Redesmon Munir, sahabat saya asal Solok, Sumatra Barat; dalam salah satu grup WA para pensiunan Pertamina EP, Muslim Poverep, tadi pagi, bakda Subuh, mengirimkan video ceramah Ustazah Dr. Nella Lucky.
Isi ceramah Ustazah, a.l.:
“Semakain panjang usia kita, semakin banyak pikiran yang tidak penting yang akan tersimpan dalam otak kita. Maksud saya apa sih ngomong ini?
Bapak-ibu yang saya sayangi karena Allah, hidup ini tidak ada yang ideal; jika kita berusia 50-an 60-an, akan banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita.
Kadang, anak sudah dewasa, tapi belum mandiri bawa beban pikiran. Kadang, menantu tidak pernah kunjungi kita, bawa lagi beban pikiran.
Kadang, anak tidak pernah ke rumah, masuk lagi pada file otak kita.
Saya ingin berpesan kepada yang saya anggap sebagai orangtua saya sendiri, ini; juga saya bilang kepada orangtua kandung saya, ‘Di usia Emak, di usia Bapak sekarang ini, fokus saja, bagaimana caranya masuk surga.’
‘Kalau ada anak menantu tidak sesuai dengan keinginan hati kita, ikhlaskan.’
‘Kalau ada anak yang masih melawan, ingatkan, ikhlaskan. Kita tidak bisa mengubah itu semua.’
‘Bagaimanapun sikap anak kita, menantu kita; paksakan diri tetap ridai mereka. Karena kalau kita tidak ridai, sengsara hidup mereka.’
‘Bukankah:
رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ
Rida Allah bergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka mereka.’”
Kalau kita renungkan, apalagi yang mengalaminya; isi taushiah ini sangat menyentuh hati.
Materi nasihat itu, mengingatkan akan pesan dari seorang senior, orangtua, dan guru kami di Pertamina EP, Bapak Dr. Ir. Abdul Wahab Abdoel Kadir, MM –Allahu yarham.
Pada setiap Kamis minggu ke-4, di kediamannya, Jln. Jatibarang No. 30, Jakarta Utara, diadakan Layanan Lanjut Usia (LLU).
Anggotanya sih ada 200-an; tapi yang rutin hadir sekitar 70-80 orang.
Para sepuh ini, di halaman rumah besar dan asri, pagi-pagi, melakukan aneka senam.
Kemudian, senior citizens, diperiksa kesehatannya. Ada dokter dan beberapa perawat yang mengabdikan dirinya, beramal ilmu dan tindakan, bagi para orangtua ini.
Saat hadirin mau kembali ke rumah masing-masing, kepada ibu-ibu dan bapak-bapak, Bu Wahab menitipkan tas kresek.
Bungkus plastik itu berisi bahan untuk membuat sayur asem, atau sop, bisa juga berupa makanan ringan.
Alangkah mulia keluarga baik hati ini!
Selain menyediakan tempat, mengoordinasikan olah raga, memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan, ngasih oleh-oleh lagi!
Demi menjaga dan terus menjalin silaturahmi kepada orangtua yang tentu sangat banyak kebaikannya kepada kami, selama bekerja di Pertamina EP; seminggu sekali, bapak mertua diantar ke Jln. Jatibarang, Rawamangun, untuk LLU ini.
Yang menemani Mbah Kakung, bergantian. Bisa istri, adik atau kakak ipar, keponakan; kadang, saya sendiri.
Para peserta ini sering mendapatkan wejangan atau taushiah dari Pak Wahab.
O ya, info saja, ketika masih aktif bekerja untuk Pertamina EP dan beberapa tahun setelah pensiun, Pak Wahab, juga, dosen di beberapa universitas, penulis banyak karya ilmiah dan buku2 bermutu, dan penceramah.
Berkaitan dengan ceramah Ustazah di atas, Pak Wahab pernah menyampaikan kepada para aktivis LLU –yang semuanya sudah lanjut usia, antara lain:
“Saya ingin menyampaikan bahwa kita, anak-anak kita, dan semua orang memiliki kesibukan masing-masing.
Kesibukan mereka itu, sangat mungkin tidak bisa ditinggalkan.
Karenanya, ketika suatu waktu kita memerlukan kehadiran anak-anak beserta cucu, boleh jadi mereka, saat itu, tidak bisa memenuhi harapan kita.”
Jadi, kita sebagai orangtua, jangan terlalu ‘memaksakan’ keinginan agar mereka bisa datang.
Alhamdulillah, seandainya, anak-cucu bisa bertemu; jika tidak, dan kita tetap ingin mereka hadir, akan menambah beban pikiran.
Padahal, kondisi fisik kita semakin ringkih, daya tahan tambah berkurang.”
Mengingat hal ceramah ustazah di atas; teringat nasihat Pak Wahab ini, istri saya melakukan antisipasi.
Kepada salah seorang anak kami, yang sudah bekerja, di ibu kota, ia menasihatkan:
“Mumpung masih sehat, banyak waktu, dan belum terlalu penuh dengan kesibukan; 2 minggu sekali, sepanjang tidak ada halangan, kamu harus pulang.”
Puji syukur kepada Dia, anak itu menerima nasihat orangtuanya. Bukan konsekuensi, tapi pengertiannya saja, kalau dari Jakarta dia datang, kami tak bepergian ke mana-mana.
Semoga kebiasaan menyempatkan pulang –untuk mengunjungi orangtua, ini terus berlanjut kendatipun, kelak, mereka sudah berkeluarga.
Kami, saya dan istri adalah orang yang sangat senang berpergian , ke berbagai tempat; suka mengobrol santai dengan macam-macam kalangan, lintas profesi, beda usia -dari yang sangat muda hingga dengan para orangtua.
Di antara obrolan yang suka lama mengendap di benak, sering menjadi pikiran, dan tak jarang didiskusikan, adalah curcor dan curahan hati para orangtua yang lama tidak dikunjungi anak-anaknya.
Pendek kata, ada 2 arah yang sebaiknya ditempuh, dan 1 kesimpulan:
- Anak-anak (masih muda atau sudah punya anak-cucu), tetap mengusahakan silaturahmi dengan ayah-ibu;
- Para sepuh –seperti ceramah yg dikirim Uda Redes & nasihat pak Wahab- merelakan diri untuk memahami, mengapa anak2 tak datang, sambil lebih konsentrasi & meningkatkan kuantitas-kualitas dlm membina komunikasi dg Ilahi.
- Kalaupun, ternyata, anak-anak tidak bisa datang, terima saja kondisi itu, tidak mengganggu ibadah dan tidak menambah pikiran
Ciomas, 04/11/25,; bakda Ashar, menjelang Magrib. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar