Bagian Pertama
“Kang Jonih, ya?” seorang berperawakan sedang, berkulit terang, (masih) ganteng, berambut pendek, beranjak dari tempat duduknya; sambil tersenyum, menyalami saya.
“ _Sumuhun. Sareng_ Dendy?” saya balas bertanya. Potongan wajahnya, kalau di angkatan 1977, mirip Dendy Koska, teman sekelas –yang cakep dan ramah, tapi sangat jarang muncul di pertemuan-pertemuan.
“ _Sanes_ , abdi Wawan. Angkatan ’74.”
Barangkali karena di samping sering _sharing_ artikel-artikel; juga suka berkirim foto-foto ketika saya mengisi berbagai acara, dan terutama saat piknik ke curug, sungai, gunung, atau lembah; beberapa orang –kendati belum pernah bertemu sebelumnya- mengenali wajah saya.
Sambil menoleh ke teman yang duduk di sebelahnya, ia berkata, “Ini Kang Jonih yang punya pesantren yatim di Bogor dan suka kirim tulisan di grup.”
Saya manggut-manggut saja, menghormati para senior.
“Acara ini pun, pasti ditulisnya.”
Kang Wawan, walau angkatannya 3 tahun di atas saya, tapi terlihat masih segar bugar dan wajahnya ceria. Mungkin ia rajin berolah raga, sering makan sayuran dan buah-buahan, serta hidupnya makmur.
“Tadi bertemu angkatan ’72, tapi masih gareulis,” KHT – Kang Haji Tono, dosen Usakti yang bersama Ceu Neng dan Alo Ida,sangat aktif mengumpulkan teman-teman untuk bersilaturahmi, bercerita.
“Di antara yang mempengaruhi segar tidaknya penampakan seseorang adalah kesehatan badan dan kesejahteraan jiwanya, “sok tahu, saya menimpali.
Minggu, 27 Oktober 2024, alumni SMPN X Bandung, mengadakan silaturahmi yang diberi judul: Nganjang ka Sakola, Jilid 2. Edisi sebelumnya diselenggarakan tepat 5 tahun lalu, di tempat yang sama.
Nganjang adalah bahasa Sunda, artinya berkunjung –untuk silaturahmi. Nganjang ka Sakola: berkunjung ke sekolah, tempat kami dahulu menuntut ilmu, saat SMP.
Menurut panitia, jumlah alumni yang sudah daftar untuk hadir di acara 600 -an orang. Silaturahmi ini dihadiri oleh lulusan tahun 1969 hingga 2024.
Dalam satu angkatan, ada yang hadir 1 alumnus saja, beberapa orang alumni, belasan, hingga 60-an orang.
Lulusan tahun 1977, terdaftar 53 alumni tapi pada saatnya, yang bisa hadir hanya 44 orang. Lumayan, saya bisa ketemu banyak teman.
Istilah angkatan, lazimnya adalah tahun masuk; tapi khusus yang dimaksud di sini adalah waktu kelulusannya.
Acara dimulai dengan jalan sehat -berjalan bersama, mengenang jalur jalan kaki atau kendaraan roda dua –motor atau sepeda, waktu dahulu kala sering kami lewati ketika berangkat atau pulang dari sekolah.
SMPN 10 Bandung terletak di Jln. Dewi Sartika, berseberangan lokasi dengan SMPN 3. Dari sini, rombongan, per angkatan, bergerak ke arah utara, menyusuri Jln. Raden Dewi Sartika, menuju alun-alun Bandung, untuk selanjutnya akan melingkar Asia-Afrika, Otista, Ciateul, dan tiba kembali di Dewi Sartika.
Di Jln. Dewi Sartika, sekitar 200 m sebelum alun-alun, pas lurusan Jln. Kapatihan, saya menoleh ke kanan. “Nah, di situ adalah Toko Buku Makmur. Pemilik atau penjualnya adalah orang keturunan Arab,” sambil menunjuk ke arah yang dituju, saya berbicara kepada teman-teman.
Tibalah kami di bagian paling utara dari Jln. Dewi Sartika yang menyambung atau tegak lurus terhadap Jln. Dalem Kaum; dan di depan mata adalah Alun-Alun Kota Bandung.
Ke kiri dari situ adalah area pusat perbelanjaan Dalem Kaum (lihat: “Nganjang ka Sakola”, edisi 5 tahun lalu); ke kanan, kalau diteruskan, akan bertemu Jln. Lengkong Besar.
Kalau jalan itu dipotong ke arah timur, adalah Jln. Lengkong Kecil. Di situ ada SMA 7 –tempat saya sekolah, setelah lulus dari SMP 10.
Menempel dengan bangunan SMA 7, di sebelah timur, dahulu kala, adaLah Kantor redaksi majalah musik paling terkenal se-Nusantara: *AKTUIL* .
SMA 7 Bandung, dahulu, terkenal dengan 2 hal: banyak artis musik/penyanyi dan –yang agak meresahkan- tukang berantem. Jangankan sesama SMA, STM pun diserangnya.
Tapi, sekarang SMA itu hijrah. Kalau sekolah lain punya mushalla, SMA ini memiliki masjid! Ada pengajian rutin bulanan. Saya pernah sekali mengisi acara di sini.
Mengitari area terminal bemo zaman dahulu yang di bagian baratnya ada Masjid Agung (sekarang: Masjid Raya); di arah timurnya, zaman baheula, berjejer banyak bioskop.
*Aneka, Nusantara* (belakangan menjadi Palaguna), *Elita* –yang berubah nama menjadi Puspita, dan *Dian* –ke arah Balonggede; itulah nama-nama tempat para bintang film berlaga dalam layar lebar, ditonton orang Bandung.
Bioskop Dian, lokasinya terpisah atau tak sejajar dengan 3 bioskop lainnya. Ia berada di simpang-3 Jln. Dalem Kaum dengan Jln. Balonggede.
Di Balonggede sebelah timur Dian ada jajanan terkenal (kalau zaman sekarang, pasti masuk medsos): Bakmi Parahyangan
Sederetan dengan gedung bioskop, di paling utara, ada pusat perbelanjaan modern pertama di Bandung, namanya *MIRAMAR* . Tapi ia tak bertahan lama, bangkrut, tutup.
Seratus meteran, ke arah timur dari sini, ada *Gedung Merdeka* –tempat diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.
Dari gedung yang banyak bendera di terasnya itu, di seberangnya secara diagonal, ada bangunan artistik: Hotel Homann. Apabila Anda makan di resto hotel ini, suasananya kayak di Eropa. Nyaman!
Tepat depan Homann adalah kantor *Harian Pikiran Rakyat* . Waktu SMA dulu, dari SMA 7 di Lengkong Kecil, ketika menuju *Perpustakaan Jawa Barat* yang berada tepat di belakang Gedung Merdeka, saya mampir dan baca koran gratis di sini, hampir tiap hari.
Bersebelahan dengan Gedung Kantor Pikiran Rakyat, di timurnya terdapat Kantor Wilayah PU Jawa Barat; dan di halaman depannya ada tulisan KM 0.
Di belakang tembok bertuliskan BDG 0 ada tulisan: Dinas Bina Marga, Provinsi Jawa Barat, dan di atasnya “nongkrong” mobil kuno bentuknya mirip stoom; atau memang stoom tapi roda belakangnya kayak ban delman.
Itulah *titik nol kota Bandung* . Apabila suatu hari ke Kota Kembang dan lewat ke Asia-Afrika, jangan lupa di lokasi menarik ini untuk berfoto.
Waktu sekolah di Jln. Lengkong Kecil, nyaris setiap hari, sepulang sekolah, saya menghabiskan waktu di perpustakaan yang mengoleksi ratusan ribu atu jutaan buku ini, membaca berbagai referensi.
Pulangnya, membawa 2 buku sebagai pinjaman, untuk dibaca di rumah; & 1 minggu kemudian dikembalikan ke perpustakaan.
Dari gedung gudang ilmu, saya sering meneruskan jalan-jalan ke Cikapundung membeli buku2 dan majalah2 bekas di kios-kios dan kaki-5 yang menjual segala jenis buku dan majalah, umumnya bekas.
Saya baca di Harian Pikiran Rakyat bahwa Bapak Prof. Dr. Mochtar Kusuma Atmadja, menteri luar Negeri Indonesia paling legendaris -tapi saya lupa, apakah ketika itu beliau masih sebagai mahasiswa atau telah menjadi pejabat negara, pernah terlihat membeli buku di Cikapundung.
Beberapa teman mendapatkan _text books_ berbahasa asing pada sebuah kios di sini. Tentu dengan harga sangat murah dibanding kalau membelinya di toko.
Ada pengalaman menarik dari seorang mahasiswa Unpad. Ia membeli buku Statistika di Cikapundung. “Kondisi kertasnya sudah kumal, jelek sekali, “ serunya. Tapi ia tetap membelinya.
Saat ujian Mata Kuliah Statistika tiba, soal yang keluar dalam ujian, persis sama dengan ia pelajari dari buku lusuh itu! Luluslah dia. Mahasiswa ini, kelak, menjadi pejabat eselon I – mengepalai sebuah direktorat jenderal pada satu kementerian di Jakarta.
Sekian tahun kemudian, pusat buku besar ini pindah ke Jalan Palasari.
Dari Cikapundung, terus bergerak ke Jalan Braga. Banyak orang kulit putih berseliweran di depan toko2, atau yang makan-minum di Restoran Braga Permai.
Bahasa Inggris saya yang hingga kini tidak begitu jelas adalah, antara lain, dari hasil bertemu bule-bule di Jln. Braga.
Saya belajar bahasa internasional ini dengan agak-agak nekat saja ( _vocab_ sangat terbatas, _grammar_ payah, _pronunciation_ kacau) dengan para turis di sini.
Di Jalan Braga, ada toko buku yang dibuka sejak tahun 1955 dan sekarang masih buka. Toko ini menyediakan buku-buku sejarah, ensiklopedia, peta-peta, dan buku-buku impor –banyak di antaranya bersampul ( _cover_ ) tebal.
Nama toko buku ini adalah *Toko Buku Djawa.* Banyak orang, apabila mencari buku langka, datang ke Toko Buku Djawa.
Di Jalan Braga ada 2 toko yang menyediakan referensi -seluruhnya buku dari luar negeri: Toko Buku Scintific dan Intervarsity, di sisi timur jalan ini.
Di Bandung, saat itu, paling tidak, ada 4 toko yang menjual khusus buku-buku impor: *Scientific* dan *Intervarsity* di Jln. Braga *Insulinde* di Jln. Otista, dan satu lagi di Dago bawah, tapi saya lupa namanya.
Dekat perempatan Braga –Naripan, di trotoar, seperti disinggung pada Nganjang ka Sakola edisi 5 tahun lalu, ada orang memetik kecapi dengan lagu-lagu Rolling Stones: *Braga Stones.*
Karena kehebatannya dalam memetik kecapi dan keunikan membawakan lagu-lagu Mick Jagger, Supeno -pemetik kecapi hebat itu, pernah rekaman bersama BIMBO, ikut Java Jazz; bahkan, sempat manggung di negara tetangga.
Kalau terus ke arah utara, Jalan Braga bertemu dengan Jln. Suniaraja –ke arah barat, dan Jln. Tamblong –ke timur.
Ke kanan 100 meteran dari perempatan, di Jln. Tamblong, ada Perpustakaan *The British Council.* Selain bisa baca buku-buku; juga di sini sering diputar film2. Anggota perpustakaan pada nonton film -yang menggunakan bahasa berkosa-kata sederhana.
Di perpustakaan ini, saya membaca, a.l, *Dr. Jekyll & Mr. Hyde* –orang berkepribadian ganda, seperti tak jarang kita jumpai, saat ini, pada para pejabat negara atau wakil rakyat –yang sikap, kata, dan kebijakannya tidak mewakili kepentingan rakyat.
Dari teras The British Council, mata diarahkan ke utara plus sedikit ke timur, sebuah hotel bintang 4 berdiri megah. Waktu itu, nama hotel masih *Panghegar* .
Dahulunya, ia bernama *Hotel Van Hengel,* didirikan tahun 1924; milik seorang berkebangsaan Itali.
Pada tahun 1960, Pak Ruhiyat –orang Jawa Barat, membeli saham hotel laris ini; dan pada tahun 1963 nama hotel menjadi Panghegar. Hegar adalah suasana bersih, segar, cerah, ceria; menyenangkan pengllihatan
Panghegar artinya yang menunjukkan atau menimbulkan kesegaran, kebersihan; mencerahkan.
Sekarang, hotel itu berganti nama lagi menjadi *Hotel eL Royale* . Di bagian depan lobi sih ditulisnya “eL Hotel Royale”, bukan eL Royale Hotel; tapi lebih dikenal sebagai eL Hotel atau Hotel eL Bandung..
“El” bahasa Arab Mesir untuk “al” -yang menunjukan bahwa kata di depannya ma’rifat. Mirip bahasa Prancis “le” dan “la” –tergantung gendernya, feminin atau maskulin; dan “the’ dalam bahasa Inggris –definite article.
Apabila berjalan terus ke timur, di perempatan Tamblong – Sumatra/Lengkong Besar, di bunderan tengah jalan, ada patung orang lagi mengayuh bola. Itu, dalam cerita, ketika –baheula- PERSIB pernah berjaya. Mungkin itu patung Adjat Sudrajat, pemain bola –asal Bandung, paling top, saat itu.
“Eeeh…kejauhan jalan sendirinya! Cepat balik arah, kembali bergabung dengan rombongan!”
“Sebentar-sebentar, tadi kan dari perempatan Braga-Lembong/Suniaraja, kita ke kanan – ke Lembong; bagaimana kalau yang belok kiri, Suniaraja?”
Kalau ke kiri, di kiri jalan, baru lewat 1-2 toko, dahulu, ada Bioskop Braga Sky –yang sering memutar film-film yang sebaiknya tidak ditonton.
Setelah jembatan, di kanan jalan, ada perusahaan kendaraan antar-jemput/ shuttle -mungkin paling tua di Bandung- *4848* ; jurusan Jakarta, Garut, Pangandaran, Banjar, Ciamis, Cirebon, dan Kuningan.
Untuk jurusan Jakarta, tampaknya kalah bersaing dengan _shuttle-shuttle_ baru yang mobilnya bagus-bagus.
Saya pernah naik 4848, dari Menteng, Jakarta, dekat Tugu Tani ke Bandung. Sopirnya berusia 82 tahun dan tidak berkacamata! Mata sehat seperti anak-anak muda.
Seberang kantor 4848, di Jln. Gereja 3 (sekarang: Jln. Perintis Kemerdekaan) ada kantor redaksi Majalah berbahasa Inggris: *Windows on the World.* Gedung itu, kini menjadi kantor BNI’46. Saya banyak belajar juga dari majalah ini.
OK, kita kembali bergabung dengan teman-teman.
Begitu bertemu Jalan Asia –Afrika, rombongan tidak seperti saya -menerawang ke arah timur, melainkan berbelok ke kiri.
“Stop, jangan belok dulu!”
Waktu saya masih SD, pada bulan puasa, suka ngabuburit ke pusat kota. Di pojok timurlaut alun-alun, ada bangunan berukuran sekitar 4×5 m2, pada dindingnya bertuliskan: *Tourists Information Center.*
Saya melihat orang-orang bule sedang mendengarkan penerangan dari juru bahasa. Dalam hati, “Ingin rasanya, suatu hari nanti, bisa berbahasa Inggris. Mau ngobrol dengan orang luar negeri!”
Pas seberang pusat informasi itu, ada Bangunan Tinggi. Itulah BRI –Bank Rayat Indonesia. Di sebelah timurnya ada Bank Ekspor-Impor Indonesia.
Waktu belajar bahasa Inggris di sekitar Braga dan sering menemani wisatawan asing, saya suka dikasih uang dolar. Di bank Exim ini, lembaran-lembaran itu saya tukarkan dengan rupiah.
Barisan para orang-orang yang sebagian besar sudah pada tua, di Jln. Asia-Afrika -sambil melihat-lihat ke kanan dan ke kiri, mengingat-ingat apa saja yang tertinggal di kepala, ketika dahulu sebagai siswa SMP, yang masih terlihat di situ.
Baru berjalan seratusan meter, rombongan menahan langkah sejenak, menaati lampu merah yang menyuruh berhenti.
Kepala menoleh ke kanan. Di Lampu merah, perempatan Asia-Afrika dengan Banceuy, dahuluuuuu sekali, ada bangunan bercat krem, bertuliskan: Bank Dagang Negara.
Pikir saya, waktu, itu, “Kok, ada bank mendagangkan negara! Negara mau dijual? Kalau laku, di mana saya tinggal?”
Di kiri badan adalah area alun-alun yang luas; dan kalau setopan sudah lewat, ada dua bangunan besar yang bersejarah. Tapi, agar tak terlalu capek membacanya, kita potong dulu di sini, kawan-kawan….Merdeka!
Ciomas, edisi revisi, 03 November, bakda Isya. Info saja, tapi tak diketahui juga tak apa. Saya baru menulis lagi setelah beberapa minggu libur, menyusul raibnya semua fail di komputer, “dimakan” petir. _AllaaHumma ajirnii fii mushiibatii, wa akhliflii khairan minHaa._ Aaamin.
———————————— Bersambung——-
Salam, Jr.
Tinggalkan komentar