Bakda Subuh, tadi pagi, bersama istri, kakak ipar, dan seorang teman; sy meninggalkan Ciomas, menuju Bandung.
Istri saya perlu ketemu beberapa orang di Jln. Kopo, Bandung Selatan, utk suatu pembicaran; sy, keperluan utamanya, ke daerah Cicaheum-Cileunyi, Bandung Timur; silaturahmi kepada kawan yg sdg tertimpa musibah.
Lantaran belum mendapat konfirmasi dari yg akan dikunjungi, saya ikut dulu ke Kopo.
Kami keluar di pintu tol Soreang.
Sebab belum sempat sarapan, di sebuah warung nasi yg baru buka pintunya saja, rombongan berhenti.
Untuk memastikan, sudah atau belum siapnya itu warung terima tamu, sy turun duluan; istri menunggu dulu di kendaraan.
“Tos buka?” dalam bahasa daerah, sy bertanya kepada yg berada depan pintu.
“Parantos, Pak. Mangga lebet.”
Sy memberi isyarat kepada yg di mobil bahwa OK.
Ibu dari anak2 kami turun dari mobil dan mengikuti sy masuk ke tempat makan.
“Pun ibu?” sambil mengarahkan pandangannya kepada sy & istri, orang warung bertanya.
Walau pemakaian kata “pun” itu salah, sambil tertawa gembira, sy menjawab, “Muhun!”
Ada 2 kemungkinan dari kata “ibu” yg dia katakan: 1. istri atau 2. ibu saya.
Untuk membangga-banggakan diri & mengusili istri – dianggap diri masih sangat muda, sy mengambil arti yg kedua: ibu. Jadi, sy adalah anaknya.
Hal yg sama, terjadi sktr 5 tahun lalu, ketika ke Batusangkar, Sumbar. Kami menginap di rmh seorang kawan.
Pagi2, setelah shalat Subuh, jln kaki ke warung belakang rumah. Istri berangkat duluan. Sy menyusul.
Pas saya tiba, pemilik warung bertanya, “Ini anaknya?”
Sambil tersenyum lebar, sy mengangguk.
“Enak saja, disebut anak, ya!” ke arah sy di berkata
“Ini suami sy, Bu,” kepada Ibu warung ia menjelaskan.
Kembali ke cerita pagi ini, bpk penjual nasi menggunakan kata “pun”, yg maksud dia kata itu berati Bpk/Anda: istri/ibu Bapak?
Ini adalah kesalahan umum, the common mistaken penggunaan kata dlm bahasa Sunda.
Banyak di antara kita, orang Sunda asli sekalipun, salah memahami & menggunakan kata “pun”.
Istri sy pernah sakit, 3-4 bulan, tak bisa apa2. Hanya tergeletak di tempat tidur. Ia kena TB tulang, hingga suatu hari dioperasi.
Karena risiko tinggi operasi tulang belakang, kata dokter Luthfi Gatam kemungkinan keberhasilannya: fifty-fifty, menjelang hari tindakan, sy hubungi banyak teman2, para ustaz, dan kiai2: mohon doa.
Melalui doa banyak pihak & atas kuasa-Nya, alhamdulilah, semuanya lancar.
Sekian tahun berlalu. Apabila bertemu teman2 yg dulu termasuk yg dimintai doa, dlm bahasa Sunda, mereka bertanya:
“Kumaha wartosna pun bojo?”
Maksud pertanyaan itu: Bagaimana kabar (kesehatan) istrimu (pascaoperasi).
Tapi, dg redaksi bhs tsb, yakni menggunakan possesive pun, kalimat itu, terjemahnya: “Bagaimana kabar istri saya?” Istri dari yg bertanya
Kepada sebagian dari kawan2 itu, sy membalas dg bercanda, kalau di-Indonesiakan, “Kamu lebih tahu tentang istrimu dibanding aku! Tanya saja dia!”
Pun dlm bhs Sunda adalah my dlm bhs Inggris.
Kalau kita mau bilang …-mu/kamu (istrimu/kakakmu/ayahmu/ibumu), gunakan kata tuang yg bhs Inggrisnya: your.
Tuang raka/rayi/rama/ibu/istri.
Dlm prjln Soreang-Ciwidey, 5/12/25. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar