Menyembunyikan Sakit

MENYEMBUNYIKAN SAKIT
Dan, Minta Didoakan Orang Sakit

“Setiap hari Kamis, saya selalu mengunjungi kawan2. Apalagi, jika mendengar ada yg sakit,“ seorang senior mulai bercerita.

“Ketika mengunjungi teman2 yg sakit, terlihat mereka senang. Di antara kawan2 ini, ada juga yg curhat hingga- , mengeluarkan air mata.”

“Apakah kunjungan sy positif? Mengingat, kata keluarganya, setelah saya berpamitan, ia menangis.”

“Ditanyakan kepada istrinya hal apa sakit yg diderita, dibilang sakit kanker hati. Sdh lama, 3 tahunan. Saat ditanya,’Kenapa enggak bilang2?’”

“Jawabnya, ‘Takut ngerepotin!’”

“Ada juga seorang sahabat; sering ketemuan. Beberapa bulan sebelum wafat, ia masuk RS, terserang kanker prostat. Rupanya, ia sakit sudah lebih dari 7 tahun.”

Bersama kawan2, saya menjenguknya. Sudah sekian tahun sakit, kami teman2 dekatnya, kok tidak tahu.

“Mengapa tidak kirim kabar?”

“Jawabannya sama,’Takut merepotkan.’”

“Skrng juga, ada seorang teman yg menyembunyikan penyakitnya; dan wanti2 agar tidak disebarkan perihalnya.”

Pertanyaan saya, “Mengapa penyakit mesti disembunyikan?”

“Jika diberitahukan ke teman², dipandang dari sudut kemanusian dan agama, apa positif dan negatifnya?”

“Saat ini, saya sedang di kendaraan. Nanti, kalau sudah sampai rumah, akan dibaca,” saya merespons pesan via WA itu.

Sekarang, kami sudah di rumah. Dan , inilah jawaban saya:

Bagi sebagian orang, menderita suatu penyakit adalah “kelemahan” Karenanya, kecuali keluarga dekat, ia tidak ingin orang lain tahu.”

Kadang, apabila orang pada datang menjenguknya, ada rasa khawatir, hal itu membuat mereka repot.

Kalaupun memberi tahu akan sakitnya; hanya orang2 tertentu yg dikabari.

Oleh karena itu, banyak yang sakit, tidak ingin orang2 tahu kalau dia sedang tidak sehat.

Sebaliknya, dan pada umumnya, ketika seseorang sakit; merasa senang ketika teman2nya datang; menjenguk dan mendoakan mereka.

Oleh karena itu, apabila menjenguk kawan yg sakit, bahkan kepada yg ditinggal pergi salah satu anggota keluarganya; saya suka tanya, “Apakah boleh saya kabarkan kepada teman2?”

Ketika menjenguk orang sakit, atau melayat yg wafat; saya pun tidak berinisitif mengambil gambar; kecuali atas permintaan tuan rumah atau teman2 mengajak berfoto.

Menurut hemat saya, berfoto adalah bagian dari suka cita; sementara yg sedang kena musibah sedang berduka.

Akan halnya mengunjungi orang sakit, “Apakah hal itu kegiatan positif atau negatif?”

“Tentu saja, positif. Menjenguk yg sakit, menghibur mereka, berpotensi menambah cepat sembuh.”

Berbicaralah hal2 yg menyenangkan, yg membuat dia gembira. Jangan bercerita yg serem2!

BTW saya infokan kepada terman2 –barangkali ada yg belum mengetatahuinya; dan semoga menjadi bermanfaat:

Apabila menjenguk orang sakit, selain mendoakan untuk kesembuhannya; juga bisa memanfaatkan “kesempatan” ini: minta didoakan oleh yg sakit.

Tapi, sebelum minta didoakan, sampaikan dulu bahwa doa orang yg sakit, lebih mustajab dan lebih cepat dikabulkan ketimbang doa orang2 sehat.

Jika tidak, si sakit bisa berpikiran, “Ini orang tidak tahu diri, tahu gue lagi sakit gini, eeeh…dia malah minta didoain !

Kalau kata orang Indramayu, “Kang bener bae, jeh!!!

Bagaimana ngasih tahunya?

Ada hadits:

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا دخلت على مريض فمره فليدع لك، فإن دعاءه كدعاء الملائكة

Dari Umar bin Khatab رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Bila kamu mengunjungi orang sakit, mintalah ia untuk mendoakanmu, karena sesungguhnya doa mereka sama dengan doa malaikat.” (HR. Ibnu Majah dan lainnya).

Ciomas, 25/12/25, masih waktu Dhuha. Salam, Jr._

Tinggalkan komentar