Nama-Nama Sama & Shalat Menghadap Kenya

Hari ini, Sabtu, 8 February 2014, saya mendapat tugas khusus: menjadi saksi dan membaca doa pada pernikahan Mehfta, keponakan saya.
 
Pagi tadi, ke ini gedung, tempat akan diselenggarakan akad dan resepsi, saya datang sedikit lebih awal dibanding rombongan mempelai pria.
 
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang kami hormati, karena sudah tiba waktunya, acara akan segera kita mulai. Kepada pihak dari calon mempelai pria dimohon menempati ruang sebelah kanan saya, dan rombongan mempelai wanita tetap di sini,” pembawa acara memberikan arahan.

Kami dibimbing ke luar dulu dari ruangan akad menuju dekat bagian tengah gedung, berdiri berbaris.

“Na, Teteng mana?” saya bertanya posisi Teteng, suami Ina.
 
“Belum datang. Sedang dalam perjalanan ke sini.”
 
Ina adalah ibu dari Mehfta, dan Teteng adalah panggilan keluarga untuk Deden Permadi, Ayah calon mempelai pria. 
 
“Coba ditelepon, posisi sekarang sudah di mana?”
 
“Kepada rombongan dari calon mempelai pria, dipersilakan untuk menyerahkan calon pengantin pria kepada keluarga calon mempelai wanita.”

Kami saling lirik, siapa yang akan nyerenkeun Mehfta.

Karena kami belum bereaksi atas komando dari MC, pembawa acara mendekat, “Saha anu bade nyerenkeun?”

“Kang Jonih saja atuh!” pinta beberapa orang di pihak kami.
 
“Nggak apa-apa, boleh,” saya maju ke depan.
 
Namun, segera saya kembali ke barisan belakang. “Tapi, kan, bapak calon pengantinnya  belum datang. Tunggu saja sebentar.”
 
Seseorang menginformasikan kepada pembawa acara bahwa ayah calon mempelai pria belum ada di dalam gedung.
 
“Oh, kalau begitu kita tunggu dulu.”
 
Tidak sampai sepuluh menit, tampak banyak orang menaiki tangga, menuju lantai dua. Rombongan mempelai pria tiba.
“Siapa yang mau nyerenkeun?”
 
“Pak Wawan.”
 
“Sok atuh teras ka payun.”
 
Selesai serah terima calon mempelai dan sedikit barang bawaan, hadirin dipersilakan menempati ruang yang sudah disediakan. Saya duduk antara calon pengantin pria dan ayah calon mempelai wanita, menghadap meja. Petugas dari KUA sudah siap sedia dengan kelengkapannya.

“Saya tikahkan dan kawinkan Saudara Zubhin Artoru Mehfta dengan putri saya, Mila Akmalia Budirini dengan mas kawin uang delapan puluh dua ribu empat belas rupiah dan emas sepuluh gram, dibayar tunai.”
 
“Terima nikahnya saya,   Zubhin Artoru Mehfta dengan Mila Akmalia Budirini dengan mas kawin uang delapan puluh dua ribu empat belas rupiah dan emas sepuluh gram, dibayar tunai!
 
Sebelum petugas Kantor Urusan Agama mengarahkan pertanyaannya ke arah saksi pihak pria, mulut sudah saya siapkan untuk bilang, “Sah!”
 
“Kepada Bapak petugas dari KUA apabila tidak ada acara lain, kami persilakan untuk mengikuti acara selanjutnya. Namun, jika hendak melaksanakan tugas berikutnya di tempat yang berbeda, Bapak , dengan hormat, boleh meninggalkan tempat. Terima kasih,” MC menyampaikan.
 
“Selanjutnya, agar acara ini lebih berkah; akan kita ikuti doa penutup yang akan disampaikan oleh Bapak Jonih Rahmat.”
 
Saya membacakan doa bagi kedua mempelai dan untuk semua hadirin.
 
Acara dilanjutkan dengan upacara adat Sunda. Rombongan pengantin pria diminta kembali ke tempat ketika baru datang, keluar dari ruang akad; sementara pihak wanita tetap di bagian dalam.
 
Ada yang menarik dari acara pernikahan ini. Di antara  nama-nama yang disebut oleh pembawa acara, dari kedua belah pihak, *banyak yang sama atau mirip.*

MC menyampaikan bahwa kelompok kesenian dipimpin oleh Bapak *Permadi* . Ayah pengantin pria bernama Deden *Permadi* .

Ibu pengantin pria adalah *Marina* Subekti; dan Ibu pengantin wanita, *Rina* E. Hadirini.
 
Dari pihak pria hadir Kang *Agus* , paman dari Mehfta; dan ayah pengantin wanita adalah Bapak *Agus* A. Budiman.

Tidak ketinggalan, saksi dari pihak wanita bernama Bapak *Joni* ; dan dari pihak pria *Jonih* Rahmat (beda tipis, cara penulisannya saja. Maksa.com).
 
Di tengah-tengah acara adat, telepon saya berdering. Agar suara yang masuk jelas terdengar, saya lari ke lantai dasar, dan terus ke luar gedung.
 
 “Pak Jonih, assalamualaikum!”
 
“Waalaikumsalam. Ada yang saya bisa bantu Pak Eep?”
 
“Saya mau bertanya. Kamar mandi, khususnya tempat kita membuang sesuatu, katanya tidak boleh menghadap kiblat?”
 
“Lagi membangun rumah kelima, nih?”
 
“Sedang bersama saudara. Jadi, bagaimana, Pak?”
 
“Tempat yang kita injak atau duduki itu, jangan membentuk garis delapan puluh derajat dengan kakbah!”
 
“Maksudnya?”
 
“Menghadap atau membelakangi kiblat, tidak boleh. Tapi, dulu kan yang disebut tempat buang-membuang itu relatif terbuka. Paling dihalangi pelepah kurma. Kalau ditutup tembok, sih, tak masalah.

Namun, untuk amannya sebaiknya hindari dari menghadap atau membelakangi kakbah. Ke barat sih boleh?”
 
“Lha, katanya tadi tidak boleh, tapi sekarang boleh?”
 
“Posisi kakbah tidak persis sebelah barat Indonesia. Ia berada sekitar dua puluh lima derajat dari barat ke arah utara. Jadi, kalau shalat jangan menghadap ke barat,  tapi ke baratlaut. Atau … lebih tepatnya ke arah WNW-lah.  
 
Kebetulan banyak masjid di Indonesia, kabarnya, menghadap tepat ke barat. Pantas banyak doa tidak dikabulkan, karena kita shalat dengan menghadap ke Afrika.
 
Doa-doa kita mungkin sampai ke Butiama, kampung tempat kelahiran Julius Nyerere di Tanzania atau ke Taman Nasional Nairobi di Kenya; bukan ke Makkah!“ saya berseloroh.
 
“Ha…ha…ha…. Oh, begitu. Jelas. Terima kasih, Pak!”
 
Selesai diskusi dengan Pak Eep, saya kembali ke lantai dua.
 
“Eh, tadi dipanggil-panggil ke depan,” Kang Agus, kakak dari orangtua mempelai pria menyampaikan kepada saya.
 
Dari arah keramaian, terdengar suara Pak Wawan sedang memberikan sambutan atas nama keluarga pengantin pria.
 
Rupanya, saat saya menerima dan mengirim suara via telepon, di halaman gedung,  nama saya disebut-sebut pembawa acara untuk memberikan sambutan. Untung ada Pak Wawan. Ia sudah terbiasa dengan acara-acara seperti itu. “Hatur nuhun, Pak Wawan!”

Tiga hari kemudian, di Jakarta, saya bertemu Pak Eep. “Sekarang sudah clear. Kemarin itu saya ramai berdebat dengan saudara. Terus saya bilang, “Sebentar saya telepon dulu ahlinya.“
 
“Ya, ahli waris,” saya membalas.
 
 
Marcopolo, Bukit Cimanggu City, Bogor, 08 Februari; dan Pasar Minggu Baru, 12 Februari 2014.  Salam, jr

Tinggalkan komentar