“Kang, saudara saya sedang sakaratul maut di RS …, tolong dibimbing, ya!” seorang kawan lama asal Yogyakarta, kemarin pagi, menelepon.
Saya berada dalam posisi harus mengiyakan.
“Nomor _hp_ Akang, saya sampaikan ke keluarganya. Nanti, akan ada yang menelepon,” sambung suara itu.
Tak lama, alat komunikasi canggih itu berbunyi lagi. Ada telepon masuk dari suatu grup. Saya pijat tombol gabung.
“Pak Jonih, tolong,” seorang ibu, sambil menangis terisak-isak, berkata, “ …suami saya dibimbing. Ia sedang sakaratul maut.”
“Salah seorang membisikkan ke telinganya: “Allah…Allah…Allah, pelan-pelan dengan ada jeda, “saya menjawab.
“Sementara yang lain, buka _hp_, baca surat Ar-Ra’du,” saya menambahkan.
_“Hp_ saya tak dekatkan telinganya, ya; biar Pak Jonih yang bimbing saja!”
“Boleh…boleh!”
Dengan sangat pelan, saya berulangkali menyebutkan lafaz, “Allah…Allah…Allah.”
Komputer, saya buka juga. Saat jeda di antara penyebutan “Allah…Allah…Allah”, di dalam hati, saya baca surah Ar-Ra’du. Suara tangisan dari beberapa orang, terdengar jelas.
Sepuluh menit kemudian, komunikasi via telepon genggam terputus. Lalu, ada pesan masuk: “Kang, terima kasih, ya.”
Saya membalas dengan pesan:
“Ketika seseorang meninggal, bagian yang paling dahulu membeku adalah muka, dalam hal ini, mata dan mulut. Segera usap mata dan mulut almarhum dengan telapak tangan, hingga menutup.”
“Siap!”
*Talqin*
Saat seseorang hendak meninggalkan dunia ini, dianjurkan, keluarga, kerabat dekat, atau siapa saja yang ada di situ, membimbing orang yang akan melepaskan napas terakhirnya dengan kalimat tauhid: _Laa ilaaHa illallaaH._
Membimbing atau menuntun pengucapan itu disebut talqin.
لَقِنُوْا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه
“Tuntunlah orang yang sedang sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat: Tidak ada Tuhan selain Allah.” (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi).
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa yang akhir dari ucapannya adalah kalimat: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud).
Talqin dilakukan kalau orang yang sakit masih bisa diajak berkomunikasi serta masih dapat berbicara.
Kalau kondisinya memungkinkan berbicara agak panjang, kalimah yang dituntunkan berupa dua kalimah syahadat, atau cukup kalimah tahlil saja.
Jika kalimah itu pun, bagi yang sakit, dirasa terlalu berat untuk diucapkan, disingkat saja menjadi Allah…Allah…Allah.
Apabila pasien sudah tidak dapat berbicara, bisikkanlah agar ia mengulangnya di dalam hati.
Orang yang membimbing pengucapan kalimah itu, tak usah semua yang hadir; jangan banyak-banyak, satu orang saja.
*Yasin dan/atau Ar-Ra’du*
Bagaimana dengan hadirin lainnya yang ada di ruang rawat?
Bantu si sakit, agar Allah mudahkan dalam sakaratul maut, dengan membaca ayat-ayat tertentu. Umumnya, orang membaca Yasin, sebagian lainnya membaca Ar-Ra’du.
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- اقْرَءُوا (يس) عَلَى مَوْتَاكُمْ
Dari Ma’qil bin Yasar رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda, “Bacakanlah Yasin pada orang yang hampir mati di antara kalian.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Nasa’i, Ibnu Hibban).
Ada ulama yang menyarankan membaca surah Ar-Ra’du.
Syekh Zainuddin al-Malibari, dalam kitab _Irsyadul Ibad_, menyebutkan:
“Dianjurkan ketika ada orang yang sedang sakaratul maut, dibacakan surat Ar-Ra’du di sampingnya. Hal ini bisa meringankan orang yang meninggal dari penderitaan sakaratul maut, lebih mudah baginya untuk diambil nyawanya dan lebih meringankan kondisi (yang dialaminya)….”
Kemudian, apabila sudah dinyatakan meninggal, hendaknya tubuh jenazah, seluruhnya, ditutup dengan kain.
*Shalat Jenazah*
Di rumah, setelah dimandikan, jenazah disemayamkan di ruang yang luas.
Agar ruang untuk yang ziarah dan yang menyalatkan relatif leluasa, badan mayat diposisikan cenderung atau hampir menempel ke dinding barat.
Posisi kepala di utara, kaki ke arah selatan; miring sedikit ke kanan agar orang-orang yang menyalatkan menghadap ke kiblat.
Untuk sebagian besar wilayah Indonesia, arah kiblat adalah sekitar 25 derajat dari arah barat atau N 295 E (barat = N 270 E).
Shalat jenazah, bisa sendirian atau berjamaah.
Agar _sharing_ ini tidak melelahkan dibacanya. serta tata cara melakulkan ibadah ini bisa diuraikan agak rinci, sehingga jelas bagi pembaca, hal detail Shalat Jenazah, akan disusulkan kemudian, insya Allah.
Ciomas, waktu Dhuha bagian akhir, 21 Januari 2025. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar