
Dari Gd. PUSDAI, Jln. Diponegoro, Bandung – sehabis menghadiri pernikahan seorang putra sahabat, sy berjalan kaki 500 -an meter ke utara (arah Gasibu/Gd. Sate), mampir. di sebuah gedung yg dulu -“zaman kuda blm berbulu”, hari2 datang ke situ, membaca buku2 & mempelajari peta2, sambil melihat “pemandangan masa silam yg lama, jutaan tahun lalu”, yg direkam di museum.
Museum Geologi, waktu itu, sepi sekali. Mungkin, sebab kata geologi relatif masih asing di kuping.
Mendengar sy sekolah di universitas, seorang tetangga bertanya, “Kuliah di mana?”
“Geologi.”
“Ooo…Biologi.”
Kini, nyaris tiap hari, khususnya pada Sabtu-Minggu, ratusan pengunjung, dari berbagai kalangan, rupa2 usia, asal aneka kota… mendatanginya.
Jauh sekali, sblm itu, pada pelajaran Geografi di SMPX, Pak Dadang bercerita tentang batu2.
Bbrp hari kemudian, dg diantar ayahnya naik Toyota Hardtop warna hijau, Tono -teman sekelas, mengajak serta saya melihat batu2 di Museum Geologi.
Seorang sahabat di SMA7, ketika orang2 mulai bicara hal jurusan2 kuliah, berkata, “Sy mah mau cari jurusan kuliah yg kalau sdh lulus, kerjanya enggak di blkg meja, duduk terus. Sy ingin kerja di lapangan. Ia juga bercerita tentang seorang saudaranya yg bekerja di Direktorat Geologi. “Dia, asyik, ke lapangan terus!”
Menyadari kondisi ekonomi orangtua -yg sangat repot, selepas SMA, sy tidak ada rencana utk mendaftar ke universitas. Mau cari kerja saja Tapi, dlm hati berkata, ” “Sangat ingin mengalami, bagaimana rasanya mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi.”
Waktu kelas 3 SMA, suatu hari, seorang teman yg tinggal di belakang rumah kami, yg barusan mengikuti Tes Perintis I, membawa soal tes bhs Inggris. Sy coba kerjakan. Dari 50 soal, salah 3.
Angan2 berkata, “Seandainya, bisa kuliah, sy ingin daftar ke Geologi atau Sastra Inggris.”
Sy bljr bhs Inggris dari Radio Australia, BBC -British Broadcasting Corporation, & VOA – the Voice of America, serta dari bule2 di Jln. Braga.
Seorang kawan membelikan formulir tes masuk Perguruan Tinggi.
“Mempertanggung-jawabkan” biaya pendaftaran itu, utk menghadapi tes masuk perguruan tinggi, sy bljr sangat ketat. Tiga hari 3 malam menjelang hari tes, sy tidak tidur. Hanya istirahat saat mau makan & ketika shalat; belajar & terus belajar.
Satu pagi, seorang tetangga yg berlangganan surat kabar, di depan rumah, berteriak-teriak: “Ada nama Jonih di koran. Jonih diterima di geologi!”
Atas berkat rahmat Tuhan yang Mahakuasa, sy bisa kuliah. Dan, walau dg tertatih-tatih, alhamdulillah, akhirnya bisa selesai, hingga diwisuda.
Tuhan karuniakan kepada kami, sy bisa bkrj di perusahaan besar, yg dgnya, a.l., mengenal banyak kampung & gunung, desa & kota, hingga negara2.
Ada pepatah Arab: “Man Jadda wajada”.
Para orangtua di Jawa Barat bilang: Lamun keyeng, tangtu pareng.
“Di mana ada kemauan, di sana ada jalan.”
“Dan orang2 yg ber-sungguh2 di jalan Kami, benar2 akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan2 Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69).
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (QS. Ath-Thalaq:2).
Dlm prjln Bdg-Bgr, 27/12/25; bakda Zuhur. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar