The Power of Silence

Beberapa tahun lalu, untuk perjalanan dinas; bersama 1 orang kawan, saya bertemu untuk berdiskusi dengan seorang Korea, di Seoul.

Di sela-sela waktu rapat, kami berbicara tentang sebuah buku best seller dunia, waktu itu, yang ditulis Paulo Coelho: The Al-Chemist.

Kawan ini bercerita pula bahwa saat itu, di negeri Ginseng, ada sebuah buku yang ramai dibicarakan orang, ditulis oleh seorang biksu Korea, judulnya: The Power of Silence.

Pernah menginap di rumah kami di Ciomas, 2 orang, pada waktu yang berbeda: Pria dari Rusia dan lainnya wanita, asal Malaysia.

Mereka datang dari negeri masing-masing ke Bogor, untuk mendapatkan suasana silence ; di sebuah tempat di Puncak, Bogor.

Agar tidak terlalu panjang menulis atau berbicara, supaya hening; saya ingin menutup pembicaraan ini dengan kisah di dalam kelas, pada sebuah Sekolah Dasar.

A young boy sat quietly in the first row of his class
Seorang anak laki-laki duduk dengan tenang di barisan paling depan, di kelasnya

He rarely spoke, but always listened
Dia jarang berbicara, tetapi selalu mendengarkan

One day the teacher asked a difficult question:
Suatu hari, guru menanyakan sebuah pertanyaan yang sulit

“What is the most powerful thing in the world?”
Apa hal yang paling kuat di dunia?”

Students shouted anwer:
Para siswa berteriak, menjawab:

Money, knowledge, love.
Uang, ilmu pengetahun, cinta kasih!”

But the boy said nothing
Tetapi, anak itu tidak berkata apa-apa.

The teacher noticed & asked:
Guru memperhatikan dan bertanya:

“Why didn’t you anwer?”
Mengapa kamu tidak menjawab?”

The boy stood up and said softly:
Anak laki-laki itu berdiri dan berkata dengan lembut

“Because the most powerful thing is silence!. It listens when others speak. It observes what others miss and it never lies.
“Karena hal yang paling kuat adalah diam. Diam mendengarkan ketika orang lain berbicara. Dia mengamati apa yang tidak diperhatikan orang lain; dan ia tidak pernah berbohong

The class fell silence and the teacher nodded.
Kelas menjadi hening dan guru menganggukkan kepalanya..

Sometimes those who speak less, understand the most.
Kadang; mereka yang berbicara sedikit, lebih banyak mengerti.

Moral of the story
Pesan moral dari cerita ini:

Wisdom doesn’t shout. It listens, learn, and speak only when it matters
Kebijaksanaan tidak berteriak. Ia mendengarkan, belajar, dan berbicara hanya ketika dibutuhkan

Kanjeng Nabi ﷺ bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” [HR. Bukhari].

Ciomas, 9 Mei 2025; bakda Ashar. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar