Melalui Makhluk yang Dipilih-Nya, Tuhan Ringankan Beban Seseorang
Cerita Pertama: Gus Dur dan Ibu Penjual Durian
Satu hari, sebagai Presiden RI, Kiai Abdurrhaman Wahid, berdinas ke Malang, Jawa Timur.
Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, ada seorang ibu tua yang berjualan durian, di pinggir jalan.
“Berhenti dulu, sebentar!” kepada ajudannya, Gus Dur berkata.
Mobil mundur sedikit, hingga tepat berada di depan ibu penjual durian.
“Tolong, kasihkan amplop yang saya terima tadi, kepada ibu itu!”
Ajudan kaget. Sambil mendekat kepada Bapak Presiden, ia berkata, “Tapi, Pak, ini kan, isinya, sepuluh juta!”
“Ya, berikan saja!”
Amplop diterima, dibuka, dan dihitung isinya.
Begitu tahu, uang di amplop berjumlah Rp10.000.00,00; si ibu langsung bersimpuh di hadapan Gus Dur.
Sambil menangis keras, ibu itu berkata, “Terima kasih, Gus. Baru saja anak saya tak bisa dibawa keluar dari rumah sakit, jika belum bisa bayar biaya perawatan sebesar sepuluh juta!”
Sumber: https://www.facebook.com/share/v/1FhKGAR7aD/, dengan sedikit variasi redaksional.
Cerita Kedua: Ustaz Husen dan Tukang Mengaji
Diceritakan kepada saya dan beberapa teman lainnya, oleh guru kami, Al-Hafizh Ust. Husen Al-Habsyi, suatu hari, di tanah suci.
“Seorang lelaki, ahli membaca kitab suci, datang ke rumah saya di Cibubur. Ia menceritakan kesulitan hidupnya, sejak dia meninggalkan profesi yang dijalaninya selama ini.”
Kebetulan, anak-anaknya sedang memerlukan biaya sekolah yang lumayan besar. Dia sebutkan besar kebutuhannya, sesuai tagihan dari pihak sekolah: dari puluhan juta, ratusan ribu, hingga pecahan ribuan.
“Saya sedang tak ada uang, “kata Ustaz Husen. “Tapi, mari kita bersama berdoa!”
Tak lama dari selesai menyampaikan permohonan kepada Tuhan, sebuah kendaraan berhenti di depan rumah ustaz.
Seorang berpakaian rapi, turun dari mobil. Ia sahabat Ustaz Husen, sehari-harinya sebagai pebisnis.
“Taz, aku enggak lama-lama. Nitip sedekah saja, “ orang ini menyampaikan amplop tebal; kemudian, langsung berpamitan.
Ketika kertas lipat itu dibuka, jumlah uang di dalamnya, dari puluhan juta hingga pecahan ribuannya, persis sama dengan kebutuhan biaya untuk sekolah anak-anak tukang mengaji itu!
Pak Wen dan Seorang Pembicara Agama
Kamis, 6 November, 5 hari lalu, pk 06.00, bersama istri, setelah sebelumnya bikin janji, kami menemui kawan di Depok.
Uni Ade, seorang pengusaha, teman kerja istri saya -waktu di PT INTI, dahulu kala, suaminya sakit.
Bang Mursid terbaring di tempat tidur.
Hampir 3 jam kami berada di itu rumah besar. Seandainya, tidak ada tamu yang mau datang ke rumah; dan saya tak hendak ke Bandung, siang itu; mungkin kami masih mengobrol berlama-lama lagi.
Sampailah pembicaraan menyebut nama Pak Wen.
Kayak cerita silat, nich! Dan, yang diceritakan, memang seorang ahli Kungfu. Jet Li –bintang film laga terkenal itu, adalah teman sekelasnya di Shaolin.
Sejak lahir hingga usia 10 tahun, Pak Wen tuna wicara. Seorang Bhiksu membawanya, dari Medan ke Shaolin Temple, di Cina.
Dua puluh tahun dia mesantren di pusat perguruan kungfu terbesar di dunia itu. Setelah diterapi di kuil, anak itu menjadi bisa bicara.
Di perguruan, selain diterapi, seperti “santri2” lainnya, ia belajar kungfu hingga level pucuk dan bergelar Satya.
Namun, Pak Wen lebih tertarik mendalami pengobatan totok syaraf -suatu metode pengobatan Cina kuno, berumur ribuan tahun.
Selain itu, ia juga diajari cara membuat berbagai macam masakan.
Untuk buka puasa anak-anak yatim/duafa kami, di Ciomas, Bogor, beberapa tahun lalu, Pak Wen dan Bu Siuwati –istrinya, pernah menyiapkan nasi goreng khas masakan mereka, untuk 80 anak-anak yatim duafa/kami!
Pak Imam, kawan lama saya dari Jakarta Selatan, seperti keluarga pak Mursid di Depok ini, adalah sahabat dekat dari Pak Wen dan Keluarga.
Kebetulan, Pak Imam dan Bang Mursid, selama hampir 20 tahun, bekerja di kantor yang sama.
Suatu hari, tahun 2018, Pak Imam mengajak Pak Wen silaturahmi ke Ciomas. Keduanya menikmati suasana Yayasan Yatim Ar-Rahmah –yang rimbun dan asri.
Dengan duduk di batu-batu yang ditata pada sisi kolam, orang-orang yang mau berobat atau sekedar check up menyodorkan lengannya.
Pergelangan tangan mereka Pak Wen tekan pelan. Ia sebutkan penyakit apa saja yang ada di tubuh orang-orang itu.
Cerita panjang tentang Pak Wen –orang yang piawai beladiri kungfu, pandai memasak, pintar bahasa Cina, Rusia, dan Inggris, serta pakar pengobatan; pun mencapai tingkat tertinggi dalam agama Budha- …
…ada di tulisan saya 4 tahun lalu (“Teman Kungfu Jet Li yang Pernah Ketemu Nabi Itu Telah Pergi”). Seru! Jika diperlukan, bisa sy kirimkan lagi.
Sekarang, kembali ke obrolan di rumah keluarga Bang Mursid, di Depok, dengan Uni Ade –istri beliau.
Pak Imam pernah cerita ke saya bahwa Pak Wen buka praktik di Depok.
“Saya pernah menyaksikan seorang anak yang tak bisa bicara, diterapi Pak Wen, jadi bisa bicara.
“Satu hari, pas saya ada di sana, anak itu datang dan mengucapkan, ‘Assalamu’alaikum, Om!’
Kaget, tapi senang sekali, saya!”
“Seandainya Pak Wen masih ada, mungkin bisa melakukan terapi untuk Abang,“ kepada Ade saya berkata.
“O, ya, dulu Pak Wen praktik di sini, di ruang depan sana.”
“Pak Imam sangat sayang sama Pak Wen. Apa pun keperluan Pak Wen, Pak Imam usahakan,” Uni yang senantiasa ceria ini menerangkan.
“Kadang, Pak Wen datang dengan istri dan anaknya. Kalau sepi pasien, seharian ngobrol saja dengan Abang,” tuan rumah melanjutkan.
“Waktu itu, dari perusahaan yang di Medan, dikirim uang, nilainya, Rp48.000.00,00,” wanita yang sejak muda sangat energik ini, melanjutkan cerita.
“Saat buka puasa bersama di sebuah restoran dengan keluarga Pak Wen, kami hadiahkan uang itu kepadanya. ’Ini ada rezeki buat Pak Wen dan Keluarga!”’
Dengan senang hati beliau menerimanya. Ia minta izin untuk membuka dan menghitung isi amplop.
Gembira bercampur haru , ia rasakan. Pun, kaget sekali!
Apa sebab?
Bukan hanya lantaran tebalnya isi itu amplop, tapi juga jumlahnya pas sama dengan uang dia yang belum lama hilang.
“Pernah Pak Wen berada dalam kesedihan. Ia kehilangan uang 48 juta; ditipu seorang yang sehari-harinya suka bicara agama!”
Melalui kemurahan hati Keluarga Bang Mursid – Uni Ade, uang itu kembali kepada Pak Wen, dengan yang, pas jumlahnya!
Ketiga kasus di atas, tentu bukan suatu kebetulan.
Melalui orang-orang salih, Tuhan gerakkan hati dan tangan mereka untuk membantu sesama yang sedang dalam kesulitan. Allah ringankan beban seseorang.
Ciomas, 12/11/25, waktu Dhuha awal. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar