Malaikat Cinta Datang Tak Diduga

Resensi buku haji Jonih Rahmat
Oleh: Prof. Dr. Ir. Adjat Sudrajat, M. Sc.**


Sebuah buku mengenai sisi lain perjalanan ibadah haji, telah ditulis oleh Ir. Jonih Rahmat, seorang ahli geologi yang bekerja di sebuah perusahaan minyak bergengsi.

Buku ini telah lama terbit dan telah dicetak ulang bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu di Malaysia.

Diterbitkan oleh penerbit terkemuka Gramedia Pustaka Utama, dan dikategorikan sebagai _best seller_ .

Sebagai seorang ahli geologi, di samping melaksanakan dengan tekun semua urutan ibadah haji, juga mengamati sisi lain dari ibadah ini.

Umpamanya, bahasan mengenai penampang geologi sumur zamzam dan analisis mengalirnya air sumur yang tak kunjung surut.

Dikemukakan bahwa reservoir air ini adalah batupasir yang poros yang di bawahnya dialasi oleh batuan diorit yang banyak memiliki rekahan.

_In take_ area adalah sebuah cekungan yang memanjang, sedangkan sumur zamzam terletak pada sumbu cekungan itu.

Tidak terlewat pula analisis banjir yang melanda Mekah yang kebetulan dialaminya dalam menunaikan ibadah haji tersebut.

Tidak adanya selokan di setiap tepi jalan merupakan faktor teknis yang tidak mendapat perhatian, sehingga jalan berfungsi sebagai dasar sungai.

Buku ini menjadi menarik, karena merupakan catatan harian perjalanan naik haji yang diisi dengan berbagai pengalaman _human interest._ Bahkan mungkin menjadi sarana untuk membangkitkan kepedulian sosial ( _hablum-minannas_ ).

Pada pembukaan saja sudah muncul suatu adegan ketika Ir. Jonih Rahmat yang bergaji pegawai perusahaan minyak besar, tidak mampu naik haji karena uangnya dipakai untuk menyantuni anak-anak yatim.

Rumahnya di pinggiran Kota Bogor sendiri selalu ramai oleh musafir yang berteduh.

Dalam buku ini dikemukakan bahwa gajinya diperlakukan sesuai kaidah 85:15, seperti yang berlaku untuk Kontrak Bagi Hasil dalam industri migas. Bedanya, 85 untuk Negara; tetapi dalam kasus Jonih Rahmat 85 untuk anak yatim.

Akhirnya, kawan-kawannya mengumpulkan uang untuk memberangkatkan Jonih naik haji. Ia menyebut dirinya Haji Kosasih, ongkos dikasih.

Dengan suasana kebatinan seperti itu, perjalanan haji yang dilakukannya berjalan penuh _barokah_ , memanfaatkan setiap saat dan tempat yang memiliki keutamaan dengan maksimal.

Ia dalam _thawaf_ berhasil mencium hajar aswad, sebuah batu hitam yang menurut Jonih terdiri atas 8 keping yang diikat dengan timah.

Hal yang menarik adalah dalam pusaran orang ber- _thawaf_ dan semua berusaha mendekati _hajar aswad_ , ada orang menawarkan jasa dengan imbalan beberapa puluh real.

Tanpa menyebut bahasa yang dipakai untuk negosiasi transaksi itu, Jonih hanya menyebutnya sebagai kreatif.

Perjalanan ibadah ini dirinci dengan runut, mulai dari kedatangan di Mekah, melakukan _thawaf_ dan _sa’i_ , kemudian beranjak ke Madinah untuk kegiatan berziarah ke berbagai tempat bersejarah dan kemudian balik ke Aziziyah, Mina dan padang Arafah untuk acara puncak naik haji.

Bagi mereka yang sudah mengalami ibadah haji, membaca buku ini seperti membuka album kenangan.

Bedanya, dalam buku ini dibahas lebih mendalam mengenai sejarah dan maknanya.

Bahkan, ketika berkunjung ke Bukit Uhud; Perang Uhud dibahas dengan panjang lebar.

Bagaimana Hindun menganiaya jenazah Hamzah sang pahlawan yang gugur syahid, dengan membongkar jasadnya dan mengambil jantungnya sebagai balas dendam terhadap kematian ayahnya dalam Perang Badar.

Buku ini memuat pula berbagai petunjuk pelaksanaan ibadah dan doa yang diselipkan dalam mengalirnya cerita, sehingga tidak mengganggu atau terkesan menggurui.

Doa itu pun diberi ilustrasi sehingga terkabul niat sang pembacanya seperti dialami sendiri oleh Jonih.

Ketika ia tidak diperbolehkan masuk ke Masjidil Haram karena membawa ransel penuh buku, maka ia pindah pintu masuk; dan sebelum masuk, ia mengucapkan doa, sebagaimana Rasulullah melakukannya ketika dikepung pemuda kaum musyrikin.

Nabi lolos tanpa dilihat oleh para pemuda itu. Doa yang dibaca adalah salah satu ayat dalam surat Yasin yang terjemahannya:

“Dan kami jadikan di depan mereka penghalang dan di belakang mereka penghalang, kemudian kami tutup mata mereka sehingga mereka tak melihat.”

Jonih lolos dari askar-askar yang menjaga pintu dan melenggang dengan ransel di punggungnya.

Buku ini merupakan salah satu dari sekian banyak buku yang ditulis Ir. Jonih Rahmat, ahli geologi yang melengkapi diri dengan _soft skill_ berdampingan dengan _hard skill_ yang diperolehnya dari lembaga pendidikan kebumian.

Tampaknya, di dalam tata pikir pendidikan kebumian terdapat ruang untuk mengembangkan diri dalam _soft skill._

Dalam kaitan itu, buku ini bermanfaat untuk dibaca.


*MALAIKAT CINTA -Sisi Lain Ibadah Haji yang Menyentuh Hati. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2011. xxii+360 halaman, 21×14 cm ISBN 978-979-22-7116-4. -Adjat Sudradjat-.

**Guru Besar Geologi UNPAD; Dir. Jen Geologi dan Sumber Daya Mineral: 1989-1997; Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia: 1981-1983.

Tinggalkan komentar