Pesantren, Rumah Tahfidz, Panti Hingga Pertanahan

“…Kang, kenalkan, saya …., alumni SMA 7 Bandung, angkatan ’84, sekelas sama Wiwing.

“Kang Jonih punya pesantren di Ciomas?” Kamis lalu, bakda Zuhur, sebuah pesan masuk ke hp saya.

“Ah, bukan pesantren. Ini mah anak-anak yatim dan duafa dikumpulkam dan disekolahkan; dari mulai SD sampai minimal SLTA. Setelah lulus SMA, kami kasih kesempatan tes ke universitas, jika diterima di PTN, diusahakan mereka kuliah.”

“Ingin diskusi dengan Kang Jonih hal pesantren.”

“Ngobrol-ngobrol saja, boleh, nanti sekitar pk 15, ya. Sekarang sedang mengerjakan sesuatu dulu.”

“Kang, maaf, baru beres Ashar. Boleh ditelepon sekarang?”

“Silakan.”

“Seorang teman saya, pengusaha, ingin punya pesantren. Itu amanat suaminya, dulu, sebelum wafat.”

“Terus?”

“Setelah ditinggal suami, dia sibuk sendiri mengurus bisnisnya, sehingga kalau nanti ada pesantren, ia tak cukup waktu. Kawan itu, minta saya yang pegang.”

“Bagus, dong!”

“Saya bingung. Wong belum pernah tahu, ditugasi mimpin pesantren. Terus, saya ingat Akang. Saya bilang ke teman itu bahwa ada kawan saya punya pesantren di Ciomas. Nanti, mau tanya-tanya.”

“Pesantren ada yang tradisional dan yang modern.”

“Apa tuh bedanya?”

“Di pesantren tradisional diajarkan kurikulum kepesantrenan, a.l.: fikih, tauhid, akhlak, kaidah ushul, tarikh, bahasa Arab, dan lainnya.

Selesai pendidikan pesantren, umumnya 6 tahun -bisa kurang atau lebih; kalau bapaknya orang berada, ada yang disiapkan pesantren oleh sang ayah untuk langsung dipimpin anaknya; atau alumnus pesanren ini meneruskan kepemimpinan orangtuanya yang kiai. Ada juga yang kemudian kuliah di Arab.”

“Pesantren modern?”

“Pada pesantren jenis ini, untuk mengejar kemajuan zaman, selain mendapat pelajaran kepesantrenan, para santri mengikuti pelajaran sekolah umum. Mereka belajar 100 % kurikulum pesantren dan 100 % pelajaran sesuai Diknas.”

“Bagus mana?”

“Keduanya bagus. Di antara orangtua ada yang anaknya kelak setelah selesai mesantren, meneruskan ke fakultas keagamaan maupun umum. Tapi, tak sedikit yang ingin anaknya fokus menjadi kiai, tidak jadi pegawai negeri. Pada dasarnya, kedua jalur itu bisa ditempuh.”

“Teman ini, ada pemikiran untuk membangun sendiri atau ikut bergabung ke pesantren lain. Menurut Akang bagaimana?”

“Kalau amanat dari almarhum suaminya membangun sendiri; menurut saya, sebaiknya bikin sendiri saja.”

“Tapi kan nggak berpengalaman.”

“Jika diperlukan, untuk konsultasi dengan para kiai, saya banyak teman di pesantren tradisonal maupun modern. Bisa saya antar, silaturahmi kepada mereka.”

“Apabila mau bangun sendiri, lokasinya di mana dan bagaimana kondisi dan situasi tanahnya?”

Dia menyebutkan lokasi dimaksud, sambil menambahkan:

“Sudah disurvei sama ahli tanah. Katanya sih, paling bisa bangunan semi permanen.”

“Tanah yang peruntukannya bangunan besar, pemeriksaannya bukan oleh ahli tanah. Keponakan kami lulusan Jurusan Ilmu Tanah, sekarang bekerja di kebun sawit.”

“Ooo…harusnya dari Geodesi, ya?”

“Geodesi adalah pengukuran dan perepresentasi bentuk dan ukuran bumi, penentuan posisi unsur yang ada di bumi, pencitraan, dan monitoring bumi. Dalam keseharian, orang menyebutnya sebagai Ilmu Ukur Tanah. Produknya, yang paling luas digunakan masyarakat adalah peta topografi -menghubungkan titik-titik berketinggian sama di suatu lokasi.”

“Jadi, tanya ke siapa, dong?”

“Apabila pada sebuah lokasi mau didirikan bangunan, mau tahu hal kestabilan tanah di area itu, ketahanan tanah atas beban bangunan, potensi kegempaan di daerah tersebut, jenis konstruksi bangunan seperti apa yang cocok dengannya; datangkanlah orang Geologi Teknik dan Insinyur Teknik Sipil.”

“Kang Jonih kan orang Geologi, ya? Cocok, dong!”

“Saya Geologi Minyak. Geologi Teknik area yang berbeda. Ada juga teman-teman yg bekerja di bidang ini.”

“Biasanya, kawan-kawan yang bekerja di bidang Geologi Teknik terlibat dalam pembangunan gedung-gedung bertingkat tinggi (high rise buildings), jembatan, dermaga, instalasi menara tegangan tinggi, konstruksi jalan KA, jalan raya, bendungan, dan banyak lagi. Saya tak tahu semua itu.”

“Di mana dan bagaimana mencari minyak dan gasbumi, apa tahapan-tahapan pekerjaan eksplorasi, hingga didapatkannya sumberdaya migas yang ditindaklanjuti dengan pengeboran; lalu, penghitungan cadangan; di situ saya bekerja. Itu pun dulu. Sekarang mah sudah pangsiun; kerjaannya jalan-jalan sajah.”

“Kembali ke hubungannya dengan dunia pesantren, kalau rumah tahfidz itu, apa ya?”

“Nah, sekalian saja. Selain istilah pesantren seperti dikenal luas sebelumnya, yang kita sebut saat ini sebagai pondok pesantren atau pesantren tradisional, disebut juga pesantren salaf (salafi hal yang berbeda)); di dalamnya diajarkan ilmu-ilmu kepesantrenan.

Kemudian, muncul pesantren modern. Lalu, lagi musim-musimnya nich, bertebaran rumah tahfidz. Di luar itu; ada juga majelis taklim, atau panti asuhan.”

“Apa bedanya semua itu?”

“Hal pesantren sudah disampaikan tadi. Rumah atau pesantren tahfidz adalah tempat para penghalafal quran.”

Kata tahfidz berasal dari: hafizha – yahfazhu – hifzhan; artinya: memelihara, menjaga, mengawasi, menghafal.

Para santri di rumah tahfidz kegiatannya menghafal Quran.

Kalau dalam ayat ini, kata itu berarti pelihara atau jaga, bukan hafal:

… حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ
“Peliharalah shalat-shalat itu, dan (peliharalah) shalat wusthaa!” (QS. Al-Baqarah: 238).

Mejelis Taklim adalah bangunan, rumah, atau tempat orang memberikan dan menerima ilmu. Yang dimaksud adalah ilmu agama. Pemberi ilmunya: kiai, ustaz, da’i, mubalig, penceramah. Penerima ilmu: jamaah atau hadirin, kayak kita-kita ini.

“Apa pula beda kiai, ustaz, da’i, mubalig, penceramah itu?”

“Bisa baca buku ketiga saya “Bahagiakan Dirimu dengan Membahagiakan Orang Lain, Gramedia, 2013.”

Panti Asuhan mah tempat atau lembaga di mana anak-anak yatim dan/atau duafa mendapatkan bantuan agar mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup -paling tidak _basic need_ – dan pendidikan.

“Yayasan Ar-Rahmah itu pesantren atau panti asuhan?”

“Banyak orang yang menyebutnya pesantren; ada juga yang bilang panti asuhan. Bukan kedua-keduanya.”

“Mengapa?”

“Kalau pesantren, seperti disampaikan tadi, ada kurikulum kepesantrenan; di kami tidak ada. Anak-anak menuntut ilmu pada sekolah umum, di luar; sepulang sekolah, mereka belajar mengaji Al-Quran; ditambah diskusi fikih keseharian.”

“Panti asuhan, terutama di daerah; terkesan -maaf- kumuh, anak-anaknya cenderung terlihat menyedihkan, dan umumnya mereka bersekolah umum hingga tingkatan dasar saja. Di kami, alhamdulillah, semuanya ceria; dan, anak-anak diusahakan mendapatkan pendidikan, paling tidak, sampai SLTA.

Sering, kalau ada rezeki, mereka kami bawa piknik ke tempat wisata; saya ajak ke undangan di gedung atau hotel besar, agar mereka tahu suasana resepsi dan mencicipi makanan enak, selera orang-orang kaya.

Kalau ada dinas di hotel; selesai rapat, saya pulang ke rumah; secara bergantian, anak-anak yang menikmati fasilitas hotel.

Ar-Rahmah mah unik, kekeluargaan saja. Walau kami menjalani hidup dengan sangat-sangat sederhana; untuk anak-anak yatim/duafa, sepanjang kami bisa makan, mereka makan. Dan, pendidikian diutamakan.

“OK, Kang. Nanti sepulang umrah, kita teruskan ya!”

“Sip! Nitip doa, dong!”

“Boleh.”



Ciomas, 7 September 2024. Bakda Ashar. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar