Ketika sedang melihat-lihat tanaman, tadi pagi, dari Bandung, seorang kawan berkirim pesan via WA, bertanya:
“Kapan pintu surga dan neraka dibuka?”
Mendapat pertanyaan agak beda ini, kaget juga saya!
Tadinya, mau langsung saya respons dengan pertanyaan lagi:
“Apa sudah siap? Mau pergi sekarang?”
Tak jadi. Saya, malah menjadi teringat kembali tentang “kejadian” di dalam kelas, di dua Sekolah Dasar.
Seorang guru bertanya kepada murid-muridnya, “Siapa yg mau masuk surga?”
Serentak semua murid mengangkat tangannya seraya berteriak, “Sayaaa!”
Tapi, seorang anak berambut, diam saja, tak berteriak dan tidak mengacungkan tangan. _No response._
Bu Guru menghampirinya, “Kamu tak mau masuk surga?”
Si anak menjawab, “Sebelum meninggal, bapak saya berpesan, ‘Kamu jangan masuk ke mana-mana, kamu harus masuk tentara!”‘
Di kelas yang berbeda, pada sekolah lain, dengan pertanyaan yang sama, Pak Guru bertanya kepada para siswa:
“Siapa yang mau masuk surga?”
Hal hampir serupa, terjadi pula.
Kecuali seorang anak, semua siswa menjawab dengan keras, sambil mengangkat tangan kanannya,”Sayaaa!”
Pak Guru mendekat kepada anak yang diam saja itu.
“Kamu tak mau masuk surga?”
Anak itu menjawab, “Emang, mau pergi sekarang, Pak?”
Menerima pertanyaan di atas, hampir saya menjawab dengan pertanyaan anak kedua ini. Tak jadi.
Surga dan neraka, sudah ada. Menurut jumhur ulama, sudah ada tapi keduanya belum berpenghuni.
Rasulullah ﷺ bersabda, ”Aku adalah nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat. Dan aku adalah manusia yang pertama kali mengetuk pintu surga.” (HR. Muslim)
“Aku mendatangi pintu surga pada hari kiamat. Kemudian, aku meminta agar dibukakan. Lalu penjaga pintu surga bertanya,
”Siapa kamu?”
“Muhammad,” jawabku.
“Aku diperintahkan agar tidak membuka pintu untuk siapa pun sebelum kamu,” jawab penjaga surga.” (HR. Ahmad).
Adapun mengenai kabar hal adanya orang-orang tertentu yang disebutkan di surga atau neraka, menurut para ulama, itu sebagai kabar gembira dan peringatan saja bahwa orang-orang saleh akan kembali ke sana. Demikian juga sebaliknya. _Nauudzubillahi min dzaalik_.
Jadi, walau belum ada yang tinggal di sana, pintu-pintu sudah siap.
Dan, yang lebih penting adalah bagaimana kita mempersiapkan diri sebelum memasuki pintu itu.
Akan halnya, pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup; itu simbolis.
Pada Ramadhan jalan-jalan dan pintu-pintu menuju kesalehan, dimudahkan. Orang dimudahkan untuk melaksanakan berbagai kebaikan dan akan segan untuk berbuat jahat.
Pada bulan Ramadhan, jangankan yang wajib, untuk ibadah-ibadah sunah saja, kaum muslimin -bahkan tak sedikit kawan-kawan dari agama lain, berlomba melakukannya.
Masjid-masjid disesaki mereka yang shalat Tarawih. Azan Magrib belum berkumandang, lantai-lantai masjid sudah digelari sajadah-sajadah yang mau shalat sunah berjamaah setelah Isya.
Sedekah melebar ke mana-mana; dari masjid, madrasah, panti, hingga ke pinggir-pinggir jalan raya.
Bagi yang memiliki rezeki berlebih, dan lebihnya banyak; umrah menjadi pilihan wisata religi yang laris manis.
“Btw, katanya, di bulan puasa setan-setan diborgol; tapi yang makan hak rakyat, yang berdusta kepada orang banyak, yang melakukan tipu-tipu terhadap masyarakat umum, walau di bulan puasa, tetap ada! Kumaha, tah?”
Kalau seseorang menjalankan puasa dengan benar, setan akan terborgol terhadapnya. If not, ia bisa bekerja sama dengan setan atau setan belajar dari mereka, melakukan semua kekeliruan itu.
Kendatipun perbuatan jahat itu atas rencana dan inisiatif sendiri, seringkali setanlah yang mereka tuduh, telah menggodanya!
“Ah, ini mah iseng-iseng di hari-hari awal Ranadhan!”
Akhir Dhuha 03 Maret 2025. Salam hangat dari Ciomas, Jr.
Tinggalkan komentar