Musibah

Sabtu, 9 November 2024, badai angin menerpa Cimahi; sehari kemudian, di Depok dan kota-kota lainnya terjadi hujan angin. Banyak bangunan rusak, beberapa rumah dan pepohonan roboh.

Kemarin, Senin, 11 November, di KM 92 Tol Cipularang arah Jakarta, terjadi tabrakan beruntun, 19 kendaraan terlibat menabrak atau ditabrak.  Beberapa terluka, ada korban jiwa, belasan mobil rusak berat.

Musibah dan bencana, kecelakaan lalu lintas maupun benca alam, terjadi di mana-mana.

Dalam konteks bencana alam, posisi dan kondisi geologi Indonesia -selain kaya akan berbagai jenis barang tambang, minyak, dan panas bumi- pun keindahan alam berupa gunung, lembah, sungai, danau, dan lautan; sekaligus juga menyimpan potensi kebencanaan yang padat.

Oleh sebab itu, lebih diperlukan lagi upaya untuk meminimalkan efek yang mungkin timbul dari peristiwa alam ini. Pemerintah bersama organisasi2 profesi terkait, terus melakukannya.

Usaha dari masing2 warga, di samping mengikuti arahan aparat berwenang, secara agama, dianjurkan untuk berdoa.

Seorang kawan, kalau naik pesawat, ia ketakutan. Di benaknya, terbayang peristiwa2 yang menimpa penerbangan.

Saya tanya dia, “Kamu hapal doa naik kendaraan?”

“Tidak.”

“Selamat atau celaka dalam suatu perjalanan, itu rahasia Tuhan. Tak seorang pun tahu. Tapi, kalau didahului dengan berdoa, kita sudah mengikuti SOP _Standard Operating Procedure_ yang Tuhan berikan. Selebihnya, biar Dia yang _tackle_.”

Dengan demikian, selama melakukan penerbangan, tidak usah lagi disibukkan dengan pikran macam-macam.”

Segala sesuatu, baik yang terjadi di bumi maupun pada diri kita sendiri, sudah merupakan ketentuan Yang Mahakuasa

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ
أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
_Maa ashaaba min-mushiibatin fil-ardhi wa laa fii anfusikum_  _illaa fii kitaabin-min qabli_
_an nabra-aHaa_ ; _inna fii dzaalika ‘alallaaHi yassiir_

*“Tiada suatu musibah pun* yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh), sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadiid: 22).

Kita bisa membaca doa, misalnya:

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فىِ اْلاَرْضِ وَلاَ فىِ السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعِ اْلعَلِيْمِ
_BismillaaHilladzii laa yadhurru ma’asmiHi syai’un fil-ardhi wa laa fissamaa’i, wa Huwas-samii’ul-‘aliim_

“Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya, *tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan tidak juga di langit*; dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

“Tidaklah seorang hamba mengucapkan *setiap pagi* dari setiap harinya dan *setiap petang* dari setiap malamnya kalimat: _*‘BismillaaHilladzii laa yadhurru ma’asmiHi syai’un fil-ardhi wa laa fissamaa’i, wa Huwas-samii’ul-‘aliim”* sebanyak 3 x, maka *tidak akan ada apa pun yang membahayakannya.”* (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah).


Karena takdirnya, seandainya musibah itu datang, Rasulullah saw., mengajarkan kita untuk berdoa:

اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
_AllaaHumma’jurni fii mushiibati wa akhlif lii khairan minHaa_.

“Ya Allah, berilah pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku; dan berilah gantinya untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”

Kalimah ini, didahului dengan membaca:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
_Innaa lillaaHi wa innaa ilaHi raajiuun_

Dari Ummu Salamah ra., istri Nabi saw. Dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah ada seorang hamba yang musibah mengenainya, lalu dia mengatakan: _Inna lillaaHi wa innaa ilaiHi raaji’un_ _AllaaHumma’jurni fii mushiibati wa akhlif lii khairan minHaa_, kecuali *Allah memberinya pahala pada musibahnya dan mengganti untuknya dengan sesuatu yang lebih baik darinya*.”

Ummu Salamah berkata, “Tatkala Abu Salamah wafat, aku mengucap sebagaimana Rasulullah saw. memerintahkanku, maka Allah pun menggantinya untukku dengan yang lebih baik: Rasulullah saw. [HR. Muslim].

Al-Quran menyebutkan bahwa di antara ciri orang2 yang mendapatkan kabar gembira lantaran kesabarannya dalam menghadapi musibah:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
_Alladziina idzaa ashaabatHum mushiibaH, qaaluu innaa lillaaHi wa innaa ilaHi raajiuun_

“…(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: *‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’”*

Ujian berupa musibah –walau kita tidak mudah memahaminya, juga adalah salah satu bentuk kasih sayang Tuhan.

“Sesungguhnya *jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka*. Barangsiapa yang rida -terhadap ujian tersebut, maka baginya ridaAllah; dan barangsiapa yang marah, maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah At-Tirmidzi).

Kita tetap berdoa untuk keselamatan semuanya; dan kepada yang sedang menerima ujian ini, semoga Allah tambahkan kesabaran yang berlimpah; dan Allah berikan jalan keluar terbaik. Aamiin.


Ciomas, 12 November 2024; bakda Ashar. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar