Bagian Pertama
Pengantar
Ketika seorang dilahirkan; di mana pun, dalam tradisi apa pun; disambut dengan kegembiraan oleh seluruh anggota keluarganya.
Saat seorang wafat, meninggalkan dunia ini; di mana pun, dalam tradisi apa pun; dilepas dengan duka cita.
Anggota keluarga, kerabat, atau sahabat akan merasa kehilangan. Semua berharap, orang yang telah pergi duluan, memenuhi panggilan ilahi, di tempatnya yang baru, akan baik-baik saja.
Mereka berdoa agar Allah ampuni segala dosa yang berangkat lebih awal ini; Tuhan terima semua amal salehnya; Dia terangkan, lapangkan, dan sejukkan alam kuburnya; dan pada akhirnya, semoga yang Maharahman-rahim masukkan almarhum/ah ke surga-Nya.
Di antara yang paling bermanfaat dalam meringankan beban yang wafat –setelah jenazah dimandikan dan dikafanikan, sebelum dikuburkan- adalah menyalatkannya: Salat Jenazah.
Dalam salat khusus ini, ada doa yang padat dan berisi, yang paling diperlukan mayat di alam sana, antara lain: “Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, selamatkan dia, dan maafkanlah dia.”
Jika yang meninggal diampuni, dikasihani, diselamatkan, dan dimaafkan; amanlah ia. Di alam yang baru ia kunjungi dan akan ditinggali selamanya, ia akan bahagia
Seperti disampaikan dalam tulisan 3 hari lalu “Sakaratul Maut…”; di rumah, jenazah diposisikan di ruang yang relatif luas, bagian kepala di arah utara, kaki di selatan, miring sedikit ke kanan -agar wajah yang menyalatkan menghadap kakbah.
Apabila, misal, seseorang di antara pelayat, baru datang ke rumah duka sesaat lagi mayat akan dibawa ke pemakaman; orang lain sudah selasai salat jenazah, tinggal dia seorang, ia bisa salat sendirian.
Jika tak sempat, bisa dilakukan di luar waktu itu dan tempatnya bisa di mana saja; itu namanya salat gaib. Gaib (ghaib) artinya tidak ada; jenazahnya tidak ada di tempat kita salat.
Secara berjamaah, tentu lebih baik. Semakin banyak yang menyalatkan, semakin banyak yang mendoakan, semakin baik bagi yang wafat.
Lantaran salat jenis ini tidak tiap hari dilakukan, sangat dimengerti jika banyak orang lupa tata cara dan bacaannya.
Barangkali, karena hal ini juga, di sangat banyak tempat pada kediaman keluarga yang berduka, para tamu membaca Yasin, mendoakan mayat, atau duduk-duduk di halaman, menemani dan menghibur keluarga yang berduka.
*Keutamaan*
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa mensalatkan jenazah dan tidak mengiringinya (ke pemakaman), ia akan memperoleh pahala sebesar 1 _qirath_. Jika dia juga mengiringinya (hingga pemakamannya), ia akan memperoleh 2 _qirath_.
Ditanyakan, ‘Apa itu dua qirath?’
Beliau menjawab, ‘Yang terkecil di antaranya semisal Gunung Uhud.”’ (HR. Muslim).
Mengingat pentingnya salat jenazah, terutama bagi yang meninggal; dan hal-hal tersebut di atas yang menyebabkan orang –apabila tidak ada yang mengajak- segan melakukan atau menginisiasi salat bagi yang wafat; saya punya kebiasaan.
Apa itu?
Kalau tidak ada halangan, ke rumah duka, saya datang lebih awal. Disampaikan kepada tuan rumah bahwa yang akan paling bermanfaat bagi almarhum/ah adalah doa, dalam hal ini, doa dari para pelayat.
“Mumpung banyak orang datang, apabila diperkenankan, saya ingin memimpin salat jenazah. Dilakukan berkali-kali, setiap rombongan pelayat tiba. Saya biasa melakukan ini.”
“Ooo…boleh, terima kasih sekali,” misal, kata keluarga yang wafat. Ada juga yang menolak, “Nanti saja, di masjid.” It’s OK.
Sebenarnya, sih, di masjid tetap dilakukan; di rumah pun disalatkan. Itu lebih bagus bagi yang meninggal.
Jika tuan rumah setuju, saya melanjutkan:
“Tolong tunjukkan kepada saya, di mana saja posisi keran air, untuk para tamu berwudu.”
Kemudian, menggunakan pengeras suara, kalau ada, saya umumkan:
“Ibu-ibu/Bapak-Bapak, mari kita melakukan salat jenazah. Saya imamnya. Tempat wudu bisa di kamar mandi sana, bisa yang di sebelah sini, atau di situ; di teras depan halaman ini, keran ada juga: pun di depan garasi,” sambil berbicara, tangan saya menunjukan posisi atau arah keran-keran itu.
Setiap ada rombongan tamu datang, saya mengulang-ulang pengumuman itu. Yang dimaksud rombongan, bisa banyakan atau 1-2 orang saja.
Di satu kesempatan, saya bisa mengimami puluhan kali, 20-30 kali atau lebih, tergantung banyak dan seringnya rombongan tamu yang datang; juga waktu menunggu mayat sebelum dibawa ke masjid.
Untuk setiap “trip”, saya terangkan tata cara salat jenazah paling ringkas –yang semua orang bisa lakukan.
Jika di antara rombongan ini, ada jamaah dari masjid, majelis taklim, pesantren; saya persilakan salah seorang dari mereka menjadi imam; saya makmum saja.
Cerita dikit, nich!
Lantaran merasa sering usil, maka pastilah banyak dosa diproduksi. Ketika mau pergi haji, salah-salah agar teman-teman maafkan; dan perjalanan lancar, banyak keluarga kami kunjungi: minta maaf atas segala khilaf dan mohon didoakan.
Satu hari, menjelang keberangkatan, saya dan istri bersilaturahmi kepada keluarga seorang sahabat di Jakarta Selatan.
Kebetulan, ibu dari kawan ini, berjumpa juga di rumah besar dan asri itu.
“Bu, ini Pak Jonih -yang dulu mimpin salat jenazah untuk ayah,” sohib ini memperkenalkan tamu kepada ibunya.
“Iya. Seumur hidup, saya tak akan pernah lupa!” barangkali saking berterima kasihnya beliau kepada seseorang yang pernah berkali-kali mengimami salat jenazah bagi suaminya, beliau merespons seprti itu. Alhamdulillah.
*Catatan*: Hal Tata Cara dan Bacaan yang mengiringi tiap Takbir, Posisi Imam, Mengapa diibuat 3 Shaft,…; agar tak melelahkan membacanya, akan disajikan di tulisan terpisah.
Ciomas, 21 Janurai 2025; pagi hari. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar