“Ada seseorang datang di Jakarta Utara, di sebuah pelabuhan tradisional. Kejadian ini mungkin terjadi sekitar 15 tahun lalu.
Setelah saya selesai mengaji, ia datang dan tidak ingin ada orang lain yang mendengar percakapannya,” Gus Faiz bercerita.
“Pak Faiz, saya mau betul-betul bertanya kepada Bapak.”
“Kenapa?”
“Begini, Pak. Saya tidak puasa.”
Saya kaget. Ada orang yang langsung mengaku tidak berpuasa, apalagi setelah menghadiri pengajian Zuhur.
“Lho, kenapa?” saya bertanya lagi.
“Kalau saya puasa, maka ada 5 orang lain yang tidak puasa. Tapi, kalau saya tidak puasa, lima orang itu, justru bisa tetap berpuasa.”
Ternyata, dia seorang kuli panggul di pelabuhan tradisional. Ia mengangkat beban berat seperti semen ke kapal kayu hanya menggunakan kayu sebagai jalan naik, tanpa tangga.
Saya bisa merasakan betapa berat pekerjaannya yang dia lakukan dari pagi hingga sore.
Ia merasa tidak sanggup untuk tetap berpuasa. Namun, dengan bekerja, ia bisa membawa uang pulang.
Ia melarang anak-anaknya untuk bekerja, seperti mengojek payung atau menjual koran di jalanan saat bulan Ramadhan.
“Nak, jangan ngojek payung, jangan jualan koran. Nanti kalian kepanasan, tidak bisa berpuasa. Sudah, biar Bapak saja yang menanggung kebutuhan kalian.”
“Bapak kuat?”
“Kuat,” meski ia berbohong demi menyelamatkan lima orang agar tetap berpuasa, termasuk istrinya, ia menjawab..
Fiqih itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Menjadi mufti, guru agama, atau kiai bukan hanya soal hitam putih dalam agama.
Ada realita di masyarakat yang harus kita sikapi dengan bijak.
Meniru guru-guru, saya peluk orang itu.
Hari itu saya merasa seperti ditempeleng oleh Allah. Kenapa?
Karena, di saku saya ada amplop setelah selesai mengaji. Saya merasa seperti seorang ustaz yang masuk neraka.
Kok bisa?
Saya sudah berceramah di masjid ini bertahun-tahun, tetapi tidak tahu bahwa ada jamaah yang hidupnya sesulit itu, sementara saya bisa memakai jas seperti ini.
Hari itu, saya merasa ada kezaliman yang terjadi pada diri saya.
Sebelum saya menasihatinya, saya berkata:
“Bapak, selamatkan dulu surga saya.”
“Lho, kenapa Pak Ustaz”
Saya berikan amplop uang kepada beliau.
“Ini cukup untuk beberapa hari. Bapak jangan kerja dulu, istirahatlah!”
“Terima kasih.”
Itu menyelamatkan saya.
Soal apakah nanti dia tetap tidak berpuasa di hari lain, itu saya serahkan kepada Allah.
Kita jangan mudah menghakimi dan menghukumi orang lain, jika kita tidak tahu latar belakangnya.
Kita tidak tahu peran apa yang sedang mereka jalani—apakah mereka sekadar menikmati hidup di dunia atau berjuang menyelamatkan anak-anaknya agar tetap bisa makan.
Saya sering tidak mau menjawab pertanyaan seperti:
“Apa hukumnya pedagang kecil yang berjualan makanan di siang hari saat bulan Ramadhan?”
Saya lebih senang membahas:
“Apa hukumnya orang kaya yang merasa kewajiban hidupnya hanya sekadar membayar zakat, lalu berdiam diri terhadap penderitaan orang lain?”
Apakah tidak ada pertanggungjawaban kolektif di hadapan Allah, nanti?
Sumber: wawancara Gus Faiz -K.H. Muhammad Faiz dengan Mbak Eva @https://facebook.com/r/1ASZCCke3u/
Ditranskripsikan dengan sedikit perubahan redaksional; 25/3/2025; Pedurenan, Kuningan, Jakarta Selatan. Salam, Jr
Tinggalkan komentar