“Belum berangkat, Pak?” Eddy, kawan satu lantai mengingatkan. Tadi siang, Senin, 21 Oktober, pukul 12.30, saya masih berada di kantor.
Dia tahu bahwa penerbangan saya adalah pukul 14 lebih sedikit. Ia mengkhawatirkan, kalau-kalau temannya ini ketinggalan pesawat.
Segera saya menuju Bandara Soekarno-Hatta. Untung saja, Mang Endin, yang bawa mobil, sangat piawai mencuri-curi jalan, menyalip sana-sini, hingga tidak terlalu lama, kami sudah tiba di Bandara.
Saya mendapat tugas untuk menghadiri rapat koordinasi antara institusi tempat kami bekerja yang dikoordinasikan oleh kantor perwakilan dengan pemerintah daerah Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau; dan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang beroperasi di daerah itu.
Rapat akan diselenggarakan pada hari Selasa, 22 Oktober 2013 di Pulau Batam.
Penerbangan Jakarta-Batam dengan Garuda, seperti sering terjadi, delay sedikit.
Di Hang Nadim, saya dijemput dan diantar ke tempat istirahat, sebuah penginapan nyaman yang berlokasi tak jauh dari pusat perbelanjaan Nagoya.
Saya hidupkan televisi. Pada chanel RT, tampak seorang lelaki sedang diwawancarai wartawan. Bahasa yang keluar dari orang yang diwawancarai tidak saya mengerti, tapi ada dubbing bahasa Inggrisnya.
Agak ngertilah, walau sedikit.
Mata saya menatap wajah yang memenuhi layar tv itu. Rasanya saya sangat familier dengan tokoh yang muncul di kaca.
Agar penglihatan semakin jelas, siapa yang berada di teevisi itu, saya mendekatkan diri ke layar kaca. Apa iya dia? Tapi tidak mungkin karena bicaranya bukan bahasa Indonesia, Inggris, atau Jawa.
Semula, saya bukan tertarik kepada beritanya, melainkan orang yang disorot secara close up oleh kameraman. Seorang sahabat asal Malang, Jawa Timur, menurut saya, sangat mirip dengan orang yang sedang bicara.
Ketika kamera mengambilnya dari jarak agak jauh; saat cakupan gambar lebih luas; semakin jelas dan pastilah, bukan dia. Karena, tokoh yang ada di televisi itu mempunyai kelainan fisik yang sangat menonjol.
Ia tidak bisa berdiri, apalagi berjalan kaki; sedangkan kawan dari Jawa Timur itu adalah seorang yang sehat, sangat energik, bahkan, rada-rada usil.
Rupanya, pemuda yang diwawancarai, adalah seorang pria berasal dari Belgorod, sebuah wilayah di arah baratdaya dari Moskow, berbatasan dengan Ukraina.
Dia bernama Grigory Prutov. Pemuda ini tidak bisa berjalan kaki dan aktivitas fisik lain, kecuali yang sangat ringan seperti memijit pad komputer.
Grigory mempunyai dua kaki yang sangat kecil, amat lemah, dan tidak bisa digerakkan. Ke mana pun ia pergi, seseorang harus mengangkatnya.
Mau beranjak dari tempat tempat duduk pun, mesti dibantu. Kedua tangannya sangat kecil dan tampak seperti tulang tanpa daging.
Lengan itu pun bentuknya bengkok. Tetapi, menggerak-gerakkan jari-jari tangan, memainkan pad-pad komputer, ia bisa.
Karena sakit yang berkepanjangan, Grigory pernah menyesali hidupnya. “Saya tidak mengerti, mengapa aku hidup? Tiada ada masa depan!”
Ia ingin menikmati indahnya alam, melihat matahari terbit dan terbenam, berenang di sungai dan di laut. Atau, memeluk orang yang dicintainya. Tapi itu semua, tidak bisa ia lakukan. Dia terlalu lemah untuk berbuat.
Grigory lahir dengan penyakit bawaan atrofi tulang belakang (AGR HF). Ayah dan ibunya pernah membawanya berobat ke Moscow.
Tatyana, ibu Grigory bilang, “Menurut dokter yang merawatnya, itu adalah penyakit genetis.
Tetapi anggota keluarga lain tidak ada yang menderita penyakit seperti Grigory.” Ayah, ibu, dan kakaknya pun hidup sehat dan normal.
Penyakit ini mempengaruhi satu gen yang sangat penting. Gen ini bertanggung jawab untuk pengembangan otot-otot dalam tubuh manusia, lebih khusus untuk produksi protein yang cukup, yang pada gilirannya memungkinkan otot untuk diperbarui dan diperkuat.
Untuk makan dan minum saja, Grigory memerlukan usaha tidak mudah. Di usianya yang 23 tahun, berat badan pemuda ini hanya 20 kg. Dokter yang merawatnya, dulu, pernah berkata bahwa usia anak itu tidak akan mencapai tujuh tahun.
Berbagai upaya penyembuhan -hingga berobat ke negeri Cina, orangtuanya lakukan,.
“Setelah tusuk jarum, otot-ototku mengendur. Saya bagai bayi yang baru bisa bergulir. Tapi aku tak bisa mengangkat atau menggerakkan tanganku sendiri,” Grigory berkisah tentang proses pengobatannya di Cina.
“Pada usia enam tahun, saya bilang kepada orangtua bahwa hidup ini begitu melelahkan. Lelah untuk pergi ke rumah sakit dan menghabiskan hari-hari di ruang rawat; juga bosan dengan rasa sakit yang kuat.…”
Suatu hari Grigory, lewat internet, berkomunikasi dengan seorang gadis manis, Anna Stelmakhovich. Di luar dugaan, Anna, seorang wanita dengan fisik normal dan wajah cantik, dengan senang hati, bersedia berkenalan dengan Grigory.
Tentang komunikaisnya dengan Anna, Grigory menulis:
“Di pagi hari, ketika aku terbangun, di jaringan sosial saya mendapatkan bahwa Anna telah menambahkan saya sebagai temannya. Jadi mulailah hubungan kami.”
Gadis ini terlahir dengan nama Olesya, dan setelah dibaptis berganti nama menjadi Anna. Ia berasal dari Irtyshsk, sebuah kota kecil di Kazashtan, negara tetangga Uni Soviet; sedangkan Grigory dari Belgorod, Russia.
Tuhan kembali tunjukan kuasa-Nya. Anna yang lincah dan jelita menikah dengan Grigory- yang untuk keperluan memasukkan makanan ke mulut pun perlu dibantu.
Gennady Prutov dan Tatyana Prutova, ayah dan ibu Grigory; juga keluarga Anna dan beberapa sahabat dan kerabat dekat hadir dalam pernikahan unik itu.
Semua keluarga tampak bahagia bercampur haru. Banyak hadirin, ketika menyaksikan prosesi pernikan ini, meneteskan air mata.
Rutrov TV menyiarkan acara itu. Dan, karena dinilai sebagai pernikahan yang langka, seperti halnya pernikahan Putri Herlina dengan Reza, yang saya share beberapa hari lalu, berita ini pun diliput banyak media.
Di hari pernikahan, dengan senyum mengembang, Grigory berkata, “Saya akan kembali bisa menikmati indahnya bulan dan bintang.
Entah berapa tahun lalu saya terakhir melihat cahaya rembulan dan sinar gemintang.” Orangtuanya, mungkin, sudah lama tidak membawa dia keluar apartemen di malam hari.
Setelah mereka menjadi suami istri, Anna meladeni suami bagai seorang ibu yang merawat dengan telaten seorang anak balitanya yang cacat.
Sesudah mengurus makan, minum, dan berbagai keperluan Grigory di rumah Anna selesaikan; dia pun membawa suaminya jalan-jalan di taman dan ke tempat-tempat lainnya. Istri yang cantik ini memegang kursi dorong suaminya, seperti orangtua yang mengasuh anaknya. Ia mendorong dari belakang, kadang berjalan di sampingnya.
Sekali-sekali, dilepasnya kursi dorong itu dan dia berlari di depan, mengajak Grigory bercanda.
Kembali, saya merasa sangat bangga dengan Grigory yang sabar, tetap bersemangat, dan tidak merasa rendah diri.
Aku sangat kagum kepada Anna, dara lincah dan jelita yang bersedia menikah dengan Grigory. Saya sangat hormat kepada Gennady Prutov dan Tatyana Prutova yang dengan penuh kesabaran merawat Grigory sejak kecil.
Keinginan kuat, usaha sungguh-sungguh dan menerus, membuahkan hasil. Pemuda di kursi dorong itu mendapatkan teman hidup yang sangat menyayanginya. Pemudi yang menghampiri dia adalah juga seorang yang lincah, cantik, dan jelita.
“Jika Tuhan menghendaki, apa pun bisa terjadi!”
Batam, 21 Oktober 2013 dan Merlynn Park Hotel, Petojo, sambil ngecas hp yang lowbat, menjelang Magrib, 30 Oktober 2013; dan Ciomas 19 Desember 2013.
Tinggalkan komentar