Nostalgia Dari Vyatra V

HBH dan Silaturahmi BPST EP I 2025 di Felfes UI, Depok
Bagian II


Dari panggung, kembali terdengar suara merdu. Lagu enak ciptaan Dallas Frazier, *There Goes My Everything*, dibawakan Todo Marodut Sihombing.

Bang Todo, selain sebagai seorang senior _geophysicist_, seperti hal banyak orang Sumatra Utara, piawai mendendangkan lagu-lagu.

Suaranya yang berat, agak nge-bass, pas dengan lirik dan tema lagu.


There goes my only possession
There goes my everything

I hear footsteps slowly walking
As they gently walk across the lonely floor

And a voice is softly saying
Darling this will be goodbye for evermore

There goes my reason for living
There goes the one of my dreams

There goes my only possession
There goes my everything

As my memory turns back the pages
I can see the happy years we’ve had before

Now the love that kept this heart beating
Has been shattered by the closing of the door


Lagu itu sangat menyentuh!

Setelah kekasih pergi, segalanya menjadi hilang. Masa-masa indah bersama, hanyalah tinggal kenangan –meninggalkan duka yang dalam dan kepedihan yang tiada akhir.

Karena nada yang enak didengar, syair nan indah, serta tema yang memesona; lagu ini banyak dinyanyikan penyanyi ternama dunia.

Di antara mereka: Jack Greene -penyanyi country legendaris;   Elvis Presley  -raja rock’n roll; Engelbert Humperdinck –dalam His Greatest Hits-nya, juga memasukkan lagu ini; hingga Anne Murray –penyanyi dan penulis buku asal Canada.

Dalam kurun waktu yang panjang, penyanyi-penyanyi top itu, silih berganti menyanyikannya.

Saya, yang setelah menyampaikan doa, duduk di barisan belakang; sambil mengambil air minum, kembali ke depan.

Memerhatikan lirik There Goes My Everything -yang dibawakan Bang Todo dengan apik, saya teringat masa-masa kami, BPST EP I, saat bersama-sama dalam pendidikan, 7 bulan yang sangat padat, di kota minyak Cepu.

Selesai masa penggemblengan di Cepu dan dalam _job-job trainings_ di berbagai perusahaan minyak, sebagian besar kami, di tempatkan di area yang jauh dari ibu kota.

Untuk melanjutkan para senior dalam mencari dan menemukan sumber-sumber minyak dan gas bumi –penggerak roda-roda pembangunan, kami disebar ke berbagai pelosok negeri.

Memang sering kami bertemu kembali dalam seminar-seminar atau rapat-rapat di dalam dan luar negeri.

Akan tetapi, kebersamaan di dalam kelas, di lapangan olah raga, di tempat makan, dan banyak acara di Kabupaten Blora itu, nikmatnya tak tergantikan. Semuanya menjadi kenangan indah.

Oleh karenanya, saat-saat bersama dalam Halal bi Halal dan Silaturahmi, selalu menghadirkan kembali nostalgia itu.

Tapi, dari syair lagu yang Kang cecep bawakan, yang berisi *Kerinduan* berlanjut dengan *There Goes My Everything* yang dinyanyikan Bang Todo; mengingatkan kami kepada teman-teman yang telah mendahului.

Om Salis Aprilian, kendatipun membawakan nyanyian bernada riang, punya 2D – Dian Pramana Poetra dan Deddy Dhukun: *Masih Ada*; tapi liriknya, juga berkenaan dengan perpisahan dan kerinduan.


Ada bayanganmu di mataku
dan senyummu membuatku rindu

Bagaimana caranya, oh kasih
Kuingin jumpa dengan kamu
Bagaimana caranya?..


Dahulu di Cepu, kami berjumlah 169 orang*. Berasal dari berbagai perguruan tinggi, dan macam-macam jurusan; disatukan hati dalam segala kegiatan bersama.

*Katanya, Pertamina EP, “kelupaan”, bertahun-tahun tidak menerima pekerja baru; sementara, yang pensiun terjadi setiap tahun.

Banyak formasi kosong. Oleh sebab itu, perusahaan menerima sangat banyak karyawan. Bagi saya sih, alhamdulillah , jadi kebawa keterima.

Kini, 35 orang di antara kami, telah memenuhi panggilan dari yang Mahakasih dan Mahasayang.

Saat Kang cecep menyampaikan lagu Bob Tutupoli itu; disambung Bang Todo menyanyikan lagu yang dilebih-populerkan oleh Elvis Presley; dan kata-kata Om Salis yang “ingin jumpa denganmu”;
apalagi, ketika teman-teman semua secara bersama-sama mendendangkan *Kemesraan*:

Suatu hari
Dikala kita duduk ditepi pantai
Dan memandang ombak dilautan yang kian menepi

Burung camar terbang
Bermain diderunya air

Suara alam ini
Hangatkan jiwa kita

Sementara
Sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu
Mengalunkan melodi tentang cinta

Ada hati
Membara erat bersatu
Getar seluruh jiwa
Tercurah saat itu

Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Inginku kenang selalu

Hatiku damai
Jiwaku tentram di samping mu
Hatiku damai


Lapangan tenis di halaman Wisma Vyatra V, PPT Migas, Cepu, petang itu; hadir kembali di antara kami. Berbagai aktivitas bersama, dalam berbagai acara,  terbayang di depan mata.

Nostalgia dari Vyatra V, kenangan lama, menyelip ke dalam hati, mengusap dada, dan menyegarkan kembali saat-saat penuh memori.

Acara dilanjutkan dengan bermaaf-maafan.

Hati dan pikiran saya menuju kepada kawan-kawan yang dahulu bersama, tapi kini tiada.

Lantaran sering dan intensnya berinteraksi, hubungan batin kami, dekat sekali. Bagi kawan-kawan yang pernah bersama di suatu unit atau lapangan; beberapa, malah, sudah seperti saudara.

Silaturahmi yang baik ini, tak hanya karena sesama teman kerja, tapi juga dengan keluarga.

Saat saling bermaafan, ketika bertatap wajah dengan teman-teman yang suami atau istrinya telah pergi, saya hampir tak tahan menahan tangisan.

Bibir digigit -agar tak mengeluarkan suara; tapi sudut-sudut indra penglihat menghangat, tak tahan menahan tetes-tetes air mata.

“Tuhan, peluk cium mereka dengan kasih dan sayang-Mu.”


Ciomas, 18 April 2025; bakda jumatan. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar