“Kang Jonih, mohon pencerahan untuk _Sayyidul Istighfar_, sejarah dan manfaatnya. Saya belum pernah dikenalkan oleh guru-guru saya, dulu.
Baru tahu, 5 tahun terakhir. Nuhun pisan, Pak Ustaz,” seorang senior dari kawasan Bandung Utara, tadi pagi, berkirim pesan.
Hal _sayyidul Istighfar_ dan manfaatnya, akan disajikan di sini. Adapun sejarah atau _asbabul-wurud_-nya, sebab bukan menyangkut masalah hukum, tidak begitu diperlukan.
Kata “istigfar” (bahasa Indonesia) berasal dari “istighfar”/istighfaran (bahasa Arab).
Istighfar berasal dari: ghafara – yaghfiru – ghafran – ghafraanan – maghfiratan istighfaran; artinya: menutupi, mengampuni
_AstighfarallaaHu dzanba_: memohon ampun kepada Allah atas segala dosa.
Istighfar adalah permohonan ampun; maghfirah: ampunan.
Fi’il amr (kata perintah)-nya: istaghfir.
Dalam bahasa Arab, kalau memerintahkan orang agar beristigfar; menyuruh kamu memohon ampun, kata yang digunakan, bukan “istighfar…istighfar…istighfar; tapi “istaghfir…istaghfir…istaghfir! Mohon ampunlah kamu!
Apabila kita bilang, “Istighfar…istighfar…istighfar!” Artinya: permohonan ampun…permohonan ampun…permohonan ampun. Orang Timteng pikir, “Kenapa ini orang, ngomong nggak jelas?”
Kecuali para nabi, tidak ada manusia yang terlepas dari dosa. Akan tetapi, Allah adalah Maha Pengampun.
Allah berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ
“Maka, aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.’” (QS. Nuh: 10).
وَمَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا اَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهٗ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110).
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang melazimi istigfar, Allah ﷻ. menjadikan untuknya bagi setiap kesempitan jalan keluar, setiap kebimbangan kelapangan, dan Allah mengaruniakan kepadanya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Daud).
“Barangsiapa mengucapkannya (_sayyidul istighfar_) di siang hari dengan meyakininya. Lalu, dia mati pada hari itu sebelum sore hari, maka dia termasuk penghuni surga.
Dan barangsiapa mengucapkannya di malam hari dengan meyakininya. Lalu, dia mati pada malam itu sebelum pagi, maka dia termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari).
Banyak teks permohoan ampun (_istighfar_) seorang hamba kepada Tuhannya. Dari semua redaksi istigfar, ada yang paling komprehensif, bahasanya padat dan berisi, dikenal sebagai _Sayyidul Istighfar_
Murid-murid di sekolah atau para santri di pesantren, menyebut teks istigfar dengan redaksi ini sebagai “Rajanya Istigfar”.
Perhatikan dan resapi makna tiap kata dari Top-nya Istigfar ini:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ،
أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ
فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
_AllaaHumma anta robbii laa ilaHa illaa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa ana ‘alaa ‘aHdika wa wa’dika mastatho’tu_.
_A’uudzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbii_,
_faghfirlii fainnaHuu laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta_.
“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku akan berusaha selalu ta’at kepada-Mu, semampuku.
Aku berlindung kepada-Mu, dari keburukan yg kuperbuat. Kuakui segala nikmat yang Engkau berikan padaku, dan kuakui dosaku.
Maka, ampunilah aku ya Allah. Sesungguhnya tidak ada yg bisa mengampuni dosa kecuali Engkau.”
Agar saat membacanya menjadi lebih khusyuk, saya terjemahkan istigfar ini per kata.
*Terjemah Per Kata*
اَللَّهُمَّ
AllaaHumma
Ya Allah
أَنْتَ
anta
Engkau
رَبِّيْ
rabbii
tuhanku
لَا
Laa
Tidak ada
إِلَهَ
ilaaHa
tuhan
إِلَّا
illaa
kecuali
أَنْتَ
anta
Engkau
خَلَقْتَنِيْ
kholaqtanii
yang menciptakan aku
وَأَنَا
wa ana
dan aku
عَبْدُكَ
‘abduka
(adalah) hamba-Mu
وَأَنَا
wa ana
dan aku
عَلَى
‘alaa
atas/berada dalam
عَهْدِكَ
‘aHdika
perjanjian dg-Mu
وَوَعْدِكَ
wawa’dika
dan aku akan memenuhinya kepada-Mu
مَا اسْتَطَعْتُ
mastatho’tu
semampuku
أَعُوْذُ بِكَ
A’uudzibika
Aku berlindung kpd-Mu
مِنْ
min
dari
شَرِّ
syarri
keburukan
مَا
maa
apa2/segala
صَنَعْتُ
shona’tu
yang aku lakukan
أَبُوْءُ لَكَ
abuu-u laka
Aku mengakui kpd-Mu
بِنِعْمَتِكَ
bini’matika
atas karunia nikmat-Mu
عَلَيَّ
‘alaa
atasku
وَأَبُوْءُ
wa abuu-u
dan aku mengakui
بِذَنْبِيْ
bi dzanbii
akan dosaku
فَاغْفِرْ
maka, berilah ampunan
لِيْ
lii
bagiku
فَإِنَّهُ
fa innaHu
karena sesungguhnya
لَا
laa
tidak ada
يَغْفِرُ
(yang dapat) mengampuni4
الذُّنُوْبَ
adz-dzunuuba
dosa-dosa
إِلَّا
illaa
kecuali
أَنْتَ
Engkau
Dianjurkan untuk membacanya, pada setiap awal pagi dan ketika mau masuk malam.
Ciomas, 10 April 2025, bakda Zuhur. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar