RSVP

“Mau hadir ke acara pernikahan putri dari Asep – Lia, di Majalengka, Sabtu yad.?” seorang sahabat dari kampung halamannya, di Tasikmalaya, setelah mengucapkan salam, dalam bahasa Sunda, bertanya.

“Rencananya, sih, insya Allah, akan menghadirinya; tapi teknis dan siapa yang berangkat, akan dibicarakan dulu dengan istri .

“Tapi, sudah merespons undangannnya? Kan, RSVP.”.

“Iya, Rumah Sakit Vusat Pertamina,” saya bercanda.

Dahulu, waktu masih ngantor, kalau di antara para pekerja ada yang sakit, umumnya berobat atau dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, yang sehari-hari, orang menyebutnya dg RSPP.

Pada undangan resepsi pernikahan atau acara lainnya, sering didapati, di pojok bawah kartu undangan tertulis RSVP.

Sebab, menjadi kebiasaan apabila membaca, menyebut, atau mendengar bunyi huruf2 itu dikaitkan dg nama rumah sakit, maka ketika mendapatkan RSPV pun, dipelesetkan ke situ.

Kang dokter Asep Suandi dan Teh Inayah Kaniasari, ayah dan ibu Karin -CMW adalah teman2 lama, sejak dulu, waktu aktif di Masjid Salman ITB, saat masing2 masih sebagai mahasiswa..

Sesuai penugasan di RS Majalengka, pasangan saleh-salihah ini menetap di itu Kota Angin.

“Sudah dijawab atau belum RSVP-nya?” suara dari salah seorang guru bahasa Inggris saya, terdengar lagi.

“Belum.”

Sehari kemudian, Li –begitu saya biasa memanggil ibu dari Karin, mengirimkan WA, “Kang, kinten2 tiasa hadir ka Majalengka?”_

Pesan whatsapp ini, mengingatkan lagi ke telepon Kang Danil Firdaus, dari Tasik hal RSPV tadi.

Sampai saat itu, biasa, saya lupa; masih belum menjawabnya.

RSVP kependekan dari Répondez s’il vous plaît, dibaca: “reponde si vu ple”, bahasa Prancis; arti harfiahnya: “mohon dibalas”; orang Inggris bilang: please reply atau please respond . Mohon konfirmasi.

Maksud dari RSVP adalah meminta konfirmasi kepada terundang, apakah akan hadir atau tidak pada acara dimaksud. Sendiri atau dg istri? Anak?

. Kepastian melalui RSVP ini diperlulan, terutama untuk:

Membantu panitia mempersiapkan acara. Dg prediksi jumlah tamu yang datang, memudahkan mengatur penyiapan jumlah makanan dan pengaturan tempat duduk.

Efisiensi anggaran: pemesanan makanan/minuman disesuaikan jumlah tamu yg akan datang, sehingga menghindari kemubaziran.
.
Tuan rumah menjadi nyaman, sebab siapa saja yg akan hadir sudah diketahui dan persiapan menjadi lebih terencana.

Apresiasi. Dg RSVP, tamu merasa lebih terapresiasi dan mendorongnya untuk mengusahakan hadir.

Mengetahui Tamu VIP. Di antara undangan, biasanya ada tamu2 istimewa, para eksekutif, petinggi kantor, atau pejabat setempat, yang untuk makannya, diarahkan ke _VIP room. Dg RSVP, diketahui siapa saja di antara mereka yg perlu diperhatikan,

Suvenir. Pun, barangkali, diperlukan, menyiapkan jumlah bingkisan khusus untuk undangan tertentu, seperti yg saya dapatkan kemarin. Alhamdulillah. Hatur nuhun pisan, Pa Dokter & Ibu. Katampi!

“Bagaimana kalau hingga hari “H”, kita lupa atau belum meresponsnya?”

“Anda dianggap tidak akan hadir.”

“Apakah jika kita sudah menjawabnya dg akan atau tak bisa hadir, sebab pada waktu yg sama sdh terjadwal acara lain; tapi kemudian berubah menjadi sebaliknya, boleh diubah?”

“Bisa direvisi. Apalagi, hanya untuk 1-2 orang. Infokan saja secepatnya, ke pihak pengundang!”

Untuk pernikahan orang barat (Jawa Barat & Sumatra Barat) ini , Karin – Prima, saya menulis bahwa –insya Allah- akan hadir.

Terhadap undangan dalam bentuk elektronik –yg ada RSVP-nya itu, juga saya kirim balasan.

Jadi, kalau menerima undangan; dan padanya ada tulisan RSVP; setelah dibicarakan dalam keluarga; demi ikut meringankan pekerjaan panitia, lekaslah balas.

Untuk merespons RSVP, pihak pengundang menyediakan fasilitasnya berupa kartu respons yang sudah dicetak, nomor telepon, alamat e-mail, atau via media sosial.

Ah, ini mah sharing ringan saja!

Toh, hampir semua orang tahu, apa itu RSVP. Namun, barangkali saja, ada 1-2 orang yang memerlukan keterangan akan hal ini.

BTW Di acara resepsi ini, tambah senang; walau sesaat, bisa bertemu sahabat lawas, Uda Jufran Helmi & Teh Ema Manita Kuraesin, suami-istri orang “barat” juga.

Uda Jufran adalah insinyur mesin yg ustaz. Ema, kakak Lia, pernah di Salman juga.

Sebab sudah sangat lama tak jumpa, takut salah, Ema perlu konfirmasi. Waktu mahasiswa, saya kurus kering, sekarang tubuhnya subur. “Ieu Kang Jonih?”

Dahulu kala, Uda Jufran adalah salah seorang penceramah di Masjid Salman ITB. Belakangan, sebelum saya pensiun, ia adalah teman diskusi tiap Jumat sore, di Gd. Bidakara, Jakarta.

“Sudah sampai di mana novelnya, Uda?”

Ciomas, 22/12/25, waktu Dhuha. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar