Tak Pernah Pensiun

Redesmon Munir, sahabat saya, asal Solok, Sumatra Barat; melalui sebuiah WAG, sering berbagi pencerahan-pencerahan.

Tanggal 10 Juli lalu, Da Redes –geophysicist yang bertransformasi menjadi ahli pemasaran, ini mengirim video, berisi ceramah Ust. Jazir dari Masjid viral Jogokarysan, Yogyakarta.

Ustaz yang Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid -yang manajemennya nge-top seantero Nusantara ini, menyampaikan:

“Dalam konsep Islam, tidak ada pensiun. Jadi, kalau Bapak jadi PNS, ibadah sebagai PNS selesai ambil SK baru yang lebih besar dari Allah. Gajinya, insyaa Allah, lebih besar.

Konsep kita, menjadi orangtua menjadi lemah karena apa?

Pensiun gajinya cuman berapa persen dari gaji pokok. Ini kan konsep yang keliru, karena kalau sudah tidak jadi PNS, penghasilannya dari mana?

Dari Allah lebih besar, karena kita akan menjadi pegawai Allah. Kalau tadinya ngantor di kantor dinas, besok ngantornya di rumah Allah.

Bagi seorang muslim itu tidak ada istilah pensiunan. Itu istilah kolonial. Kalau ada jamaah masjid merasa pensiunan; itu otaknya, otak dijajah, belum merdeka.

Tapi, kalau orang pensiun dari PNS, ‘Pak, alhamdulillah, saya naik sekarang. SK dari pemerintah, saya kembalikan, karena pemerintah gajinya sedikit. Saya minta gaji kepada Allah yang lebih besar.’

Nanti, oleh Allah, kita diberi rezeki lebih banyak. Masa rezeki hanya dibatasi dengan SK, sehingga rezekinya bisa dihitung tiap bulan, hanya sekian.

Itu pikiran yang sangat bodoh dan sempit. Allah itu Mahakaya. Nanti, Allah akan membuka banyak pintu rezeki.

Jangan pernah berpikir pensiun. Yang berpikir pensiun otaknya belum merdeka. Orang masjid adalah orang yang merdeka.

Saya tidak lagi menjadi orang yang dibatasi penghasilan. Kewenangan saya mengambil penghasilan yang jauh lebih besar, karena SK-nya, saya langsung minta kepada yang Mahakaya.”

Demikian Ustaz Jazir menyampaikan.

Sahabat saya di BPPKA, Pertamina dan di BP Migas, Pak Suharmadi –Sarjana Akuntansi, asal Tambak Beras, Kediri –kota para santri dan kiai, sehari-hari berdinas di kantor

Ia mengerjakan tugas yang berhubungan dengan masalah keuangan dan komitmen eksplorasi dari perusahaan-perusahaan eksplorasi migas di tanah air.

Cubical tempat ia bekerja berjarak 2 meter saja dari ruangan saya. Jadi, sangat-sangat mudahlah kami berinteraksi, berdiskusi urusan pekerjaan atau berbicara masalah keluarga.

Setelah purna tugas dari BP Migas, memanfaatkan ilmu dan pengalaman kerjanya, orang yang biasa saya panggil dengan Gus Har ini, bekerja kembali di sebuah perusahaan minyak swasta.

Gus Har, di perusahaan barunya menempati jabatan Manajer Akuntansi. Kendatipun sudah menduduki posisi eksekutif, ia tetap rendah hati.

Dan, sebagai yang berasal dari Jawa Timur, seperti halnya oang Jawa Barat -pada umumnya, senang bercanda -seperti saya. Tetap akrablah kami.

Dalam hubungan kedinasan, walau kantor berbeda tapi jenis pekerjaan sama, seringlah ia mengadakan rapat-rapat dengan instansi tempat saya mencari nafkah.

Suatu hari, selesai sebuah pertemuan dengan bagian keuangan, ia bertandang ke ruangan saya.

Dia bercerita, “Senin hingga Jumat, aku bekerja di kantor; tapi Sabtu-Minggu aku full di masjid. Aku tukang bersih-bersih masjid, Kang!”

Banyak pekerja eksplorasi tambang (emas, barubara, nikel, tembaga, dan sebangsanya) atau orang yang bekerja sektor migas tapi berdinas di lapangan, hari kerjanya, 6-2, 4-2, 3-1; 6, 4,3 minggu di lapangan dan 2 atau 1 minggu di rumah.

Pak Suharmadi pun memilki jadwal kerja seperti itu: 5-1. Senin sampai Jumat, 5 hari, ia bekerja di kantor, sebagai Manajer Akuntansi; Sabtu dan Minggu, 2 hari, ia habisikan waktunya bekerja di masjid, sebagai “OB”, bertadarus, menyiapkan pengajian.

Lama kami tak bersua. Jika ia sekarang sudah pensiun dari kegiatannnya di kantor, mungkin kini, bukan hanya 2 hari di masjid, tapi Senin Minggu, ia bekerja habiskan di rumah ibadah.

Gus Har aktif di sebuah masjid yang dikelola organisasi Muhmmadiyah di Bekasi, tak jauh dari rumahnya. Gus Har tak pernah pensiun!

Setelah melayat dan mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya, di Bandung Selatran, Kamis 2 hari lalu; sekalian ke Bandung, bersama istri, saya belanja banyak buku di Palasari.

Ini seperti mengenang aktvitas puluhan tahun lalu, ketika masih kuliah. Hanya dipisahkan Lapangan Olah Raga, seberang sana Palasari ada Jalan Sancang, di mana Masjid besar dan nyaman, Masjid Mujahidin berada..

Di Mujahidin, dahulu kala, waktu sebagai mahasiswa, saya suka mengikuti pengajian. Inilah masjid yang dibangun Muhammadiyah -yang terbesar di Bandung.

Karena rasa kantuk, saya mencari orang yang jualan kopi. Minum espresso 1 gelas, badan agak sedikit segar.

Di depan masjid, saya bertemu Kang Adang Hendarsyah. Beliau alumni AGP –Akademi Geologi dan Pertambangan, dan waktu telah bekerja, ia melanjutkan kuliah di Geologi Unpad –“universitas palebah dipati ukur”, punten, ah!).

Geolog ini bekerja di LGPN –Lembaga Geologi dan Pertambangan Nasional, LIPI, di Cisitu. Kemudian, bermigrasi ke Direktorat Geologi Tata Lingkungan, di Jln. Diponegoro. Lalu, melangkah pindah ke Museum Geologi.

Saat ini, kecuali hari Ahad, Insinyur Geologi ini, setiap bakda Ashar berada dan bekerja di Masjid Mujahidin. Tiap hari Sabtu, ia punya jadwal memberikan pengajian: mengajar Hadits Arbain.

Geologist ini pun aktif memberikan ceramah-ceramah di media sosial, menyampaikan nasihat-nasihat kepada umat. Barusan, pagi ini, melaui WA, saya menerima pencerahan dari senior yang pembawaannya kalem dan rendah hati ini.

Setelah pensiun dari Direktorat Geologi –sebagai pegawai negeri; Kang Adang Hendarsyah berdinas kembali, di masjid. Ia bekerja pada Allah. Seperti halnya Gus Har, Kang Adang tak pernah pensiun!

Ciomas, 26 Juli 2025, waktu Dhuha. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar