Jidad Hitam Bekas Sujud

Apik, bungsu kami -walau anak paling kecil tapi dibanding kakak-kakaknya, badannya paling besar- suatu hari bertanya:

“Orang-orang ada hitam pada jidatnya di dua titik. Kok, Bapak hanya satu?”

“Mereka itu adalah orang-orang yang rajin shalat; dan sujudnya lama: memohon ampun dan berdoa kepada Allah; sehingga meninggalkan bekas-bekas sujud di kanan-kiri dahi.”

“Kalau Bapak, mengapa hanya satu; juga, posisinya di tengah?”

“Bapak ini termasuk orang-orang yang kalau makan porsinya bukan banyak tapi sangat banyak! Orang hobi makan dan kurang bergerak; perutnya maju, cepat ngantuk, dan mudah tidur.”

“Hubungannya dengan titik hitam satu itu?”

“Jika sedang berdoa atau shalat, seharusnya konsentrasi penuh kepada apa yang dibaca atau dimintakan dalam doa, dengan berharap sangat kepada yang Mahakuasa.”

“Tapi?”

“Yang namanya orang suka makan banyak, saat berdoa atau shalat pun, kantuknya tetap ada.”

“Terus?”

“Nah, waktu sujud, Bapak sering terkantuk-kantuk. Agar badan tak terguling, kepala bagian depan menahan beban dengan ditekankan ke lantai. Jadilah seperti ini!”


“Ooo…!”


Seorang anggota pengajian bertanya kepada penceramah, “Ustaz, apakah Rasulullah saw. dan para shahabat dahinya hitam; atau ada dalil dari Quran dan Hadits tentang tanda di jidat itu?”

_Mubaligh_ itu menjawab,”Di dalam Al-Quran surah Al-Fath ayat ke-29  disebutkan bahwa di antara ciri-ciri orang beriman adalah:

… تَرٰٮهُمۡ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضۡوَانًا‌ۖسِيۡمَاهُمۡ فِىۡ وُجُوۡهِهِمۡ مِّنۡ اَثَرِ السُّجُوۡدِ‌ ؕ…

_Taraahum rukkaaa’ sujjadan-yabtaghuuna fadhlan-minallaah wa ridhwaanaa. Shiimaahum fii wujuuhihim min atsaris-sujuud._

“…Kamu lihat mereka rukuk dan sujud, mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud…”

“Jelas, kan!”


Seorang kawan bertanya, “Kang, apa iya teman-teman yang ada tanda 2 hitam di jidatnya sebagai tanda orang-orang salih?”

“Bisa jadi.”

“Dijelaskan, dong!”

“Paling tidak, kawan-kawan ini, pasti shalatnya banyak. Shalat ada sujudnya. Jadi, sujudnya pun lebih banyak daripada … saya, misalnya.”

“Tapi, ustaz-ustaz lain yang setahu saya mereka itu orang-orang saleh, tak ada tuh yang jidatnya hitam!”

“Sensitivitas kulit orang, bisa berbeda-beda. Ada yang rajin  tahajud dan sujudnya lama; tapi dahinya tetap coklat, tidak hitam atau putih.

Akan tetapi. ada juga orang yang hanya melakukan shalat fardhu plus rawatib, ditambah beberapa shalat sunah lainnya; jidatnya cepat menjadi hitam.”

“Akang kenapa tak hitam jidatnya?”

“Shalatnya sedikit!”

“Kalau jidatnya hitam, pasti orang saleh?”


Kesalihan seseorang, tidak diukur oleh penampakan fisik atau asesoris keagamaan yang dikenakannya.

Kesalihan seseorang dicirikan dengan atas titah dan perintah Allah, dia taat; dan kehadirannya di tengah-tengah manusia, ia memberikan manfaat.

Sebagian ustaz berbeda pendapat dengan penceramah di atas. Mereka mengatakan bahwa tanda yang dimaksud dalam ayat itu, bukanlah jidat hitam hingga mengeras sampai kapalan.

Rajinnya beribadah kepada Allah berbekas dalam bentuk kesalihan di kehidupan sehari-hari terhadap sesama makhluk Tuhan.

“Mesantren 6 tahun; mana *bekasnya* ?“ kata seorang kakak kepada adiknya yang bandel, shalatnya sering telat, dan suka melawan kepada orangtua.

“Jang, kata seorang Ibu di Garut, kepada anaknya yang belum lama mendapat rezeki sangat banyak, dan dihabiskan untuk berpoya-poya…,” _Cik boga duit loba teh kudu nyangsang, atuh!”_

“Nak, ….,punya uang banyak gitu harus ‘nyangsang.’”

_Nyangsang_ artinya nyangkut. Sering digunakan untuk layang-layang yang nyangkut di pepohon atau kabel listrik.

_Nyangsang_ adalah kata-kata kiasan. Yang dimaksud si ibu adalah bahwa uang itu jangan habis begitu saja, sebagiannya hedaknya digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat -baik benda maupun jasa.

Demikian juga dengan kata “bekas-bekas sujud di wajah mereka”; itu bukan berarti pada wajahnya ada tanda-tanda fisikal bekas bersujud; melainkan kata, sikap, dan tindakannya menjadi semakin baik.

Lagi pula, *dahi atau jidat dalam bahasa Arab bukan* _wajhun_ (bentuk jama’-nya: _wujuuhun_ ).

Yang kalau didahului huruf jar, fii, misalnya, menjadi: _fii wujuuhihim_ ; seperti pada ayat di atas.

Dahi bahasa Arabnya _jabhatun_ ( _jama_ ’-nya: _jibaahun_ ); dengan jar fii menjadi: _fii jabhatihi_ -kalau tunggal; _fii jibaaihim_ -jika jamak.

Surah Al-Fath ayat 29 tersebut, jika “ *ingin* ” artinya:”… Pada *dahi* mereka tampak tanda-tanda bekas sujud itu; mungkin ayatnya berbunyi:

_Siimaahum fii jibaaihim (bukan fii wujuuhihim) min atsaris-sujuud._ Tetapi, ternyata tidak demikian.

Memiliki tanda hitam di jidat, menurut saya pribadi, boleh-boleh saja; ia hak setiap orang. Semoga hal itu menjaganya untuk semakin taat kepada Allah.

Dan, semoga ia dijauhkan dari rasa riya sebagai ahli ibadah; tidak termasuk ke dalam apa yang disebutkan dalam dua hadits ini:

Diriwayatkan dari Annas bin Malik dari Nabi Muhammad saw., bersabda beliau, “Sungguh Aku marah dan tidak menyukai seseorang laki-laki yang ketika aku melihatnya terdapat bekas sujud diantara kedua belah matanya.”

Hadits Abi Darda` ra.: 
أَنَّهُ رَأَى رَجُلاً بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلَ ثَفِنَةِ الْبَعِيرِ فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا كَانَ خَيْراً يَعْنِي كَانَ عَلَى جَبْهَتِهِ أَثَرُ السُّجُودِ وَإِنَّمَا كَرِهَهَا خَوْفاً مِنَ الرِّيَاءِ عَلَيْهِ.
Bahwa beliau, Rasulullah saw., melihat seorang laki-laki yang di antara kedua matanya terdapat tanda seperti _tsafinatul ba’ir_*. Lantas beliau berkata, “Seandainya tidak ada ini maka ia lebih baik.” Di dahi orang itu ada bekas sujud. Beliau tidak menyukainya karena khawatir hal tersebut menimbulkan riya.


*Bagian tubuh hewan berkaki -4 yang menempel tanah, sehingga tampak hitam.



Orang banyak sujud, banyak ibadahnya; kalau berbicara, kata-katanya padat, berisi, dan penuh makna.

Pada level tertentu, wajahnya pun memancarkan cahaya. Cahaya kesalihan, cahaya kelemah-lembutan, cahaya kerendahhatian -seperti seseorang yang saya lihat Jumat lalu, di Jakarta.


Wallahu ‘alam


Ciomas, 12 Agustus 2024, bakda Ashar. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar