Bagian Ketiga
Untuk Jalan Asia-Afrika, ada orang menyingkatnya dengan Jln. AA. Di ujung paling barat, baik ke kanan maupun ke kiri, bertemu dengan Jalan Oto Iskandar Dinata. Kalau terus lurus, memotong Otista, nama jalan berubah menjadi Jalan Jenderal Sudirman.
Kawan-kawan yang tinggal di jalan-jalan kecil di sekitar Jalan Jenderal Sudirman, kalau ditanya orang, “Tinggal atau lahir di mana?”
Mereka menjawab, “Di Jerman.” Maksudnya, di Jalan Jenderal Sudirman.
Asia-Afrika, jalan nomor 1 di Bandung ini, di samping tidak terlalu lebar –untuk ukuran jalan paling utama di kota besar, tidak begitu panjang juga.
Di barat berbatasan dengan Jln. Sudirman, di timur berakhir di *Parapatan Lima.*
Orang Bandung menyebut setiap jalan yang ada persimpangan dengan jalan lain, atau sekadar sebuah kelokan, jalan hanya itu saja, dengan parapatan (perempatan).
Oleh karena itu, persimpangan 5 jalan: Jln. Asia Afrika – Jln. Sunda/Karapitan – Jln. Sunda – Jln. Ahmad Yani – Jln. Gatot Subroto, dikenal sebagai Parapatan Lima, bukan Simpang Lima!
Terdengar agak aneh, per-4-an tapi terdiri atas 5 jalan, bukan 4!
Perlu diketahui, bagi orang Jawa Barat, kata *“parapatan” tidak mesti berarti “peropatan” (empat bahasa Sundanya: opat, perempatan), bisa juga ia pertigaan, atau hanya “perduaan”* –satu jalan yang berbelok tajam.
Sebagian orang pinggiran menyebut pertigaan dengan “pertelon” –pertiluan, ini tepat. Tapi, masyarakat umum lebih mengenalnya dengan parapatan saja.
Apabila suatu hari Anda mencari lokasi pedagang lotek, misalnya, dan bertanya kepada seseorang, “Maaf, tukang lotek di mana, ya?”
“Tuh, di sana; dekat parapatan.”
Jika Anda mencari-cari 2 jalan yang berpotongan, belum tentu ketemu. Ya, sebab itu tadi; bisa yang dimaksud penunjuk jalan itu adalah persimpangan 3 jalan; atau hanya 1 jalan tapi ia berbelok arah – ke kiri atau ke kanan.
Jadi, bagi kebanyakan orang Jawa Barat –terutama yang tinggal di area agak melipir, kayak saya- istilah parapatan atau perempatan, bisa tidak ada hubungan dengan jumlah jalan yang berpotongan, melainkan nama saja untuk setiap jalan yang –baik ia- berotongan atau berbelok.
Tidak usah pusing-pusing berpikir, “Mengapa begitu?”
Anggaplah, seperti ketika kita bertamu, tuan rumah menawarkan. “Mau minum apa? Teh, kopi. Atau…?”
Kita menjawab, *“Air putih saja.”* Padahal, yang dimaksud bukan air yang berwarna putih, sebab ia tidak berwarna putih melainkan tak berwarna alias bening. *Air (berwarna) putih mah susu atau air kapur!*
Kembali ke Asia Afrika yang disebut tidak begitu panjang itu.
Jika ditempuh dengan kendaraan bermotor, tengah malam, ketika lalu lintas paling sepi, dari ujung barat –berbatasan dengan Sudirman/Otista hingga ujung paling timur/Parapatan Lima, paling 12 menitlah.
Di Parapatan Lima, persimpangan ke Jalan Sunda, di pojok kiri, dahulu terdapat toko agen mesin jahit SINGER.
Ke utara 200 –an meter, setelah memotong Jalan Naripan, di kanan jalan, muka Gg. Cibunut, ada *MIE KOCOK SKM*.
Dahulu, dengan pedagang generasi awal, dalam 1 mangkuk, kikilnya membukit dan gurihnya minta ampun! Sekarang, tidak demikian. Keytika berkantor di Cirebon, awal 1990-an, jika ke Bandung, hampis pasti ke Jalan Sunda, menikmati mie kocok.
Untuk pelajaran olah raga, SMP 10 mengambil tempat di Lapangan Tegallega, tapi khusus berenang dilakukan di *Kolam Renang Tirtamerta* yang lebih dikenal dengan nama *CENTRUM*
Centrum berlokasi di perempatan Jalan Belitung dengan Jalan Sumbawa, sebelah SMA 5 dan SMA 3 –yang para siswanya berasal dari kalangan orang berada dan terkenal pintar-pintar. Kata orang-orang, dari SMA 3, per kelas, tiap tahun, yang diterima di ITB ada 40-an orang!
Dari lokasi SMP 10 di Jalan Dewi Sartika ke kolam renang di Jalan Sumbawa/Belitung, bersama teman-teman, saya sering berjalan kaki, rutenya: Jln. Dewi Sartika – Jln. Dalem Kaum – Jln. Lengkong Kecil – Jln. Sunda – Jln. Sumbawa.
Pada ruas Jln. Sunda, sebelum rel kereta api, kanan jalan, kalau berjalan pelan akan terhirup wangi kue. Ada *pabrik roti* di situ.
Dari SMP 10 di Jln. Dewi Sartika ke Centrum, kami berjalan kaki. Uang untuk naik angkutan kota dibelikan roti di sini..
Khawatir ketingalan rombongan, mumpung belum terlalu jauh nyasarnya, kita lari, balik ke ujung barat AA.
Pada perempatan Jalan Asia Afrika dengan Oto Iskandar Dinata, berhenti sejenak. Sebelum belok ke kiri, melihat lihat-lihat dulu ke arah lain.
Seandainya setelah perempatan ini ke kanan dulu, akan dijumpai, di kiri jalan dari arah selatan, pusat perbelanjaan paling terkenal, paling besar, dan paling ramai sejak zaman Belanda: *Pasar Baru.*
Di Pasar Baru, pengunjung dapat membeli berbagai pakaian, sandal, sepatu, tas, hingga keperluan rumah dan alat-alat beribadah;. Tersedia juga berbagai jenis makanan.
Dulu, di teras pojok utara, dekat ke Jln. Suniaraja/Kebonjati, ada pedagang *rujak hiris*. Mungkin, satu-satunya di Bandung. Semakin ke sini, hirisnya semakin sedikit, kacang panjangnya dominan.
Pasar Baru merupakan salah satu pasar tradisional tertua di Indonesia, dibangun pada 1906. Setelah beberapa kali renovasi, gedungnya menjadi berlantai 11.
Apabila kami memerlukan sajadah dan mukena untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat, dalam jumlah besar, di sini belanjanya.
Jika perjalanan menyusuri Jln. Otista terus ke arah utara, maka akan memotong Jln. Suniaraja – Jln. Kebonjati. Belok ke kiri ke Jln. Kebonjati, 200 meter, kanan jalan, adalah lokasi *Stasiun Utama Kereta Api Bandung*. Saat ini, di pojok kanan dari arah Kebonjati, *Sate Hudori* menanti!
Apabila kita berjalan ke barat lagi, zaman baheula, 2 bioskop –kelas menengah ke bawah- beropersi di Kebonjati: *Luxor* dan *Roxy*.
Kita berbalik arah, kembali ke simpang Otista – Suniaraja/Kobonjati; lalu, berjalan ke arah utara. Sebelum menabrak pagar rel kereta, belok ke kanan, ke *viaduct*. Kemudian, ke kanan lagi, melingkar dan bertemu dengan Otista seberang pagar.
Di kiri jalan ada Hotel Guntur. Brian Wood dan Lorena, sahabat saya asal California, ketika di Bandung, sebelum saya carikan rumah kontrakan, tinggal di hotel ini. Selama mereka menginap di Guntur, tiap pulang kuliah saya menemuinya di hotel itu.
Hanya 100-an meter dari Hotel Guntur, jalan ini berakhir, pas tegak lurus terhadap *gubernuran*, kediaman Gubernur Jawa Barat.
Waktu gubernurnya *Mang Ihin* (Solihin G.P.) –yang terkenal dekat dengan rakyat, saya sering ketemu beliau saat jumatan.
Gubernuran mengadakan jumatan, dan masyarakat boleh masuk. Selesai shalat, Mang Ihin suka mengobrol dengan masyarakat setempat yang jumatan di gubernuran.
Fery, teman kuliah, rumahnya di Jln. Kebon Kawung, pas di sebelah kompleks rumah gubernur. Kalau ke tempat Fery pada hari Jumat, kami shalat di gubernuran.
Kita akan kembali ke perempatan Asia Afrika – Sudirman; terus berjalan ke Jln. Jen. Sudirman.
Seratus meter dari lampu merah, sisi kanan, ada jalan kecil tapi sangat terkenal di Bandung dan didatangi orang-orang dari berbagai kota sebagai pusat perkainan: *Gang Tamim.*
Di kalangan anak muda, Gang Tamim dikenal sebagi pusat kain jin (jeans).
Nama Tamim berasal dari nama pemilik awal tanah sepanjang jalan tersebut, yakni H. Tamim –asal Palembang.
Seratus meter dari Tamim ke barat, masih di kanan, terdapat *Jalan Dulatif.*
Dulatip adalah salah satu pusat perbelanjaan kain terlengkap di Bandung. Kain tekstil di Dulatip dijual dalam satuan roll. Para pedagang kain meteran berbelanja ke sini, untuk dijual lagi.
*Djadjat Paramor* penyanyi lagu *Duri Penghalang* dan *Di Perantauan*, yang ngetop tahun 1980-an; juga guru besar *Perguruan Pencak Silat Taji Malela*, tinggal di sini.
Kalau berjalan terus ke arah barat, dahulu kala, ada *Bioskop Capito*l dan *Texas*. Keduanya memutar film-film silat dari Shaolin Temple. Jika tak kebagian nonton di Capitol, beberapa minggu kemudian akan diputar juga di Texas.
Texas menayangkan pula film-film India. *Amitabh Bachan dan Hemamalini* adalah dua di antara bintang paling top markotop.
Ke barat sedikit, waktu itu, ada bioskop baru kelas atas, namanya _Paramount Theatre._
Eeeeh, melamunnya kepanjangan; rombongan sudah melenggang ke Jalan Otista arah selatan.
————————— Bersambung—-
Ciomas, 11 November, bakda Zuhur. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar