Salat Hajat Praktis

Masih menindaklanjuti obrolan santai sambil makan siang bersama Om Teguh Wibowo dan Mas Indra Prasetya, di RM Padang TRIO Jumbo, Baranangsiang, Bogor.

Setelah diskusi mengenai Salat Tasbih, kita lanjutkan ke bicara  hal Salat Hajat.


Dalam bahasa Arab, hajat artinya memerlukan/membutuhkan.

Ia berasal dari kata: haaja – yahiiju – haijan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata hajat berarti: maksud, keinginan..

Orang Sunda, apabila mau menikahkan atau hendak mengkhitan anaknya, bilang:

“Bade hajat, nikahkeun pun anak, Neng Icih.”

Atau

“Eta jalan jadi macet, lantaran Kang Kabayan hajat, nyunatan nu bungsu, si Emen.”

Bade hajat atau hajat, ada maksud atau keinginan menikahkan, khitanan, atau acara syukuran lainnya.

Dalam sehari-hari, di Jawa Barat, hajat adalah kenduri, pesta yang ada makan-makannya.

Salat Hajat adalah salat yang dilakukan, karena kita membutuhkan atau memerlukan pertolongan Allah untuk tercapainya atau terkabulnya maksud tertentu.


”Barangsiapa yang mempunyai hajat kepada Allah atau kepada salah seorang di antara anak Adam, hendaklah ia berwudu dan membaguskan wudunya.

Kemudian, dia salat 2 rakaat dan memuji Allah Ta’ala. Lalu, membaca selawat kepada Nabi ﷺ.; dan hendaklah ia berkata:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الحَلِيمُ الكَرِيْمُ
_Laa ilaHa illallaaHul-haliimul-kariim(u)_

*Tiada Tuhan selain Allah -Yang Maha Pemurah*

سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيْمِ
_Sub-haanallaaHi robbil-‘arsyil-‘azhiim(i)_

*Mahasuci Allah yang menguasai ’arsy, yang agung*

والحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
_Wal-hamdulillaaHi robbil ‘aalamiin(a)_

*Dan segala puji bagi Allah. Tuhan semesta alam*

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ
_AllaaHumma innii as-aluka muujibaati rohmatika_

*Aku memohon kepada-Mu kepastian rahmat-Mu*

وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ
_Wa ‘azaa-ima maghfirotika_

*Dan ketetapan ampunan-Mu*

وَالْعِصْمَةَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ
_Wal-ishmata min kulli dzanbin_

*Dan perlindungan dari setiap dosa*

وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ
_Wal-ghoniimata min kulli birrin_

*Dan keberuntungan dari segala kebaikan*

  وَالسَلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ
_ Was-salaamata min kulli itsmin_

*Dan keselamatan dari segala kesalahan*

لَا تَدَعْ لِيْ ذَنْبًا
_Laa tada’lii dzanban_

*Janganlah Engkau tinggalkan bagiku dosa*

إِلَّا غَفَرْتَهُ
_illaa ghofartaHu_

kecuali Engkau ampunkan_

وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ
_Wa-laa Hamman illaa farrajtaHu_

*Jangan pula suatu kesulitan, kecuali Engkau selesaikan*

وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضىً
_Wa laa haajatan Hiya laka ridhon_

*Jangan pula suatu keinginan yang Engkau ridai*

إِلَّا قَضَيْتَهَا
_illaa qodhoitaHaa_

*kecuali Engkau kabulkan*

يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
_Yaa arhamar-roohimiin_

*Wahai Yang Mahakasih dan Mahasayang*


Kemudian, dia meminta dari segala keperluan dunia dan akhirat sekehendaknya, maka sesungguhnya ia ditakdirkan untuk menerimanya.’” (H.R. Tirmudzi, Nasai, dan Ibnu Majah).

Demikian hadis Nabi ﷺ tentang Salat Hajat. Karena itulah, setiap ada keperluan, besar atau pun kecil, saya biasanya melaksanakan Salat Hajat dan Salat Tasbih.

Dahulu, waktu baru-baru bekerja, saya berdoa agar punya rumah –karena biasa hidup di kampung- berlokasi di tengah-tengah masyarakat; dan dekat ke masjid.

Hampir tiap malam saya Salat Hajat.

Kini, alhamdulillah, kami hidup di perkampungan penduduk dan dikelilingi anak-anak yatim.

Datang tamu dari Jakarta, satu keluarga, ingin bikin masjid di area Yayasan Ar-Rahmah.

Bukan saja rumah yang dekat atau mendekati masjid; Yang Mahawelas-asih dan Maha Mengabulkan doa datangkan masjid ke tempat kami.

Sejak kelas 1 SD hingga lulus SMA, rasanya, saya belum pernah berhasil menyelesaikan tugas mengarang dari guru bahasa Indonesia, penuh satu halaman pun.

Atas biaya dari urunan teman-teman kerja, pada awal Januari 2005, saya pergi haji.

Sebagai “pertanggungjawaban” atas “perjalanan dinas” itu, saya ingin membuat sejenis laporan perjalanan. Tidak bisa.

Sehabis Isya, saya Salat Tasbih dan Salat Hajat, minta ingin bisa menulis.

Tak lama kemudian, saya dipertemukan dengan guru-guru menulis di _Written Schoolen_, Sekolah Menulis Kreatif Indonesia, Indonesia Menulis, serta dengan para wartawan (dan berguru kepada mereka) dari Aliansi Jurnalis Independen, Suara Pembaruan, dan –tentu saja- TEMPO.

Terbitlah buku pertama: MALAIKAT CINTA –Sisi Lain Ibadah Haji yang Menyentuh Hati, Gramedia, 2011, _National Best Seller_.

Buku haji dari sisi kemanusiaannya, bukan dari tata cara ibadah atau fikihnya.

Buku ini menjadi pembicaraan di mana-mana. Menginspirasi orang untuk lebih cepat melaksanakan ibadah haji, atau ingin haji lagi sambil berbagi.

Membaca Malaikat Cinta, ribuan orang meneteskan air mata.

Selanjutnya: BUKU TENTANG KEBAIKAN, BAHAGIAKAN DIRIMU DG MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN, SAYANGI YG DI BUMI ENGKAU AKAN DIKASIHI OLEH YG DI LANGIT, BAHAGIA DALAM TIADA –Liku2 Hidup Bersama Anak2 Yatim, dan BERTAHAN DI DAERAH RAWAN.…

Sekarang -segala puji bagi Allah- apa pun bisa saya tulis. Dan, kata teman-teman, tulisan-tulisan saya mencerahkan, menginspirasi, serta –meminjam istilah TEMPO- enak dibaca dan perlu!


Ciomas, 06 April 2025, bakda Subuh. Salam, Jr..

Tinggalkan komentar