Dari SD di Babakan Ciparay V, Jln Caringin, Bandung; saya melanjutkan ke SMP X, di Jln. Dewi Sartika.
Dulu, ini sekolah, paling bising sedunia! Sebab, waktu itu, angkot semua jurusan, terminalnya di Kebon Kalapa, dekat sekolah, pada jalan yang sama.
Puluhan angkot, dari Ciateul hingga Terminal Kebon Kalapa, macet. Menyelesaikan perjalanan sejauh jarak sekitar 400-500 meter, bisa lebih dari setengah jam!
Kendaraan umum yang paling banyak digunakan masyarakat ini, membunyikan klakson, nyaris sepanjang hari.
Selepas SMP, saya mendaftar ke SMA 7, di Jln. Lengkong Kecil.
Gedung sekolah ini, diapit oleh pabrik kue –di sebelah barat, karenanya, setiap lewat tercium wangi kue; dan markas Aktuil –majalah musik paling top markotop, waktu itu, di timurnya.
Belajar di sekolah yang terletak di antara Alun-Alun Bandung dengan Simpang-5 (orang Bandung, menyebutnya: Parapatan 5), kepada istri, saya suka menyombongkan diri, sebagai yang bersekolah di daerah paling kota!
Dahulu, sekolah ini terkenal brutal, tukang berantem, dan suka menyerang sekolah-sekolah lain.
Selain banyak artis yang menuntut ilmu di ini; murid-murid yang kepreman-premanan pun betah menjadi siswa sekolah ini.
Tapi, itu cerita lama. Dulu sekali!
Sekarang, sekolah yang dahulu kaca pintunya tak ada yang utuh, bolong2; yang murid2nya pada jam pelajaran pun selalu saja ada yang nongkrong di parkiran atau di warung; kini, bertransformasi.
Kalau di sekolah lain, pada umumnya, punya mushalla; SMA ini memiliki masjid! Ada kajian rutin bulanan. Saya pernah diundang, mengisi acara pengajian di sini.
Lantaran terkenal kenakalan para siswanya; ketika beberapa lulusannya diterima di ITB, ada kawannya yang usil, berkomentar, “Bisa juga ya, dari SMA 7, masuk ITB!”
Padahal, di antara pimpinan di kampus kebanggaan bangsa ini, ada rektor yang alumnus SMA7.
Gunawan, teman sebangku, perawakannya kecil tapi otaknya besar; dengan 10 teman lainnya, diterima di ITB.
Bersama Asep Mulyanto – Allahu yarham , Rudy Priyanto, orang pintar ini mengambil Jurusan Teknik Sipil.
Gun tidak bekerja di perusahaan seperti banyak teman-tem,annya; ia punya kantor sendiri, mempekerjakan orang lain. Ia hidup makmur. Alhamdulillah, suka bantu saya juga.
16 Novem,ber lalu, dia mengundang kawan-kawan sekelasnya, untuk bersamtai ria di villanya, di Cigending, Ujungberung ke atas.
Di antara obrolan di villa, Sigit Sarwono – Ketu OSIS periode 1979-1980, jago pidato, meminta saya memberikan sharing.
Teman-teman mengajukan banyak pertanyaan, 3 di antaranya, mengingat pertanyaan sejenis sering terungkap di masyarakat, saya kira perlu di- spill di sini.
- Hal waktu pelaksanaan Shalat Fajar
- Mengenai shalat setelah waktu Ashar
- Qadha Shalat
Agar menghemat “ruangan”, untuk nomor 1, akan dibahas, sesuai yang ditanyakan saja: waktunya, bukan hal shalatnya.
Tak jarang terdengar, bukan hanya pendapat orang kebanyakan, tapi juga dari banyak ustaz, yang mengatakan bahwa waktu Shalat Fajar adalah sebelum azan Subuh.
Sebagian lainnya mengatakan setelah masuk waktu Subuh.
Yang dimaksud dengan Shalat Sunnah Fajar adalah shalat 2 rakaat sebelum melakukan shalat Subuh. Waktunya, sudah masuk waktu Subuh.
Kalau berwudhunya di rumah, setelah melaksanakan Shalat Syukrul-Wudhu, lanjutkan dengan Shalat Sunnah Fajar; lalu, ke masjid untuk Subuh berjamaah.
Dari Aisyah ra., ia mengatakan:
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْر
Nabi ﷺ tidak melakukan satu pun shalat sunnah yang dilakukan secara terus-menerus melebihi dua rakaat Shalat Fajar.” (HR. Bukhari).
Dalam teks hadits, disebutkan kata nawaafil, artinya sunnah bukan wajib; yakni, shalat sunnah yang waktunya menempel dengan Subuh, yaitu Shalat Fajar.
Kalau di masjid; Shalat Fajar dilakukan setelah azan, sebelum iqamah.
Jika, di rumah; laksanakanlah, secara berurutan, Shalat Syukrul Wudhu, Shalat Fajar, lalu Subuh.
Akan tetapi, seandainya –waktu bangun tidur, azan sudah berkumandang; kemudian, ada urusan mendesak yang harus segera diselesaikan di kamar mandi, sempurnakan dulu hal itu.
Jika memaksakan diri untuk mengejar shalat berjamaah, sambil mengeluarkan tenaga (dan pikiran) untuk melakukan penahanan dari material ang ingin keluar, shalatnya tak sah!
Apabila, saat tiba di masjid, jamaah sudah selesai Shalat Subuhnya; tinggal kita sendiri yang belum shalat; urutan shalatnya bisa seperti ini:
Lakukan Shalat Tahyatul Masjid; lalu, Shalat Fajar; kemudian, Shalat Subuh. Masing-masing 2 rakaat.
Namun, jika setelah salah satu atau dua-duanya dari shalat-shalat sunnah itu, tiba-tiba ada orang baru masuk masjid, mau Shalat Subuh; langsung saja bergabung, membuat jamaah shalat baru.
Kembali ke hal waktu shalatnya.
Sebelum masuk Subuh, itu masih area waktu milik Tahajud.
Masing-masing memiliki rentang waktu sendiri-sendiri. “Jangan dijarah”, ya!
Keterangan di atas, dikuatkan dengan hadits:
“Adalah Nabi ﷺ biasa mengerjakan shalat sunnah 2 rakaat yang ringan antara azan dan iqamah, sebelum Shalat Subuh.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Untuk pertanyaan kedua dan ketiga, insya Allah, dibahas pada lain kesempatan.
Mau siap-siap berangkat ke Puncak, naik angkot, hendak Shalat Jumat di At-Taawun.
Ciomas, 5/12/2025; menjelang waktu jumatan. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar