Syeh Hamid Affandy al-‘Imadi
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد قَدْ ضَاقَتْ حِيْلَتِـى *أَدْرِكْنى* يَارَسُوْلَ الله
_AllaaHumma shalli wa sallim ‘alaa sayyidinaa Muhammad qad dhaaqat* hiilatii *adriknii,* yaa rasuulallaaH._
“Ya Allah, limpahkanlah shawalat dan salam kepada junjungan kami, Nabi Muhammad; telah sempit upayaku; _tolonglah_ aku, ya Rasulullah.”
*Tertulis: qad dhaaqat; dibaca: qod dhooqot.
Tidak mudah meng-Indonesiakan kata *adrikni* dalam hubungannya dengan jumlah mufidah (kalimat) di atas.
“Adrikni” berasal dari daraka, artinya: mengikuti, menyusul, mencapai, (hujan) berturut-turut, mendapat, memperoleh, dasar sesuatu.
Adraka-alwalad: (anak) cukup umur; tadaaraka …: memperbaiki …
Ada yang menerjemahkan kata *adrikni*dengan *temuilah aku*, tapi pada umumnya, denan melihat kata-kata yang mendahuluinya, *qad dhaaqat hiilatii*, di-Indonesiakan, walau jauh dari asal katanya, sebagai *tolonglah aku* atau *selamatkanlah aku*.
Apabila memerhatikan asal dari kata tersebut -sambil melihat konteksnya, *adrikni* dalam doa ini, secara tersirat bermakna juga:
* temukanlah untukku pokok masalah yang sedang dihadapi, sehingga …
* temukanlah untukku solusi dari permasalahan tersebut.
Ada kesan yang kuat bahwa yang membacanya sedang dalam kondisi sangat terdesak (kepepet) dan memerlukan pertolongan segera, sehingga *Shalawat Adrikni* ini saya sebut sebagai *Shalawat Kepepet.*
Ciomas, 20 Novermber 2024; Dhuha akhir. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar