Sepeda, Isyarat, dan Doa Perjalanan

HBH dan Silaturahmi BPST EP I 2025, Felfes UI, Depok
Bagian III


Bila, putri kami, Senin, 14 April, sore hari; bilang kepada ibunya:

“Untuk pergi ke warung-warung di Jalan Raya Ciomas, kayaknya, kita perlu sepeda listrik, dech!”

Sebelumnya, Minggu pagi, 13 April 2025, ada isyarat masuk ke anggota badan saya: “Akan ada rezeki yang datang.”

Sekitar tengah hari, karena rasa kantuk yang kuat (waktu itu, teh dan kopi hanya tersedia di depan lapangan -untuk dinikmati menjelang, saat, dan sehabis olah raga. Di ruangan, tak ada kopi); saya keluar ruangan, menuju sisi lapangan.

Mengobrol dengan Audi, sebentar.

Beberapa menit kemudian, Bang Iphin, duduk di sebelah saya.

Ada suara dari dalam gedung, dari pintu, beberapa orang memanggil Bang Iphin. Ia dapat hadiah TV.

Untuk mengalirkan desakan hidrostatik dari badan, saya masuk lagi ke gedung.

Kembali menuju ruang utama, kawan-kawan bertepuk tangan sambil memanggil-manggil nama saya.

Rupanya, saat panitia membuka gulungan kertas kecil, untuk siapa
Grand Prize – berupa
sepeda listrik, nama saya muncul. 

Bang Iphin berbisik, “Nanti gua nitip TV juga, ya!”

Dua hadiah di acara HBH dan Silaturahmi itu, saya bawa ke Ciomas.

Sepeda akan putri kami manfaatkan, Tivi buat anak-anak yayasan nonton bola. Alhamdulillah.


Dahulu, waktu masih bekerja pada Divisi Eksplorasi BPMIGAS, di luar tupoksi pada Dinas Geologi –mengevaluasi usulan pekerjaan pengeboran sumur untuk Region Indonesia Barat, meliputi wilayah Sumatra dan Jawa; saya mendapat tugas sampingan.

Baiknya kantor tempat kami bekerja, di samping memberii ilmu dan pengalaman yang banyak melalui berbagai penugasan; dan memberikan imbal jasa yang sangat menarik; kami pun dikirim ke banyak pelatihan, seminar, dan kursus-kursus; baik di dalam maupun di luar negeri.

Untuk tertibnya pengaturan  mendapatkan ilmu ini bagi seluruh staf, manajemen meminta saya mengoordinasikan (bahasa tak resminya: mengkoordinir), siapa yang harus berangkat dan materi mana yang cocok untuk para staf, sesuai dengan uraian kerja masing-masing.

Untuk keperluan ini, saya banyak berkomunikasi dengan para penyelenggara pelatihan/seminar/kursus di Indonesia dan mancanegara.

Dalam kaitan kegiatan ini pula, ada hal menarik untuk ditulis. Bukan materi seminar atau pun pengaturannya; melainkan  salah satu yang berkaitan dengannya, yakni perjalanan dengan pesawat.

Boleh percaya, tidak pun tak masalah. Ada seorang kawan, kalau mau dinas –terutama di dalam negeri-  dan naik pesawat, ia ketakutan.

Tapi, jika tempat yang dituju memerlukan visa dan paspor; agak terhibur dia.

Saya hampiri kawan ini.

“Saya dengar, kalau naik pesawat, kau  takut?”

“Iya.”

“Takut apa?”

“Takut jatuh?”

“Selamat dan celaka, itu mah rahasia Tuhan. Perjalanan di laut atau di darat pun, kalau waktunya kena musibah, tak bisa dihindari.

Tetangga saya di Bandung, seorang tentara. Setelah turun dari kendaran umum, sepulang kerja, dari  Jln By Pass, ia berjalan kaki ke arah perempatan Jln. Caringin –  Jln. Kopo.

Depan kantor polisi (dahulu mah pas gang masuk ke rumah Hetty Koes Endang, sebelum beliau top markotop), ia tersandung dan jatuh.

Anggota TNI yang fisiknya kuat itu, tak bangun lagi.

Kejadian sebaliknya, banyak terjadi.

Ustaz Ujang –yang saya pernah ceritakan dalam tulisan sebelumnya, mengendarai mobil Kijang.

Antara kediamannya di Pamijahan (wilayah paling banyak air terjun di Bogor Barat) dengan kampus tempat ia mengajar di Rangkasbitung, areanya berbukit-bukit.

Indah memang, tapi berisiko juga dalam berkendaraan.

Entah karena kelelahan, mobil yang dia kendarai terjun bebas ke area jurang. Kalau melihat fisik kendaraan, orang akan mengira, pengemudinya tak mungkin selamat. Bisa jadi, mati seketika.

Tapi, ustaz –yang bersama keluarganya sering bersilaturahmi ke Ciomas ini- lecet pun tidak.

Saat mobil melayang  dan mendarat di tempat yang jauh lebih rendah daripada jalan aspal, ia malah merasa tertidur. Tahu-tahu, saat sadar, ia berada di rumah sakit.

“Terus?”

“Mau enggak, saya ajarkan doa-doa perjalanan. Dengan berdoa, apa pun yang akan terjadi pada diri, kita sudah mengikuti SOP – _Standard Operating Procedur-_ dari Tuhan.”

Di antara doa dalam perjalanan yang panjang-panjang, ada yang paling pendek:

*اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ*
_AllaaHumma Hawwin ‘alainaa safaronaa Haadzaa wathwi ‘annaa bu’daH(u)_

*Ya Allah, mudahkan kami dalam perjalanan ini. Dan, jadikanlah bagi kami, jaraknya menjadi dekat*

Saya, karena mungkin kebiasaan, kalau naik kendaraan, membaca salah satu doa perjalanan tersebut.

Jarak menjadi dekat, tidak mesti jumlah kilometernya menjadi berkurang. Jaraknya mah tetap, tapi waktu tempuh (menjadi terasa) dekat.

Bisa karena lalu lintas lenggang, sehingga kendaran bisa melaju kencang; atau, sebab selama dalam perjalanan terlelap –masuk ke alam mimpi; tahu-tahu, mobil yang ditumpangi, sudah menuju arah rumah.

Seperti perginya, pulangnya pun dari Felfes UI, saya ikut kendaran Om Teguh.

Waktu baru duduk, dalam hati, saya berencana minta diturunkan di Baranangsiang saja, tak usah diantar ke Ciomas.

Ada perlu ke Gramedia dulu, mau beli buku.

Tapi, ya, itu tadi; kecuali awal berangkat meninggalkan kampus UI, saya masih segar bugar; selebihnya ke alam mimpi saya pergi. Ketika bangun, dari arah Empang, mobil sudah berada di pertigaan Cikaret-Cibalagung, menuju Ciomas.

Sampailah saya di halaman rumah. Alhamdulillah. Terima kasih Om Teguh -yang baik sekali!


Dalam perjalanan Bogor- Jakarta; 20 April sore hari. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar