Menyusul artikel-artikel yang saya beri judul “Musibah” dan “Penolak Petaka”, ada permintaan dari seorang pembaca:
“Punten, boleh _request_, bahas mengatasi mengenai ketika tiba-tiba tidak enak perasaan, padahal enggak ada apa-apa?”
Manusia -ketika membaca, menyaksikan, atau merasakan suatu peristiwa; mempunyai cara pandang, sikap, respons, dan perasaan berbeda-beda.
Saya punya teman yang pembawaannya ceria dan sangat rajin tertawa, tapi sangat mudah juga menangis.
Beberapa kawan lainnya bercerita bahwa mereka sangat sulit menangis. Dua orang di antaranya, di tempat terpisah, pada waktu tak sama, berkata kepada saya, “Seumur hidup, baru 2 kali saya menangis.”
Pada salah satu di antaranya, tangisan kedua terjadi, ketika kami mengobrol empat mata.
Yang lainnya, menangis pertama kali saat kepergian ayahnya; dan tangisan kedua, dia bercerita kepada saya, “Ketika membaca buku Malaikat Cinta –sisi lain ibadah haji yang menyentuh hati.”
Dalam menghadapi suatu situasi agak genting, orang pun tidak sama menyikapinya. Ada yang langsung panik, sambil bingung harus bertindak begaimana; ada yang kelihatannya tenang-tenang saja, seraya ia mencarikan solusi dan langkah apa yang sebaiknya ditempuh.
Ada orang, yang kelihatannya tidak terlihat tertiup angin, tak kena hujan; tiba-tiba senyum-senyum sendiri, kegirangan. Ia sedang _happy_!
Kebalikannya pun, tidak jarang terjadi. Rasanya, di kantor maupun di rumah, tak ada masalah. Teman-teman di organisasi pun aman-aman saja; tapi dada berdebar, hati sedih, rasa cemas dan gelisah menerpa perasaan.
Orang psikologi menyebut kejadian ini sebagai _free-floating anxiety_, yakni perasaan tak nyaman, gelisah, dan resah yang alasannya tidak jelas.
Lantaran jiwa tak tenang, melakukan ini salah, mengerjakan itu salah. Tak bisa konsentrasi, pikiran melayang ke mana-mana. Kadang juga, disertai rasa takut yang menyelimuti.
“Ada apa gerangan?”
“Apa yang harus dilakukan? Bagaimana mengatasinya?”
Baik diketahui bahwa hampir semua orang pernah mengalami gelisah dan cemas. Kadar dan jenisnya saja yang berbeda. Jadi, tak usah terlalu khawatir.
Ada beberapa orang lakukan untuk mengatasi hal ini, di antaranya:
*Curcor*
Berbicaralah kepada seseorang yang bisa dipercaya, teman dekat atau pun yang sebelumnya tak pernah pernah bertemu sekali pun, yang bisa memberikan energi positif.
Dia mau mendengarkan dengan sabar dan memberikan masukan yang menenangkan, sehingga beban yang diderita menjadi ringan.
_Curcor_-lah di tempat yang nyaman untuk berbicara, pada waktu yang senggang, tentang apa yang dialami.
Ada peribahasa Swedia:
*Shared joy is double joy; shared sorrow is half sorrow.* Kebahagian, ketika kita share kepada kawan2, akan berlipat, tambah bahagia. Kesedihan saat kita ceritakan kepada orang-orang tepat, berkurang menjadi setengahnya -hingga seperempat atau hilang sama sekali.
*Psikolog dan Terapi*
Bisa juga datang ke psikolog untuk konsultasi. Jika diperlukan dan disarankan oleh ahli psikologi, melakukan terapi, seperti CBT _-Cognitive Behavioral Therapy_ atau ERP _-Exposure Response Prevention_.
Tidak mustahil dengan diskusi santai bersama ahlinya ini, masalah lekas terselesaikan.
*Membahagiakan orang lain*
Datangi tempat orang-orang susah, masyarakat terpinggirkan, kaum fakir dan miskin. Bercengkeramalah dengan orang-orang kecil itu. Kalau ada rezeki, bersedekahlah kepada mereka.
Bahagiakan orang-orang miskin itu. Ketika mereka berbagia atas apa yang Anda berikan, pada saat yang sama kau mendapatkan kebahagian yang lebih dari apa yang mereka dapatkan. *Bahagiakan dirimu dengan membahagiakan orang lain.* Bahagia datang, resah-gelisah hilang!
*Mengalihkan perhatian dan pikiran* agar rasa gelisah menjadi berkurang dengan mendatangi tempat-tempat yang bisa membuat rasa dan pikiran tenang.
Datanglah ke area pegunungan, hiruplah udara segar, lihatlah pemandangan indah, dengarkan suara alam dan resapi suasana alam terbuka:
gemericik air sungai di antara bebatuan; angin yang bertiup perlahan; dan burung-burung yang beterbangan.
Duduklah pada batu di tengah sungai. Perhatikan aliran air yang begitu jernih; basahi dan celupkan kaki, goyang-goyangkan di dalam air.
Lihat juga tebaran batu-batu berukuran sangat besar hingga yang paling kecil -yang menahan arus agar tak terlalu deras, sehingga Anda bisa bermain air dan duduk di atas batu-batu itu.
Perhatikan hijaunya pepohonan yang mengitari kali, tatap dedaunan yang melambai-lambai ditiup udara yang bergerak, menyapa yang memerhatikannya, seakan mereka berkata, “Selamat datang di alam nan nyaman!”
Sesekali, tengadahkan wajah ke arah atas, melihat awan di langit tinggi, mega-mega bergerak mengajak _move on_! “Mari kita pergi, tinggalkan duka!”
Datangilah air terjun. Duduk sebentar di tepi kolam yang dibentuk jatuhan air. Dengarkan gemuruh air curug. Nikmati sensasi terpaan angin yang membawa butir-butir air dari ketinggian.
Segera ganti pakaian, masuklah ke kolam yang terbentuk. Lalu, mendekat dan menggapai titik jatuhnya air. Mandilah dengan _guyuran_ air terjun; dan –boleh, sepanjang tidak ada pengunjung lain- berteriak sepuasnya. Lepaskan beban!
Gumamkan bibir, “_Rabbanaa maa khalaqta Haadzaa baathila…_” (QS. Ali Imran: 191)
Tuhan, tentu Engkau tidak ciptakan ini dengan sia-sia!” Semua ada manfaatnya bagi manusia. Bagiku!
Merenunglah sejenak akan pelbagai karunia yang selama ini kita terima. Bahkan, banyak kenikmatan yang orang lain belum tentu mendapatkannya.
Ucapkan dalam hati:
اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
_AllaaHumma a-innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatika_
“Gusti, bantulah aku dalam berzikir dan bersyukur serta sebaik-baiknya beribadah kepada-Mu.”
(HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad, dan Hakim).
Sadari bahwa selama ini kita lebih banyak lalai:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا *وَإِنْ لَمْ* تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
_Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wain-lam* taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal –khaasiriin(a)_.
*idgham bilaa ghunnah, bunyi “nun” melebur ke “lam”, dibaca: “wail-lam”
“Tuhan Kami, kami telah berbuat zalim terhadap diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, sungguh kami termasuk golongan orang-orang yang rugi.”
Tanamkan dalam jiwa untuk menerima atas apa pun yang Tuhan berikan. Silakan baca, renungkan, dan hayati teks doa di bawah ini:
اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِـيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِـيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِي، وَنُوْرَ صَدْرِي، وَجَلاَءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي
“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, ubun-ubunku (nasib-ku) berada di tangan-Mu, telah pasti hukum-Mu atasku, adil ketetapan-Mu atasku, aku mohon kepada-Mu dengan perantara semua nama milik-Mu yang Engkau namakan sendiri dengannya, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada seseorang dari hamba-Mu, atau Engkau rahasiakan dalam ilmu gaib disisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai penawar hatiku, cahaya dalam dadaku, penghapus dukaku, dan pengusir keluh kesahku“. (HR. Ahmad).
*Berzikirlah sebanyak-banyaknya*:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
_Alladziina aamanuu wa tathmainnu quluubuHum bi dzikrillaaH; *alaa bi dzikrillaaHi tathmainnul-quluub(u)*._
“…(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. *Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”* (QS. Ar-Ra’d: 28).
*Sering-seringlah membaca doa:*
اللَّـــهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْحَـمِّ وَالْحَزَنِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْـِز وَاْلكَسَلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُـبْنِ وَالْبُخْـلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَتِ الدَّيْنِ وَقَـهْرِ الرِّجَالِ
_AllaaHumma innii a’uudzubika minal hammi wal-hazani, wa a’uudzubika minal ajzi wal kasali, wa a’uudzubika minal jubni wal bukhli, wa a’uudzubika min ghalabatid-daini, wa qahril-rijaal(i).._
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari resah-gelisah dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kecemasan, aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan lelah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat bakhil dan pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan manusia.”
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, sungguh aku bermohon kepada-Mu: ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.“ (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah).
Semoga menjawab dan menjadi jalan keluar dari resah dan gelisah.
Ciomas, 14 November 2024; bakda Ashar. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar