Anies – Heru & Nasihat Guru

Berbalut rok serba putih yang menggapai lantai _anu geulis lenjang kaluar ti kamar._ Menuju ruang utama Graha Batunungga, seorang diri, wanita itu melangkah pelan tapi pasti.

Dari kursi depan meja tempat barusan dibacakan ijab dan kabul, lelaki rupawan bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu utama.

Dari panggung, suara merdu melantun. Nung dan Eya, duet penyanyi Red Box Band mengiringi langkah mempelai pria, menyambut pengantin wanita, menyenandungkan _Marry Your Doughter-_ nya Brian McKnight.

*Marry Your Daughter*

Sir, I’m a bit nervous
‘Bout being here today

Still not real sure what I’m going to say
So bare with me please

If I take up too much of your time,
See in this box is a ring for your oldest

She’s my everything and all that I know is
It would be such a relief if I knew that we were on the same side
‘Cause very soon I’m hoping that I…

Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I’ll love for the rest of my life

And give her the best of me ’til the day that I die, yeah
I’m gonna marry your princess
And make her my queen

She’ll be the most beautiful bride that I’ve ever seen
I can’t wait to smile

When she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter

She’s been here every steps
Since the day that we met (I’m scared to death to think of what would happen if she ever left)

So don’t you ever worry about me ever treating her bad
I’ve got most of my vows done so far (so bring on the better or worse)

And ’til death do us part
There’s no doubt in my mind
It’s time

I’m ready to start
I swear to you with all of my heart…

I’m gonna marry your daughter
And make her my wife

I want her to be the only girl that I’ll love for the rest of my life
And give her the best of me ’til the day that I die, yeah

I’m gonna marry your princess
And make her my queen

She’ll be the most beautiful bride that I’ve ever seen
I can’t wait to smile

As she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter

The first time I saw her
I swear I knew that I’d say “I do”

I’m gonna marry your daughter
And make her my wife

I want her to be the only girl that I’ll love for the rest of my life
And give her the best of me ’til the day that I die

I’m gonna marry your princess
And make her my queen

She’ll be the most beautiful bride that I’ve ever seen
I can’t wait to smile

As she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter



Di kelokan karpet Agis -mempelai wanita, putri dari Kang Ruddy dan Ceu Empuy, langkahnya terhenti. Heru, sang pujaan hati -putra dari Alm. H. Nunuk dan Hj. Emmy; menyambut sang dambaan rasa.

Pagi tadi, bersamaan dengan masuknya rombongan calon pengantin pria ke ruang utama, saya menyelusup ke bagian paling belakang tempat duduk keluarga mempelai wanita.

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci. Ar-Rahman yang dibacakan qari mengingatkan saya kepada qiraah yang menyentuh hati dari seorang pengungsi Myanmar dalam terali besi di negara tetangga. Suaranya merdu, pembacaannya syahdu.

… Fa bi ayyi aalai raabikumaa tukadz_dzibaan.

Merasa sangat kurang bersyukur, kepala dan hati merunduk. Mata saya membasah.  

Arif Yahya, Menteri Pariwisata menjadi salah seorang saksi.


Ada yang paling membuat saya bahagia. Pak Miftah (Dr. Miftah Faridl, Ketua MUI Jabar; dulu Ketua Harian Masjid Salman ITB), guru kami yang saat dirawat di Singapura pernah di-hoax-kan wafat, tampak segar di meja depan. Beliau akan menyampaikan khotbah nikah.

Suara Pak Miftah yang khas, terasa akrab di telinga.

Kata-katanya  semakin berat pertanda shalat malamnya semakin padat.

Petuah beliau untuk kedua insan yang barusan mematri janji, betapa padat dan penuh makna.

Nasihat dosen Pendidikan Agama Islam ITB ini, saya kira, tidak hanya berguna bagi yang baru membina rumah tangga; melainkan juga sangat bermanfaat pula bagi para orang tua.

Dengarkan ceramah yang sangat menyentuh dari  Pak Miftah….

——– bersambung.




Ditulis di Graha Batununggal Indah, dalam angkot Soreang-Leuwipanjang, dan dalam bus Bandung-Bogor; 8 April 2017.

Tinggalkan komentar