Para mahasiswa Indonesia yang kuliah di negara-negara maju; di Eropa, Amerika, Australia, atau Jepang; setelah menyelesaikan sekolahnya, ada yang kembali ke tanah air; dan banyak juga yang bekerja dan menetap di negeri tempat mereka studi.
Yang sering saya dengar, alasan utama anak-anak muda tersebut memutuskan untuk bekerja dan tinggal di negara-negara kaya itu adalah, katanya, “Di negeri sana, orang-orangnya tertib, disiplin; lingkungannya bersih,” dan –tentu saja- imbal jasa yang menarik!
Ada juga yang, kalau pulang ke Indonesia tidak atau belum ada jenis pekerjaan yang sesuai dengan bidang studinya.
Dulu. Ketika Pak Habibie mengirim banyak mahasiswa Indonesia ke luar negeri, di antara mereka tak hanya menyelesaikan pendidikan strata S1, tapi juga S2 dan S3.
Lantaran jenis pekerjaan yang sesuai keahliannya, sebagaimana jurusan yang mereka tempuh selama kuliah, tidak ada atau belum tersedia di tanah air, balik lagilah para doktor itu ke negara-negara tempat mereka kuliah dahulu.
Ada hal menarik bahwa di beberapa negara makmur, kalaupun kita kena PHK dan kemudian menganggur, masih dapat tunjangan dari pemerintah, tiap bulannya –yang besarnya, kalau di Indonesia, kira-kira, setara gaji seorang manajer di sebuah perusahaan besar. Lebih dari lumayanlah!
Dahulu, di Madinah, waktu istirahat untuk makan malam, seorang jamaah orang Indonesia tapi menetap di Australia, bercerita bahwa dia seorang _IT engineer_. “Tapi, sekarang saya sedang tak ada kerjaan alias pengangguran.”
“Untuk keperluan biaya sehari-hari, bagaimana?” saya bertanya.
“Pemerintah memberikan biaya hidup yang cukup untuk mereka yang sedang tidak punya pekerjaan.”
Di Euro Management Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu kemarin, seorang senior menyapa saya. “Pak Jonih, ya? Saya selalu baca tulisan-tulisannya. Bagus-bagus, Pak!”
Pria berusia tapi masih tampak perkasa itu adalah Pak Chairul. Ia seorang dokter sekaligus tentara di Angkatan Udara. Pantas, walau sudah tak muda, badan dan wajahnya segar bugar!
Berada satu meja dengan saya, sambil menikmati makanan ringan yang disediakan panitia, Pak Dokter berbicara tentang keluarga.
“Anak saya, beberapa bulan lalu, pulang ke Indonesia. Tapi, sebelum lebaran, ia malah balik lagi ke Jerman. Katanya, enakan di sono.”
Putra beliau bekerja di Airbus, pabrik perusahaan pesawat terbang terbesar di Jerman, perusahaan multinasional trans-Eropa, dan merupakan salah satu produsen pesawat terbesar di dunia.
“Saat perusahaan melakukan perampingan, anak saya ditawari untuk tetap bekerja tapi turun jabatan atau _resign_. Ia memilih yang kedua. Waktu dapat pesanggon itu, dia pulang dulu ke tanah air.”
“Jadi, status dia saat ini, menganggur. Namun, masih mendapat “gaji” dari pemerintah.
Bu Luki Liestiowati (Luki), istri dari Pak Wahjoe Widajat (Wiwied), dan ibu dari seorang mahasiswa (kini sudah lulus) Indonesia di Jerman, Ari Sulistio Wicaksono, diminta panitia, menyampaikan _sharing_.
“Anak kami, setelah lulus kuliah, bekerja di Jerman,” Bu Luki memulai ceritanya.
“Awalnya, saya tidak setuju ia kuliah di Jerman. Apalagi, dia diterima di UI, tanpa tes. Tapi, anak itu mengancam, “Jika tidak sekolah di LN, saya tak mau sekolah!” Pergilah ia ke Jerman.
Seperti banyak orangtua lainnya, setelah anaknya lulus kuliah, agar mudah dan sering bertemu, berharap mereka mendapatkan pekerjaan dan tinggal di Indonesia. “Tapi, anak saya, Ari dan istrinya, Dwina; memilih tinggal di Jerman.”
“Kita kan, orangtua, hanya mengarahkan. Selanjutnya, mereka sendiri yang menentukan.”
Eyang dari Isam, Naufal, Ashila, Dinaya, Beben, dan Noah, ini mengutip apa yang Kahlil Gibran sampaikan bahwa orangtua berperan sebagai pembimbing yang membantu anak-anak mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan.
“Anakmu bukanlah Anakmu, Mereka adalah putra dan putri kehidupan.”
“Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.”
Ayah dan Ibu adalah busur yang memberikan arah dan dorongan, sementara anak-anak adalah panah yang akan melesat menuju tujuan hidup mereka sendiri.
“Anak-anak sudah menentukan pilihannya sendiri, kita mendukung saja,” tambah Bu Luki.
Ada cerita menarik yang disampaikan Bu Luki. Kisah di luar konteks perkuliahan ataupun pekerjaan.
Anak dan menantunya kreatif. Mereka suka memasak, dicicipi oleh teman-teman kerja; dan disukai mereka.
Ari dan Dwina biasa memasak rendang, bakso, mpek-mpek, soto Betawi, soto mie, martabak manis, sate Padang, mie ayam, ayam kremes, nasi uduk, nasi goring, sambal matah, konro bakar, ayam goreng tepung.
Dari semua masakan Indonesia yang disajikan, yang paling disenangi dan laris manis dalam penjualan adalah: rendang, mpek-mpek, bakso, nasi goreng, dan martabak.
Kawan-kawan kerjanya, sangat sering memesan makanan-makanan itu. Kabar enaknya masakan anak dan menantu Bu Luki, menyebar. Pesanan makanan pun semakin meluas.
“Jika waktu senggang, anak-mantu saya diminta Asosiasi Pengusaha Jerman untuk menyediakan makanan Indonesia. Pada acara-acara seperti rapat koordinasi, para pebisnis Jerman itu bisa memesan nasi goreng sampai 400 porsi!”
“Tanggal 17 Agustus lalu, di Hamburg, Ari dan Dwina, buka lapak. Bakso 150 porsi dan martabak 50 loyang, ludes. Bahkan kurang!”
Seperti orangtuanya, Ari dan istrinya, pun suka berbagi. Tiap bulan puasa, 1-2 kali, mereka bersedekah secara rutin dengan memasak untuk berbuka puasa para mahasiswa yang tergabung dalam PPI.*
* PPI –Persatuan Pelajar Indonesia di luar negeri, tersebar di berbagai negara.
Yang hadir untuk berbuka puasa bersama, semua mahasiswa. muslim dan nonmuslim.
Melihat minat dan antusiasnya orang-orang di Jerman atas masakan produksi anak dan menantunya ini, Bu Luki pernah bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian tidak coba buka lapak di Pasar Malam Jerman?”
Ari menjawab, “Saya tidak mau membunuh usaha kuliner anak-anak Indonesia lain di sana. Tak tega!”
“Anak saya juga suka mengutak-atik PC. Pernah juga, dia buat _content_ di youtube, 3 kali, tentang bagaimana merawat PC. Ia pun dapat uang dari Youtube.
Sebuah perusahaan di Cina melihat youtube Ari. Lalu, anak saya dikirim _keyboard_ oleh perusahaan itu untuk di-reviu. Karena itu merupakan hobi, ia melakukannya tanpa pamrih.Eeeeh, Ari dapat kiriman uang atas hasil penjualan keyboard tersebut.
Sayang, dia sibuk lagi dengan pekrjaannya, sehingga hobi _ngurus_ PC-nya berhenti dulu.
Kembali ke soal makanan, setahu saya –dari beberapa teman orang-orang sono, memang mereka menyukai masakan Indonesia –yang kuat di perbumbuan atau kue yang manis sekali.
Dahulu kala, saya mengikuti _short course_, 3 bulan, di University of Tulsa, di Tulsa city, Oklahoma, USA, atas beasiswa dari Pemerintah Amerika melalui USAID –United States Agency for International Development.
Saat acara masak-masak; kami menyajikan lotek. “Indonesian salad,” saya bilang kepada kawan-kawan dari manca Negara itu. Laku juga.
Di Stavanger, Norwegia, bersama seorang kawan dari Indonesia, saya mengikuti seminar, 2 bulan –beasiswa dari pemerintah Norwegia melalui NORAD –Norwegian agency for Development Cooperation dan PETRAD -International Programme for Petroleum Management and Administration.
Peserta berasal dari 38 negara. Pada malam-malam tertentu, secara bergantian, saya undang kawan-kawan dari macam-macam bangsa, makan mie instan di kamar saya. “Indonesian noodle soup,” kata saya.
Saya kasih pedas yang banyak. “Very strong!” sembari meraba bibir, mereka berkata. Kata orang Sunda, orang-orang itu _seuhah_ , kepedasan, sambil bilang, “Enak sekaleee!”
Dulu juga, waktu masih kuliah, saya punya teman suami-istri dari California, tinggal 6 bulan di Bandung. Hampir tiap malam, saya mengajar bahasa Indonesia dan Sunda kepada pasangan bule muda itu. Mereka membimbing saya berbahasa Inggris.
Makanan kesukaan mereka adalah martabak manis yang tebal -seperti Martabak Mang Tata, _zaman baheula_ – di simpang-3 Kopo-Nyengseret, depan RS. Immanuel, Bandung.
Lain hal nya dengan 3 teman dari _Jepun_. Mereka sangat menyukai sate kambing dengan potongan bawang merah yang banyak. Katanya, di Jepang tak ada bawang merah. Setiap makan sate, mereka minta potongan (bukan irisan) bawang merah yang banyak.
Ke kediaman kami di Ciomas, dulu –sebelum pandemi, sering ada tamu menginap. Mereka adalah para _travellers_ dari banyak kota dan negara. Ada yang dari Malaysia, India, Skotlandia, Rusia, dan negara lainnya.
Minggu pagi, saya ajak sarapan di Kafe Asep Jurasep, di bundaran Kompleks Villa Ciomas, _walking distance_ lah dari rumah kami. Pak Asep, kawan saya ini, adalah Ketua Paguyuban Asep Sedunia, Komwil Bogor.
“Apa menunya?”
“Makanan Sunda: kacang rebus, pisang goreng, singkong goreng dan rebus, katimus, ubi jalar rebus. Ada juga nasi kuning, leupeut, lemper, dan ketan/uli. Untuk minumnya, rupa-rupa teh, aneka macam kopi dari berbagai pelosok negeri, wedhang uwuh, dan bandrek, tersedia.
Adapun tamu dari Prancis, menyukai minum Teh Prendjak. “Wanginya khas!” katanya.
Kesukaan akan makanan, tiap orang, setiap bangsa, bisa berbeda-beda. Warga satu rumah saja, macam-macam kesukaannya. Demikian juga orang-orang di negara-negara di mana anak-anak Euro Management belajar.
Untuk di Jerman, seperti kata Bu Luki, paling tidak di lingkungan anak, menantu, dan cucu-cucunya hidup; bule-bule itu sangat menyukai rendang, mpek-mpek, bakso, nasi goreng, dan martabak!
Ciomas, 11 Mei, tengah malam. Ditulis setelah menikmati bakso –di pinggir jalan, 2 mangkuk; disambung mpek-mpek, buatan seorang keponakan, di rumahnya, 3 porsi! Penulisan dilanjutkan dan diselesaikan, barusan, @13 Mei 2025, bakda Zuhur. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar