Merespons sharing berjudul *Musibah* yang saya kirim sore kemarin, seorang sahabat, _senior geologist_, Mas Untung, tadi malam, mengirim pesan via WA kepada saya:
“Saya naik travel ke Wonosobo dan mendapat tempat duduk di belakang sopir. Kemudian, ada penumpang lain: seorang ibu bersama anaknya yang masih kecil.
Agar mereka bisa duduk lebih nyaman, kursi itu diberikan kepada mereka. Saya sendiri pindah ke bangku di pojok kiri belakang.
Ketika kendaraan mencapai Majenang, penumpang yang duduk paling depan, turun.
Pak Sopir yang baik hati, menawari saya untuk duduk di sampingnya. Saya berterima kasih; tapi tetap duduk di belakang, tidak pindah ke depan.
Di Cilongok, utara Wangon, mobil yang kami tumpangi hendak menyalip bus. Akan tetapi, dari arah berlawanan muncul kendaraan lain.
Sopir panik. Secara reflek, dia banting setir ke kiri, dan menabrak tanggul. Mengalami benturan kuat, bagian kiri depan mobil rusak.
Jok di posisi tengah terangkat seketika; badan saya terdorong keras ke depan. Hanya celana panjang kaki kanan sobek; tubuh tidak kena efek menabrak ini. Alhamdulillah.
Beberapa detik sebelum kecelakaan, ada isyarat non-indrawi kepada saya, menyuruh baca Shalawat Mubram.”
Barangkali kawan-kawan memerlukannya, sebagai upaya mendapatkan keselamatan dan terhindar dari petaka, shalawat sangat pendek ini, boleh dihapal dan diamalkan.
Niatkan untuk keselamatan pribadi dan orang-orang yang bersama kita.
اَللهُم صَل وَسَلمْ عَلَى سَيدِ نَامُحَمدٍ وَادْفَعْ عَنا مِنَ اْلبَللآءِاْلمُبْرَمِ اِنكَ عَلَى كُل شَيْئٍ قَدِيْرٍ
_AllaaHumma shalli wa sallim ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin *wadfa’ ‘annaa minal balaa-il mubram(i)* innaka ‘alaa kulli syai-in qadiir_
”Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami, Nabi Muhammad; dan *jauhkan kami dari malapetaka yang sudah ditentukan*. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Pun, jangan tinggalkan doa perjalanan yang biasa kita baca, begitu naik kendaraan:
بِسْمِ ٱللَّهِ مَجْر۪ىٰهَا وَمُرْسَىٰهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
_BismillaaHi *majreeHaa*^ wa mursaaHaa, inna rabbii *laghafuụrur-rahiim*#_
Dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya*. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
^Tertulis “ra”, dibaca: re. Dalam tajwid disebut sebagai _imalah_: memiringkan bunyi _fathah_ ke arah _kasrah_; sesuai dengan riwayat Imam Hafsh.
FYI: ada juga imam lain yang membaca imalah lafadz-lafadz وَالضُّحَى dan قَلَى.
#Hati-hati juga pada lafaz *laghafuụrur-rahiim*, “la”-nya mesti dibaca pendek; dilarang keras dipanjangkan.
“La” pendek artinya sungguh, pasti, _indeed_; “la” panjang (laa) artinya tidak atau bukan. Sangat bertolak belakang!
* Awalnya, ini doa untuk perjalanan dengan angkutan air, yakni ketika Nabu Nuh as. dan para pengikutnya naik kapal; tapi bisa dan biasa digunakan juga untuk perjalanan darat dan udara.
وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
_Wa qaalarkabuu fiiHa bismillaaHi majreeHaa wa mursaaHaa, inn rabbii laghafuụrur-rahiim_
“Dan dia (Nuh) berkata, ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”’ (QS. Hud: 41).
Setelah mesin dihidupkan, dan kendaraan mulai berjalan, bacalah:
سُبْحَانَ الَّذِىْ سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَاكُنَّالَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ
_Subhaanalladzii sakhkhara lanaa Haadzaa wa maa kunnaa laHu muqriniina wa innaa ilaa rabbinaa *lamunqalibuun*#_.
“Maha suci Allah yang telah menundukkan untuk kami (kendaraan) ini. padahal sebelumnya kami tidak mampu untuk menguasainya; dan hanya kepada Tuhan kami, kami akan kembali.” (QS. Azzukhruf: 13-14).
#Pembacaan “la” pada *lamunqalibuun*, sama seperti pembacaan “la” pada _*laghafuụrur-rahiim*, pendek..
Sebelum naik kendaraan, saat kaki melangkah ke keluar rumah, mulailah dengan membaca:
بِاسْمِ اللّٰهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّٰهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ،
_BismillaaHi tawakkaltu ‘alallaaHi Laa haula walaa quwwata illaa billaaH_
Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang ketika keluar dari rumahnya membaca doa:
_‘BismillaaHi tawakkaltu ‘alallaaHi Laa haula walaa quwwata illaa billaH’_,
dikatakan kepadanya kamu akan dicukupi, kamu dilindungi. Seketika itu, setan-setan menjauh dari orang yang membaca doa ini.” (HR. Tirmidzi).
Ciomas, 13 November 2024, menjelang waktu Dzuhur. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar