“Di mana perbedaan antara rahmat dan cobaan? Tolong saya dikasih pencerahan?” seorang ibu dari Bintaro, Tangerang Selatan, awal bulan lalu, bertanya.
Perlu diuraikan dahulu, istilah atau kata-kata yang akan kita gunakan.
Kata musibah bisa berarti azab; dapat juga, bermakna rahmat
Menurut bahasa Indonesia, musibah adalah sebuah peristiwa yang merugikan, menyedihkan, dan menyengsarakan.
Sinonim untuk kata itu adalah bencana atau malapetaka.
Dalam bahasa Al-Quran dan Hadits, musibah tidak selalu bermakna negatif (merugikan/menyedihkan); tapi bisa juga suatu yang terasa positif.(mengembirakan).
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ
Tiada satu musibah pun yang terjadi di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) -sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al-Hadid: 22).
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ
(Kami jelaskan yang demikian itu), agar kamu tidak terlalu berduka terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlampau gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. (QS. Al-Hadid: 23).
Demikian pula dengan kata ujian atau cobaan; tidak semata keburukan/kesulitan/penderitaan, tapi bisa juga tampak sebagai kebaikan/kemudahan/kenyamanan.
وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً
“…Akan Kami uji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan…” (QS. Al-Anbiya:35)
Jadi, menurut Quran/Hadits, walaupun secara umum musibah atau cobaan berarti sesuatu yang buruk; tapi tak selalu demikian; bisa juga positif, tergantung konteksnya.
Lain halnya dengan azab; ia adalah siksa dari Tuhan yang diakibatkan oleh perbuatan dosa manusia.
Kebalikan dari azab adalah rahmat –kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya.
Dengan demikian, redaksi pertanyaannya, barangkali lebih tepat kalau ditulis:
“Apakah suatu musibah atau cobaan itu merupakan azab atau rahmat?”.
Suatu musibah jika disikapi dengan sabar, rida, disertai kesadaran bahwa itu adalah kehendak Allah; sehingga membuat seseorang semakin dekat kepada Sang Pencipta; ia menjadi rahmat.
Musibah bisa menjadi penghapus dosa –di satu sisi; dan posisi di hadapan Allah menjadi lebih mulia –pada sisi lainnya.
Akan tetapi, jika sesuatu bencana menimpa seorang yang suka berbuat dosa/zalim; itu adalah azab.
Tadi petang, sambil menunggu ponsel_ yang sedang diservis (hp mati dari Zuhur hingga Magrib), di Mall Jambu Dua, Bogor, saya jalan2 dari lantai satu ke lantai lainnya; dari basement hingga tingkat paling atas.
Di lantai Dasar, bertemu seorang sohib yg sudah lama sekali tak jumpa. Sekitar 1 jam, kami mengobrol tentang banyak hal.
Sejak beberapa tahu, kawan ini menerima cobaan tidak ringan, salah satu anggota indra dia terganggu fungsinya.
Sudah berbagai pegobatan dijalani; telah banyak dokter ia datangi; baik di dalam maupun di luar negeri.
Selama beberapa bulan sebelumnya, hampir tiap minggu -sebagai ikhtiar untuk penyembuhan- ia mesti naik pesawat ke negeri tetangga,
Bisa dibayangkan bagaimana repotnya dan besarnya biaya yg mesti dikeluarkan.
Tapi, dalam pembicaraan sejam tadi, dia menunjukkan wajah ceria. Ia merasakan ada hikmah dibalik musibah.
“Saya jadi bisa belajar nahwu-sharaf, menjadi lebih banyak waktu untuk belajar agama; pun makin terasa nikmatnya berkumpul dg keluarga.”
Alih-alih mengeluhkan musibah yang menimpanya; rasa syukur lebih terpancar di wajahnya..
“Saya merasa lebih dekat ke jalan ilahi.”
Mendengar ia bercerita, dalam hati, saya berkata kepada diri sendiri, ”Ini adalah rahmat. Alhamdulillah!”
Ketika ujian, cobaan, atau musibah disikapi dg cara seperti ini, bagi yang bersangkutan, ia menjadi rahmat.
Insya Allah, kasih-sayang Yang Maharahman-rahim, menyertainya.
Musibah, ujian, atu cobaan; juga -walau tak mudah kita memahaminya- boleh jadi merupakan bentuk kecintaan Allah kepada para hamba yang dipilih-Nya.
Di antara tanda seseorang dicintai Tuhannya, Allah berikan kepada mereka cobaan.
إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ
“Jika Allah mencintai suatu kaum. maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani).
أشد الناس بلاء الأنبياء, ثم الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل
“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi. Lalu, orang-orang salih. Kemudian, yang semisal mereka dan yang semisalnya” (HR. Ahmad).
Mereka adalah orang2 yg dicintai oleh Allah. Ujian yang menimpanya, itu untuk mensucikan dan mengangkat derajatnya.
Saya sampaikan juga 2 hal, tentang:
“Orang yg sakit, setiap hari, secara otomatis, dosanya berguguran; dan doanya lebih mustajab.”
Apabila menjenguk yg sakit, Nabi ﷺ menganjurkan, selain mendoakan kesembuhannya; juga, minta didoakan oleh yg sakit.
“Banyak hal berada yg di luar jangkauan kita. Ada penyakit2 yg secara medis, sulit sembuh; tapi atas rahmat Gusti Allah, penyakit itu bisa hilang sama sekali. Banyak contoh untuk hal ini. Jangan pernah berhenti berdoa!”
لا يُصِيبُ المُؤمِنَ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إلاّ رَفَعَهُ الله بِهَا دَرَجَةً وَحَطّ عَنْهُ بها خَطِيئَةً
“Tidaklah seorang mukmin ditimpa musibah baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa sedih, gangguan atau rasa gelisah sampai pun duri yang melukainya, melainkan dgnya Allah akan mengampuni dosa2nya. (HR. Bukhari dan Muslim).
عن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا دخلت على مريض فمره فليدع لك، فإن دعاءه كدعاء الملائكة
Dari Umar bin Khatab berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Bila kamu mengunjungi orang sakit, mintalah ia untuk mendoakanmu, karena sesungguhnya doa mereka sama dengan doa malaikat. (HR. Ibn Majah).
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
“Siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan, apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan?” (QS. An-Naml: 62)
Dan, bersama ujian, cobaan, musibah, atau kesulitan; Allah berikan kemudahan:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka, sesungguhnya, bersama kesulitan itu, ada kemudahan.” (QS. An Nashr: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya, bersama kesulitan itu, ada kemudahan.” (QS. An Nashr: 6)
Doa menghadapi ujian/cobaan/musibah:
إنّاَ للهِ وإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Innaa lillaaHi wa innaa ilaiHi raajiuun
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali.”(QS. Al-Baqarah: 156)
اللَّهُمَّ أجِرْنِي فِي مُصِيبَتي وأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْها
AllaaHumma’jurnii fii musHiibati wakhluflii khairan-minHaa
“Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti dg yang lebih baik daripadanya.” (HR. Muslim).
حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
HasbiyallaaHu laa ilaHa illaa Huwa ‘alaiHi tawakkaltu waHuwa rabbul arsyil-‘adziim
“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.” (QS. At-Taubah: 129).
Ciomas, 01/02/’26; menjelang tengah malam. Salam, Jonih Rahmat –Pengasuh anak2 yatim/duafa.
*Yayasan Ar-Rahmah menerima titipan untuk *paket2 sahur/buka* yatim/duafa:*
Paket A –sahur atau buka saja; untuk 50 orang yatim/duafa @Rp1,5 jt.
Paket B –sahur + buka: Rp3 jt.
Paket C –buka bersama yatim/duafa di Ciomas, Bogor; bawa nasi kotak 60.
Paket D –sembako utk sahur & buka 1 keluarga miskin, sebulan penuh: Rp4 jt.
Paket E –saung/mukena utk anak2 yatim/duafa; berapa pun jumlahnya.
Menerima titipan zakat, infak, shadaqah/zakat maal
Tinggalkan komentar