Mendaftar Haji Karena Malaikat Cinta

“Tadi, pas kami di restoran, Pak Jonih, ada satu jamaah haji kami, seorang ibu muda, usianya 40 tahunan. Suami ibu ini, Pak Azman, namanya.”

Sahabat saya, Ust. Abu Bakri, setelah menyampaikan salam dan bertanya kabar, siang, bakda Zuhur, mengirim pesan.

“Nah, ibu ini bercerita kepada saya langsung, karena kebetulan ia jamaah saya. Di antara yang membuat beliau pergi haji adalah karena membaca buku Pak Jonih: Malaikat Cinta.,” Ustaz rendah hati ini, menambahkan.

“Setelah membaca buku itu, ia  terketuk hatinya untuk melakukannya dan mendaftar haji. Masya Allah!” pengajar di Pondok Pesantren Wadi Mubarak, Megamendung, Puncak, ini melengkapi.

“Ini salah satu jariyah Pak Jonih,” pembimbing haji itu mendoakan saya.

“Dulu, Pak Jonih bercerita kepada saya berkaitan buku Malaikat Cinta. Masya Allah,  di kota Makkah ini, Allah pertemukan saya dengan jamaah haji, pembaca buku Malaikat Cinta, yang kebetulan saya yang membimbingnya.”

Beliau mendaftar haji dikarenakan -salah satunya- melalui buku Pak Jonih. Jazakallahu khairan
,” Ustaz menekankan.


Seorang sahabat, dosen di sebuah universiotas ternama di Jakarta, melakukan penerbangan dari Amerika Serikat ke Canada. Di samping dia, penumpang lain –dalam penerbangan itu- asyik membaca sebuah buku.

“Buku apa yang dia baca? Malaikat Cinta!” ia berkata kepada saya.

Seorang kawan di Depok, istri dari seorang sahabat, mempunyai teman akrab yang menetap di negeri Paman Sam.

Tak lama setelah buku pertama saya terbit, dalam sebuah percakapan, ia  bercerita tentang sebuah buku haji yang agak beda kepada sohibnya itu.

Temannya dari Amerika memotong, ”Buku Malaikat Cinta, kan? Aku sudah baca!”


Asep dan Hera, suami istri, kerabat kami dari Bandung Selatan, suatu hari naik haji.

Teman satu KBIH-nya, orang Dago, di tanah suci, mengisahkan tentang sebuah buku haji yang unik. Dengan bersemangat, pasangan dari Bandung Utara itu menceritakan isi buku.

Hera dan Asep saling melirik. Keduanya sudah menduga apa judul buku itu.

Usia pasangan haji ini bercerita, Hera mengeluarkan hp dan membuka galeri di ponselnya. “Buku ini bukan?”

“O, Bu Hera punya?”

Hera kembali membuka fail lainnya dari foto-foto di telepon genggam yang ia punya.

Sambil memperlihatkan foto dirinya bersama saya, ia berkata penuh suka, “Ini penulisnya. Saudara kami.”


Seorang teman, aktivis pengajian, sering bertemu di berbagai seminar keagamaan di Ibu Kota, suatu hari menelepon saya:

“Tadi, Ustaz ceramah di kantor kami, “ sambil menyebut nama seorang ustaz senior dari Jakarta Utara, ia melanjutkan:

“Ustaz bilang, ‘Seharusnya, semua orang Indonesia, sebelum pergi haji, membaca bukunya Pak Jonih, Malaikat Cinta!’”

Membaca buku itu, ribuan orang meneteskan air mata.

Di bawah ini, saya kirimkan kembali kepada teman-teman, kesaksian dari sebagian pembaca buku pertama saya –yang National Best Seller: *MALAIKAT CINTA –Sisi Lain Ibadah Haji yang Menyentuh Hati.*


“Luar biasa. Bagus banget!” (*Maya, Bandung*).

“Sudah banyak buku yang membahas dan menceritakan perjalanan haji. Tapi buku ini unik, memiliki tempat tersendiri.” *(Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah)*.

“…sangat inspiratif untuk permenungan dan menjadi contoh luar biasa tentang kepedulian.”
*Pendeta Tumpal Tobing, GKI Pondok Indah*

“Saya sudah selesai membaca Malaikat Cinta. Seperti membaca sebuah keajaiban.” *(Doddy Priambodo,  petroleum explorationist).*

“… ceritanya seru dan very inspiring.” *(Erry Ferliani, Jakarta).*

“Buku tentang berhaji yang bahkan untuk saya yang tidak wajib berhaji terasa begitu inspiratif. Keluwesan bertutur dan keluasan cakrawala pengetahuan penulis membuat buku ini amat layak Anda baca  
hingga titik terakhir!”
*Anang Y.B., penulis buku autokritik “Sandal Jepit Gereja” & pengelola http://www.GhostwriterIndonesia.com*.

“Membaca pengalaman haji Kang Jonih, saya meneteskan air mata.”
*(Helmy Djamil, Singapura).*

“Tuhan bersabda, ‘Mintalah, maka itu akan diberikan kepadamu’ (Luk11: 9). Pengalaman penulis menunaikan ibadah haji merupakan bukti bagaimana Tuhan menepati sabda-Nya. Dituturkan dengan ringan namun penuh makna.

Buku ini merekam perjalanan seorang hamba ke rumah Tuhannya dan menginspirasi pembacanya, tidak hanya umat Islam, untuk juga melakukan peziarahan mereka sendiri.”
*Woro Ireng Renoati, psikolog.*

“Ibadah haji sesungguhnya adalah perjalanan cinta seorang hamba menuju Sang Maha Pencinta. Dan ketika cinta yang menjadi landasannya maka segala keajaiban akan terjadi.

Dengan gaya bahasa bertutur yang mengalir lancar, Jonih membuktikan berbagai keajaiban yang ia alami sendiri. Sesuatu yang bisa terjadi pada siapa saja yang melakukan sesuatu dengan penuh cinta.

*Arvan Pradiansyah, penulis best seller “The 7 Laws of Happiness” & Narasumber talkshow Smart Happiness di SmartFM Network.*

“Memang dahsyat …” *(Utin Tita, dokter).*

“Saya sudah mulai membacanya. Amat menarik.” *(Ratna Sulastin, Australia).*

“Sejujurnya saya sampaikan,  ‘Jadi ingin pergi haji lagi!’” *(Benny Bensaman, Papua).*

“…pengalaman yang berbeda; membuat yang baca semakin semangat untuk pergi haji. Buku ini, juga, bisa mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik.” *(Inayah Kaniasari, Majalengka).*

”Imajinasi saya langsung turut merasakan kehadiran di lokasi bagaikan kamera!” *(S. Budhiharto, Bandung).*

“Ingin tertawa, ingin menangis juga. Bahasanya sederhana, namun penuh ‘pengalaman mistis”’.
*Arif Mulyadi,  penulis buku laris “Dicintai Allah dengan Shalawat”.*

“Buku ini menggiring saya untuk makin bergelora agar segera berkunjung ke tanah suci. Haru, senang, sedih, dan takjub; disajikan dengan rancak oleh penulisnya.”
*Dodi Mawardi, penulis buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”.*

“Ada rasa bahagia dan luar biasa yang bisa saya rasakan dengan pengalaman Bapak dan Ibu. Ceritanya ringan tapi memberi kesan yang mendalam sekali. …You’re my inspiration!” *(Yuni, Jakarta).*

“Malaikat Cinta memaksa air mata mengalir membasahi setiap relung hati.” *(Zaenal Abidin, pendidik).*

“Kisahnya mengharukan, menyentuh kalbu, menggugah rasa, mampu menginspirasi dan menggerakkan Anda untuk semakin mencintai Nabi dan Sang Pencipta. Anda juga akan menemukan puisi rohani dan doa-doa yang sangat indah dan bisa Anda gunakan.”
*Gramedia.com.*

“… indah bahasanya, dan ada hikmah luar biasa di dalamnya. Sebuah pembelajaran riil dalam merefleksikan cinta kasih antara sesama manusia dan antara manusia dengan Allah Swt.” *(Sutopo Yuono, geologist)*

“Saya Ibu Dede dari Bandung. Baru selesai membaca buku Malaikat Cinta karya Ustaz. Tak henti air mata mengalir ketika membacanya. Ingin rasanya saya bertemu dengan Ustaz dan Keluarga….”


“Banyak buku tentang haji yang saya baca, tapi ini berbeda. Gaya bahasanya, saya suka sekali!”
*Wiwien Penangsang, ibu rumah tangga.*

“…very inspiring, very complete of information, guidance book bagi yang mau berangkat haji. Saya sarankan teman dan keluarga baca buku ini.”
*(Wiwik M. Iban, praktisi SDM).*

“Sangat inspiratif, enak dibaca, dan banyak membuka wacana bagaimana kita hidup dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna.
Pengalaman penulis juga banyak menginspirasikan dan mengajarkan kita apa arti kebahagiaan dan bagaimana mencari kebahagiaan.” *(Sonny T. Sampurno, praktisi perminyakan).*

“Maka nikmat  dari  Tuhanmu … siarkanlah.”  (Q.S. Adh-Dhuha  93:11). Membaca buku Malaikat Cinta, terasa sekali Kang Jonih dengan  jujur  dan tulus -yang lahir dari Kecerdasan Qolbunya- sedang berbagi dan memberitakan nikmat dari Allah yang dialaminya ketika menunaikan Ibadah Haji. Karena itu, saya dapat  ikut merasakan kenikmatan yang dirasakannya.
*(Arman  Rachman – Motivator dan Konseptor Kecerdasan Qolbu).*

Sudah berkali-kali saya menamatkan buku Malaikat Cinta, tapi tak pernah bosan untuk terus membacanya berulang-ulang. Ke mana pun saya pergi, buku itu selalu saya bawa.
*Ibu Dewi, Kendari*

“Saya sulit mengeluarkan air mata. Seumur hidup, baru dua kali saya menangis. Pertama, waktu bapak saya wafat; dan kedua, ketika saya membaca Malaikat Cinta,” *Eksekutif indutsri hulu migas*

Seorang praktisi hukum yang lulus _magna cumlaude_ dari sebuah universitas di Eropa, ketika suatu malam berjumpa di Kota Kembang, berkata, “Bukunya bagus sekali! Saya sudah tiga kali menamatkannya,”
*Pengacara sebuah kantor hukum terkemuka,*

“Ada ajaran agama berupa teks Kitab Suci yang kita amalkan menjadi ibadah lahiriah formal, lalu kita sertai dengan kontemplasi yang mendalam sehingga menjadi pengalaman spiritual yang transendental.

Kemudian, dimanifestasikan berupa cinta terhadap sesama menjadi karya-karya sosial; maka sempurna-utuhlah agama itu. Jonih sudah melakukan dan mengalami itu semua.

Ia telah merasakan nikmatnya beragama yang penuh makna, bukan semata citra; agama yang kemesraan bersahabat dengan Tuhan  sama indahnya dengan kemesraan bercengkrama dengan anak yatim dan fakir miskin; agama yang rahasia  Tuhan menjelma menjadi tawa ceria kaum dhuafa.

Jonih sudah bisa bercanda dengan Allah. Dengan buku ini Jonih membukakan pilihan bagi kita bagaimana memaknai haji: sekadar ritualisme  berbalut shopping atau dengan jihad berbalut takwa dengan pulang membawa oleh-oleh cinta universal.”
*Ustaz Wahfiudin.*

Tinggalkan komentar