Kemarin pagi, selesai menyusun artikel tentang penulisan kata “tausiah” -menurut bahasa aslinya; saya bersilaturahmi ke rumah keluarga Pak Soleh, tetangga –yang 3 hari lalu, ditinggal pergi anak sulungnya.
Balqis, 17 tahun, mondok di sebuah pesantren Tahfizh Qur’an, di Sukabumi. Sudah 3 tahun, ia di sana; dan sudah hafal 30 juz.
Kalau pas pulang pada liburan pesantren, ia tidak pergi ke mana-mana, mengaji dan mengaji terus kerjaannya.
Satu hari, bulan lalu, kabar datang kepada pihak orangtuanya di Ciomas, Bogor, bahwa santriwati ini sakit.
Dengan kendaran beroda doa, Soleh –begitu saya biasa memanggil ayah Balqis, karena kenal sejak ia masih kecil -menjemput sang putri ke Sukabumi.
Soleh adalah putra dari sahabat istimewa saya, Alm. Ustaz Syamsuddin – Allahu yarham
Ustaz beneran, yang setiap harinya mengajar mengaji di 3-5 majelis taklim/masjid, rajin menyantuni fakir miskin, dan senantiasa membela kaum duafa.
Ia sendiri, secara finansial, sama sekali bukan orang berada; tapi hatinya kaya raya!
Entah dari mana datangmya penyakit itu, menurut dokter, anak ini terserang leukimea.
Ia adalah jenis kanker yang menyerang jaringan pembentuk darah di sumsum tulang, menyebabkan tubuh memproduksi terlalu banyak sel darah putih yang tidak normal.
“Balqis belum lama menyelesaikan 30 juz hafalannya. Karena cepatnya anak itu menghafal, sampai-sampai para guru di pesantren pun, agak meragukannya. Kok bisa secepat itu!” ayah Balqis bercerita.
Untuk memastikan benar tidaknya santriwati ini sudah hafal seluruh isi Quran, pihak pesantren mengetes ini anak hingga 4-5 putaran.
Hasilnya? Benar, dia hafal 30 juz!
Karena sakit, dari pesantren, dijemput Bapaknya, Balqis pulang ke Ciomas. Setelah diusahakan pengobatnnya, ia tak tertolong. Hafizhah itu berpulang ke haribaan kasih dan sayang-Nya.
“Ibarat orang yang suka bepergian jauh, Balqis sudah menyiapkan paspor dan visa buat ayah-bundanya, ke surga, nanti pada waktunya, insya Allah,” saya menghibur keluarga muda itu..
“Kalau di lahan atau kota yang baru dibuka, Balqis sudah menyiapkan tanah yang luas, rumah yang besar, halaman yang lapang dengan taman yang indah dan nyaman,” saya meneruskan..
“Untuk mempersiapkan semua itu, ia harus pergi lebih dahulu; agar ayah-bunda, saat tiba, tinggal mengisinya.”
Semua yang pernah kenal Balqis berduka, orang-orang terdekat menangis sedih; tapi, dia tersenyum gembira.
Ayah, ibu, dan neneknya bercerita kepada saya bahwa anak itu baik sekali, salihah.
“Mengapa anak salihah, hafizhah; tidak Allah sembuhkan dari sakitnya?” pertanyaan seperti ini, sering muncul di benak banyak orang.
“Dengan cara yang mungkin tidak mudah kita pahami, karena kasih dan sayang-Nya, tak jarang Allah memberikan ujian –yang kadang berat dan bertubi-tubi -kepada para hamba-Nya.”
إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ
“Jika Allah mencintai suatu kaum, maka mereka akan diuji” (HR. Thabrani).
“Karena kasih dan sayang-Nya pula, seringkali Allah memanggil lebih dahulu, orang-orang yang dicintai-Nya,” saya merespons cerita ayah, ibu, dan neneknya tentang anak ini.
Kemudian, saya menyampaikan cerita yang diambil dari buku “Bahagiakan Dirimu dengan Membahagiakan Orang Lain, Gramedia, 2015; Best Seller.
“Dahulu, ada seorang raja yang zalim, sangat dibenci rakyatnya. Suatu hari, ia jatuh sakit. Rakyat berharap, ia segera mati.
Para tabib dari seluruh negeri dipanggil. Mereka berkata, “Ini penyakit berat. Lebih baik ucapkan salam perpisahan!”
“Ada obatnya, salah satu jenis ikan di laut, bisa menjadi penyembuhnya,” seorang di antara mereka berseru.
“Tapi, sekarang ini, sedang tidak musimnya; akan tak mudah mendapatkan itu ikan.”
Allah perintahkan para malaikat agar ikan-ikan itu dimunculkan ke permukaan. Dapatlah itu obat, dan raja disembuhkan.
Di tempat yang berbeda, hiduplah seorang raja yang saleh; dicintai rakyat. Ceritanya, persis sama, tapi hasilnya beda. Ia jatuh sakit.
Para tabib dari seluruh negeri, sudah berkumpul di istana. Karena parahnya penyakit yang diderita, mereka menyarankan agar raja menyampaikan kata perpisahan.
“Ada obatnya, salah satu jenis ikan di laut, bisa menjadi penyembuhnya,” seorang di antara mereka berkata.
“Kebetulan sekarang ini, sedang musim ikan itu berkeliaran; akan mudah mendapatkannya.”
Allah perintahkan malaikat-malaikat agar ikan-ikan itu bersembunyi ke sarang-sarang mereka.
Orang-orang yang ditugaskan menangkap ikan itu, kembali dengan tangan kosong; raja meninggal dunia.
Para malaikat tidak mengerti, mengapa raja zalim diselamatkan; tapi raja yang saleh diwafatkan.
“Mengenai raja zalim itu, sejahat-jahatnya manusia, ada juga kebaikannya. Dan, untuk dia, kebaikannya itu, sudah aku bayar dengan disembuhkan dari sakitnya.
Dengan demikian, ia nanti, datang kepada-Ku hanya membawa dosa-dosanya.”
“Adapun raja yang saleh, mengapa aku wafatkan; sebaik-baik orang, ada saja salahnya. Dan, telah aku tebus kesalahan dia dengan tidak disembuhkan dari sakitnya.
Nanti, ia akan menghadap kepada-Ku, dengan amal salehnya saja.“
Balqis, dengan perkenan-Nya, insya Allah masuk kelompok kisah kedua. Allah seringkali memanggil , lebih dahulu, orang-orang yang dicintai-Nya.
Ciomas, 3 Desember 2025; waktu Dhuha. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar