Dengan Dua Ribu Rupiah Sais Naik Haji

Seorang kiai bersama santrinya, suatu hari, pada sebuah kota kabupaten di Jawa Tengah melakukan perjalanan.

Kendaraan umum yang paling banyak digunakan saat itu adalah delman atau dokar, yakni gerobak yang ditarik oleh satu atau dua kuda.

Kiai, di mana pun, dekat dengan rakyat. Setiap orang yang ditemui kiai, mesti disapanya.  

Di atas delman, Pak Kiai bertanya  kepada kusir,” Mas, sampeyan cita-citanya apa?”

“Kepingin naik haji, Kiai!”

“O, bagus sekali!”

“Sudah kamu siapkan biaya dan segala sesuatunya?”

“Itulah Kiai. Saya ini, kan, hanya sopir delman. Berapalah penghasilan saya sehari-hari!”

“Terus?”

“Tapi saya sangat ingin untuk pergi ke tanah suci. Bagaimana menurut Kiai? Amalan apa yang harus saya lakukan?”

“Kalau begitu, kamu datang saja ke Gus Mus. Sampaikan maksud kedatanganmu untuk bisa ke tanah suci!”


Satu hari, datanglah sais itu ke Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin untuk menemui Kiai Musthofa Bisri.

“Apa yang bisa saya bantu?” tanya kiai yang pandai berpuisi ini.

“Saya ingin naik haji, Kiai, tetapi saya tidak punya uang untuk biayanya!”

“Kebetulan saya harus segera berangkat, hendak menghadiri undangan.

Kamu tulis nama dan alamat rumah di sini,” kiai menyodorkan kertas dan pena, “…kapan-kapan saya hubungi.”

Sang pilot delman mohon pamit untuk melanjutkan usahanya, mencari muatan.

“Sebentar-sebentar. Ini untuk di Makkah, dan yang ini buat di Madinah,” kiai yang budayawan itu memberikan dua lembar uang satu ribuan kepada Pak sais.

Dengan kurang paham atas apa yang kiai sampaikan, ia menerima saja uang itu.

Beberapa minggu kemudian, pengendara kuda ini bertemu lagi dengan kiai yang dulu menyuruh dia menemui dengan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin  itu.

“Sudah bertemu Gus Mus?”

“Sampun, Kiai.”

“Apa kata beliau?”

“Dia minta saya menuliskan nama dan alamat, lalu memberi uang dua ribu rupiah. Katanya, yang seribu untuk di Makkah; yang seribu lagi buat di Madinah. Saya tak mengerti Kiai!”

“Ya, sudah. Berdoa saja dan sampaikan selawat yang banyak untuk Kangjeng Nabi saw. Dalam selawatmu, bilang kepada beliau, ‘Aku rindu bertemu denganmu, ya Rasulullah!’”


Waktu berlalu. Seorang pengusaha muda bersilaturahim ke kediaman Kiai Musthafa Bisri di Rembang.

“Gus, aku ini sudah niat haji tahun depan bersama ayahku. Segalanya sudah disiapkan. Eeeh, tiba-tiba saya ada urusan kantor yang harus diselesaikan.

Minta tolong, carikan seseorang untuk menggantikanku, menemani ayah ke tanah suci.”

Gus Mus pun memanggil sais tadi. Mereka dipertemukan.

“Saya titip bapak saya, ya. Jaga dan bantu dia, apabila memerlukan bantuan!”

“Beres Den, nanti tak pijat-pijat di sana.”

Berbekal uang pertama dua ribu rupiah pemberian Kiai Muthofa Bisri, ditunjang dengan selawat yang banyak kepada Kangjeng Nabi, serta doa dan niat kuat di dalam hati; berangkatlah kusir itu ke tanah suci.

Gratis, sama sekali!


Peribahasa mengatakan, “Dimana ada kemauan, di sana ada jalan!”



Ciomas, 28 Desember 2013

Tinggalkan komentar