menyampaikan doa yang banyak serta panjang, sekitar 40 menit; hp dibuka.

Beberapa pesan do WA, at glance, saya baca; dan berkirim dua WA. Lalu -agar dalam mengerjakan shalat Syuruq, kaki, tangan, wajah, dan kepala terasa segar- saya memperbaharui wudhu.

Telepon genggam berbunyi. Seseorang dari Cilegon, Banten, sambil terisak, mengabarkan, “Triono meninggal.”

Kepada istri yang sedang -ngasih_ makan marmut dan sugar glider, saya berkata, “Harus ke Bandung sekarang, Mas Tri meninggal dunia.”

Menjelang waktu Zhuhur, kami tiba di Sayati, Bandung Selatan. Lantaran perginya buru-buru, Sri –istri saya, lupa bawa tongkat.

Kami mencari dulu apotik atau toko alat kesehatan, untuk membeli tongkat. Toko-toko obatnya banyak, tapi stok alat bantu berjalan itu, kosong.

Di rumah duka, di Margahayu Permai, Jln. Kopo; di dalam rumah, teras, dan halaman, hingga jalan kompleks, tamu berkerubung.

Pada ruang depan, sesosok jenazah sudah dibaringkan.

Kepada yang duduk di sekitar mayat, terhadap yang berada di ruang dalam, mereka yang di teras, pun yang di jalan depan rumah; saya bersuara agak keras

“Bagi yang mau menyalatkan, silakan ambil wudhu, kita shalat jenazah. Saya imamnya.”

Jemaah memenuhi ruangan, siap melaksanakan shalat.

“Masih ada yang sedang berwudhu!” seseorang berkata.

“Tak apa, kita jalan dulu saja. Nanti, saya imami lagi bagi yang belum siap.”

Saya biasa mengimami shalat jenazah, untuk satu orang yang wafat, berkali-kali.

Sering mengimami hingga 20 sekian kali. Makin sering, makin banyak yang menyalati, makin banyak yang mendoakan, semakin bagus untuk jenazah.

“Sebab tidak tiap hari kita melakukan shalat jenazah, barangkali ada yang lupa, saya terangkan shalat ini, yang paling praktis.”

“Yang lazim dengan 4 kali takbir:

Takbir I: Al-Fatihah

Takbir II: Shalawat. Yang paling pendek:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ
AllaaHumma sholli ‘alaa Muhammad, wa aali Muhammad.

Takbir III: Doa bagi jenazah. Paling pendek:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
AllaaHumaghfir laHu warhamHu wa ’aafiHi wa’fuanHu.

Takbir IV: Doa untuk yang wafat dan bagi kita semua. Terpendek:

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَ اغْفِرْ لَنَا وَلَهُ
AllaaHumma Laa tahrimnaa ajraHu, wa laa taftinnaa ba’daHu, wahgfirlanaa wa laHu.”

Demikian, saya menerangkan. Shalat pun dilaksanakan.

Catatan:
Bacaan lengkap untuk setelah takbir ke-2, ke-3 dan ke-4; jika diperlukan, akan ditulis di lembar terpisah.

Kita menggunakan dhamir/pronoun/kata ganti “Hu”, sebab yang di-shalatkannya laki2, 1 orang. Hu dalam bahas Arab; bahasa Inggrisnya “him”; artinya: dia, 1 orang, laki-laki.

Jika yang wafatnya perempuan, kata “Hu” diganti dengan “Haa”. Haa dalam bahasa Arab; bahasa Inggrisnya “her”; artinya: dia, 1 orang, perempuan.

Jika yang di-shalatkan 2 orang, apa pun gendernya (keduanya pria/wanita/campuran), kata “Hu/Haa” diganti “Humaa”.

Apabila jenazahnya lebih dari 2 orang, dan salahsatunya atau semuanya pria, kata ganti yang digunakan: “Hum”, artinya mereka semua.

Tapi, kalau perempuan semua, “Hum” itu menjadi “Hunna”, mereka perempuan.

Karena urusan ke toilet dulu, kami tiba di area pemakaman, pada barisan terakhir.

Heru, teman dekat almarhum sejak kecil, dari depan lubang yang sudah disiapkan untuk mayat, berjalan cepat ke arah kami.

“Karena pembicaraan dengan pihak masjid rencana pemakaman, tadinya, bakda Ashar, minta tolong ya untuk menanam jenazah ke liang lahat!”

“Insya Allah.”

Pelan-pelan saya menuruni liang kubur sambil mengajak dua putra almarhum.

Saya memperagakan posisi tangan untuk menerima jenazah, dan meletakkan mayat di dalam kubur.

“Tolong buka semua tali di kain kafan. Simpan semua diujung kaki.”

“Yang di bagian kepala dan kaki, setelah talinya dibuka; juga, disingkapkan kepala dan telapak kakinya,” saya menambahkan.

Kapada Mas Heru yang berada di bibir lubang, “Tolong bola-bola tanah atau dikepal saja.”

Ini perlu untuk mengganjal bagian bawah badan agar tidak terguling; dan untuk diletakkan di atas kepala serta di bawah kaki –sehingga kulit kepala dan ujung kaki menempel pada dinding tanah makam.”

Kami menutupkan papan-papan, melindungi badan jenazah dari timbunan langsung tanah.

“Tolong tikar tadi, pegang ujung-ujungnya untuk menahan tanah dari menimpa langsung badan dan kaki yang memadatkannya.”

Ditarik teman-teman dari atas, saya naik ke permukaan tanah, berjalan menuju tempat yang iyup.

Terlihat keluarga dekat, kerabat, dan sahabat berbicara hal siapa yang akan menyampaikan sambutan atas nama keluarga. Beberapa orang melirik dan mengisyaratkan sesuatu. Saya maju dan menyampaikan kata-kata.

Dulu, waktu masih aktif bekerja, saat saya dinas ke Bandung; dari grup WA kantor, ada kabar bahwa ibunda dari Pak Harry Hermansyaf, wafat.

Almarhumah adalah istri dari Pak Sulaiman –yang nama beliau diabadikan menjadi nama Bandara Sulaiman di Jln. Kopo Margahayu, Bandung Selatan.

Saya datang ke rumah duka; dan menghantar ke peristirahatan terakhir di Jalan Karanganyar. Di kompleks ini, dimakamkan para bupati, patih, dan bangsawan Bandung lainnya.

Ada dua tanah pemakaman para menak Bandung: di belakang Masjid Raya, dan di sini.

Selesai pekerjaan pemakaman, tibalah waktu pihak keluarga menyampaikan sepatah dua patah kata. Pak Harry berbisik, “Tolong Pak Jonih saja, ya, yang menyampaikan sambutan.” Saya mengangguk.

Beberapa tahun lalu, Kang Rony Nurzaman, Wanandri 002, 1 dari 6 orang pendiri klub pendaki gunung dan penjelajah hutan terkemuka di Indonesia, meninggal dunia.

Kang Rony adalah suami Ceu Uut –dosen Planologi ITB dan kakak sepupu istri saya.

Selang beberapa bulan, Ceu Uut menyusul suaminya.

Di area peristirahatan terakhir keduanya, saat pemakaman, saya diminta mewakili keluarga, menyampaikan sambutan.

Seorang Bu Dokter di Depok bertemu saya di sebuah acara pernikahan. Beliau pun pernah bersilaturami ke Ciomas. Ketika suaminya dirawat di RSPAD, saya menjenguknya.

Waktu suaminya wafat, saya yang masuk ke lubang kubur, menanam jenazah di liang lahat. Saya pun diminta menyampaikan sambutan atas nama keluarga.

Ketika istri seorang kawan dimakamkan di Al-Azhar memorial Park, kurang 1 orang untuk meloncat ke lubang pemakaman. Saya mengangkat tangan kanan, menawarkan tenaga.

Demikian sering saya lakukan saat-saat pemakaman saudara, kerabat, sahabat di Bandung dan area Jabodetabek.

Tak lain, sekadar menyumbangkan apa yang saya bisa, walaupun tak seberapa; dan meringankan beban bagi yang memerlukan bantuan.

Ciomas, 25 Juli 2025; baklda Isya. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar