Pendoa atau Petugas Baca
“Kriiiing! Pak Jonih, posisi di mana?” suara Fikri -orang Wedding Organizer terdengar di telepon genggam.
“Di samping Pak Indra.”
Pagi itu, pukul 07.10, rombongan Calon Mempelai Pria (CMP) sudah berada di gerbang masuk ruang utama Mandiri Assembly, Menara Sudirman, Jakarta.
Di barisan paling depan, dari kiri ke kanan -kalau dilihat dari arah belakang, berdiri Bu Wiwik, Faris, Pak Indra, dan saya.
Saya, kemudian, diposisikan di belakang Calon Pengantin dan Kedua Orangtuanya.
Dan, baru maju lagi ke depan, saat menyampaikan Sambutan Penyerahan Calon Mempelai Pria (CMP).
Rombongan bersiap untuk menyerahkan CMP kepada Keluarga Calon Mempelai Wanita (CMW).
Saya mendapat tugas sebagai perwakilan dari Keluarga Besar Calon Mempelai Pria.
“O, sudah di sana!”
Seorang gadis membawa map hitam tebal, bagus sekali, menghampiri.
“Pak Jonih, ini teksnya.”
“Teks apa, ya?”
“Teks Penyerahan.” Saya menerimanya sejenak.
Lalu,”… tapi titip, ya dan pegang saja. Saya mau pakai yang di sini,” sambil menunjukkan hp, saya kembalikan map berisi teks penyerahan itu.
Siang hari, beberapa saat ketika saya hendak naik panggung untuk menyampaikan Sambutan atas nama Keluarga Besar Orangtua Kedua Mempelai, seorang wanita muda ceria, mendekat.
“Ini Pak, teksnya!” saya terima. kemudian saya kembalikan lagi.
“Terima kasih, ya. Tolong dipegang lagi. Saya mau pakai yang dibuat sendiri saja.”
“Tapi, Pak, saya mau lapor dulu.”
“Silakan!”
Semua WO – Wedding Organizer – menyiapkan teks-teks untuk Penyerahan atau Penerimaan CMP, Sambutan-sambutan, hingga Doa.
Hal ini dilakukan juga di berbagai instansi ketika menyelenggarakan upacara-upacara yang di dalamnya ada sambutan dan/atau pembacaan doa.
Satu hari, dahulu waktu masih dinas, seorang kawan dari bagian HUMAS, mengirimkan kepada saya –sebagai petugas pembaca doa, 2 lembar kertas putih bertuliskan huruf berukuran besar-besar, berisikan doa.
“Pak Jonih, ini teks untuk Bapak baca pada upacara besok pagi.”
“Terima kasih, ya. Tapi, saya mau menggunakan naskah doa yang saya buat sendiri.”
“Mohon maaf sekali, Pak; Bapak diminta membaca teks yang ini.”
“Kalau begitu, silakan saja dibaca sendiri , tidak oleh saya.”
“Waduh, Pak; arahannya, yang baca Bapak dan memakai teks doa yang ini.”
“Saya enggak mau. Masa baca doa didikte!”
“Minta tolong, Pak, ini dari kementerian. Saya hanya melaksanakan tugas, menyampaikan ini ke Bapak dan Bapak diminta membacakannya.”
Saya ambil “jalan tengah”, map berisikan kertas bertulisian naskah doa itu, saya terima.
Esoknya, dalam upacara, ketika nama saya disebut dan diminta maju ke depan untuk membaca doa, dari saku baju, saya keluarkan kertas yang dibawa dari rumah.
Lembaran itu, saya taruh di atas kertas berisi teks doa dari kementerian; saya baca naskah doa yang saya bikin sendiri.
Kawan itu ketar-ketir. Tapi, begitu upacara bubar, banyak peserta upacara menghampiri dan menyalami saya, seraya pada berkata, “Bagus sekali doanya!”
Wedding Organizers, Event Organizers, panitia-panitia berbagai acara hingga Divisi Humas Kementerian-kementerian, untuk keperluan Sambutan2 dan Doa2, senantiasa menyiapkan teks yang tinggal membacakannya.
Itu bagus. Paling tidak, seandainya terjadi sesuatu, sehingga calon pembaca Sambutan atau Pembaca Doa berhalangan, siapa pun bisa menggantikannya. Tinggal baca.
Umumnya, naskah Sambutan atau Doa itu, bahasa dan materinya, standar saja, datar, dan ringan.
Siapa pun yang menyampaikannya, aman.
Begitu pula dalam banyak acara syukuran, baik kelas keluarga maupun tingkat instansi negara.
Jika ada Ayat yang dicantumkan atau Hadits yang dibacakan, ya, itu-itu saja.
Dalam menyusun redaksi doa, saya lihat dulu jenis acaranya, agar teks doa kontekstual
Lalu, apa harapan-harapan hadirin, supaya lebih konek dan menambah kekhusyukan pendengar.
Isu apa yang sedang beredar di lingkungan kantor dan di luar sana; saya masukkan juga.
Ini menambah bobot doa, sekaligus mengundang risiko.
Lantaran teks-teks itu saya racik sendiri, kawan=kawan tidak akan pernah mendengar redaksi yang saya gunakan dari pemberi sambutan atau pembaca doa lain,
Juga, tidak mudah menemukannya dalam buku-buku yang memuat contoh-contoh pidato atau daftar doa-doa untuk berbagai keperluan.
Hal doa, memang referensi utama dari Quran dan Hadits.
Saya serap pesannya. Tapi, saya menggunakan bahasa manusia biasa, sehingga lebih mudah diterima telinga pendengar.
Saya memilah kata, dan memilih makna. Orang Sastra bilang, ini bicara masalah Diksi.
Dengan cara ini, kalimat yang keluar dan bahasa yang didengar –meminjam istilah punya TEMPO, menjadi enak didengar dan perlu.
Dengan demikian, apa yang kita sampaikan, baik sekadar Sambutan maupun Pembacaan Doa (juga dalam kultum2, sharing2, atau khotbah Jumat/Ied), akan up-to-date, kontekstual, enak didengan, dan perlu!
Kang Dede, kakak sepupu di Bandung, pernah berkata, “Materi yang sama, disampaikan orang lain dengan dibahas oleh Jonih, beda!”
“Tadi, bilang ada risiko-risiko segala! Emang risiko apa yang bisa dikandung oleh sebuah pembacaan doa?”
“Sangat boleh jadi, redaksi doa disukai kebanyakan pendengar, tapi bagi sebagian orang, pejabat tertentu, membuat telinga tak nyaman!”
“Jika terjadi seperti itu, apa risikonya?”
“Dicekal. Saya mengalami beberapa kali dicegah atau ditangkal.”
Pada rapat panitia banyak kegiatan, semua sepakat siapa pembaca doa.
Seminggu atau sehari sebelum acara, malam-malam, saya dihubungi panitia, “Kang, mohon maaf sekali, ada arahan dari pimpinan, yang baca doa tidak jadi Akang.”
Pernah juga, panitia telat mengabari atau ada perintah dadakan. Saat MC menyampaikan, “Pembacaan doa…,” saya sudah mau berdiri, eeeh…ada kawan lain yang maju ke depan. Duduk lagi, saya.
Kalau pada acara-acara sebelumnya, sejak beberapa hari atau sehari sebelumnya, saya dicegah; yang ini, tidak, tapi ditangkal –saat tiba waktu pembacaan doa.
BTW, nich; pernah juga saya memimpin doa untuk teman-teman nonmuslim.
Kawan-kawan asal Bali yang berdomisili di Jabodetabek, suatu hari, mengadakan turnamen golf.
Sebelum acara dimulai, saya diminta menyampaikan doa. Hadirinnya 100% orang Hindu.
Kita kembali ke laptop, sekali lagi, saya lebih menikmati menulis teks doa sendiri ketimbang membacakan naskah yang sudah disiapkan panitia. _
Seandainya menerima apa adanya –sesuai arahan manajemen, saya bukan pendoa melainkan hanya petugas baca.
Ciomas, 9/10/25, bakda Subuh. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar