Sore, 3 hari lalu, bakda Ashar, atas tugas dari istri, saya membeli plastik meteran, 10 m.
“Tapi, masing-masing dipotong per 2,5 m, ya!” perintahnya.
Plastik tsb. akan digunakan untuk menutupi beberapa kasur yang sementara ini tidak dipakai, agar tidak kena bocoran air hujan. Pun, supaya terlindung dari tempelan debu atau pijakan hewan.
Ketika penjual sedang mengukur dan memotong gulungan plastik, saya melihat di toko itu, ada balon.
“Beli balon juga, dech!” kepada pemilik toko saya berkata.
Melihat usia saya yg tidak muda, malah sudah sudah bisa masuk generasi kakek, pemilik toko agak keheranan.
“Buat apa balon, Pak?”, ia bertanya.
“Untuk anak-cucu orang lain,” saya menjawab enteng.
“Bilang saja untuk cucu sendiri, gitu!”
“Memang, untuk orang lain, kok!”
“Sekarang sedang tidak bawa tas. Di ransel yg suka saya pakai, biasanya ada: obat luka, cutton bud, tensoplast, kertas tissue –kering & basah, tas kresek, minyak angin, minyak kayu putih, pasta/sikat gigi, sabun mandi, handuk kecil, permen, dan balon.”
“Buat apa saja, tuch?”
“Saya ini sangat suka bepergian. Ke mana-mana, seringnya, naik kendaraan umum. Tidak jarang, dalam perjalanan, ada orang2 yg memerlukan benda2 yg suka saya bawa, balon, misalnya.”
“Ooo, begitu. Rajin amat!”
Waktu mau jemput anak di bandara Soekarno-Hatta, di ruang tunggu kami bertemu sebuah keluarga besar yang terdiri atas perempuan muda, ibu dia, 2 orang muda lainnya –mungkin saudara dari ibu muda itu atau adik dari yg akan dijemput; dan 3 orang anak kecil, usia TK atau SD.
Mereka mau menjemput ayah si anak, pulang dari bekerja di Korea. Salah seorang anak kecil itu menangis keras sambil teriak2, sementara badannya berguling-guling di lantai.
Ibu dan neneknya tampak kerepotan sekali. Saya buka tas, sebuah balon ditiup. Setelah mengembang, saya menoleh kepada anak itu, sembari mengibas-ibaskan itu balon.
Tangis menjadi pelan, semakin pelan dan semakin pelan; berhenti berguling-guling; matanya menatap karet bulat yg tadi saya tiup.
Saya mendekat; dan memberikan itu benda. Berhenti ia menangis.
Dua anak lainnya merengek kepada orangtuanya, menginginkan mainan yg sama. Saya tiupkan 2 lagi.
Kejadian yg hampir sama terjadi di suatu resepsi pernikahan di sebuah gedung besar, di Jakarta. Seorang undangan membawa anak balitanya. Ketika orang2 pada makan, itu anak ngadat, rewel, dan nangis.
Dari tasnya, istri saya, mengeluarkan, meniup balon, dan menyerahkannya kepada anak itu. Dia menyambut benda itu dan menghentikan tangisnya.
Dalam penerbangan Denpasar – Jakarta, begitu pesawat lepas landas, ada suara tangisan dari kursi di depan kami. Seorang anak belum 5 tahun, meronta-ronta sambil menangis keras.
Kabin saya buka, mengambil tas, dan mengeluarkan balon. Setelah ditiup dg sangat pelan2 –takut meledak & bikin kaget banyak orang, saya antarkan ke arah depan.
Mungkin karena lelah berteriak-teriak atau lantaran tertarik dg mainan itu, balita itu berhenti menangis.
Saya naik bus kota dari Terminal Ledeng menuju Bandung kota. Hari sdg hujan. Bbrp mhswi naik dari depan kampus UPI. Badan dan pakaian mereka kena air dari langit.
Saya sodorkan tissue. Walau awalnya mereka agak heran, diterimanya tawaran itu. Lalu, kantong kresek sy berikan. Mrk berterima kasih.
Di Stasiun Kereta Pasar Minggu, pasangan muda hendak ke Bogor juga. Beberapa menit menjelang kereta dari arah Stasiun Kota datang, yang perempuan sedang hamil, muntah2.
Kepada suami yang mendampinginya, saya kasihkan tas kresek hitam. Lalu, setumpuk kertas tissue diserahkan pula. Selesai menangani masalah, mereka sumringah.
Dari Parung ke Terminal Merdeka, Bogor; saya naik angkutan kota. Seorang ibu muda naik bersama anak kecilnya. Sejak awal berada di angkot, anak itu menangis terus.
Saya buka saku tas, mengeluarkan permen, diberikan kepada anak itu. Diam dia.
Dalam prjlnn Bandung-Bogor, malam hari, kami istirahat di halaman masjid At-Taawun, minum teh panas, di sebuah kios.
Seorang ibu datang, mau membeli minyak angin. “Dari ujung sana sampai sini, enggak 1 warung pun yang jual minyak angin!”
Dari tas yang ada di samping, saya keluarkan benda kecil. “Ibu perlu minyak angin?”
“Iya, anak saya di mobil masuk angin.”
“Ini, Bu?”
Lima menit kemudian: “Pak saya kembalikan minyak anginnya. Sudah selesai, dan terima kasih, ya.”
“Silakan Ibu bawa saja, barangkali nanti memerlukannya lagi.”
Dahulu sekali, saat main bola di Stavanger, Norwegia bersama teman2 satu pelatihan, seorang kawan asal Afrika Selatan jatuh dan terluka. Sikut kanannya mengeluarkan darah.
Saya berlari ke dekat tiang gawang, mengambil ransel, dan mengeluarkan betadine serta cutton bud .
Cairan obat luka itu diteteskan ke kapas, ditempel-tempelkan ke bagian yg luka. Saya kasihkan juga handyplast, membaluti kulit yang mengelupas.
“Handuk, sabun, sikat/pasta gigi?”
Karena dalam bepergian, naik kendaraan atau berjalan kaki, saya mudah berkeringat. Biasanya, sebelum shalat, agar ketika melaksanakannya badan terasa segar, saya suka mandi dulu.
Untuk waktu Zuhur, makan dulu di warung terdekat. Habis santap siang perlu menyegarkan mulut dg menggosok gigi.
Di tas juga ada topi. Kadang, lebih dari 1. Saat hujan, ada saja orang lain yg juga memerlukannya.
Kalau perginya ke alam terbuka, ke area pegunungan/lembah, ke sungai, air terjun, atau jalan-jalan ke pedesaan; di saku tas disiapkan juga tablet yg bersifat analgesik, obat sakit perut, flu, dan demam, hingga koyo –penghangat bagian badan yg kedinginan .
Liburan sekolah tahun lalu, kami ajak anak2 yatim/duafa Ar-Rahmah piknik ke Lembah Tepus. Kami menyewa saung2 milik penduduk.
Terbiasa tinggal di udara panas Ciomas; menginap di area perbukitan itu, mereka kedinginan. Koyo2 itu menjadi yang paling cepat habis.
Pernik-pernik pengisi tas ransel itu, bisa untuk diri sendiri, tapi lebih seringnya digunakan yang lain, tepatnya: untuk anak-cucu orang lain.
Ciomas, 12/01/’26; bakda Zuhur. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar