*Khotbah Pak Miftah dalam Pernikahan Agies dan Heru* di Graha Batununggal, Bandung, 8 April 2017
Ananda, kalian harus menjaga kesucian akad nikah pagi ini dan kesucian membangun rumah tangga nanti.
Kalau akad nikah menjadi bagian dari ibadah kepada Allah, maka membangun rumah tangga pun harus kalian tempatkan sebagai bagian ibadah ke hadirat-Nya.
Selain merupakan perjanjian yang suci, nikah juga merupakan perjanjian yang berat, miitsaaqan ghaliizhaa, sebuah perjanjian dengan sejumlah konsekuensi.
Nikah dalam Islam tidak hanya menghalalkan perbuatan yang haram, tetapi juga bisa mengharamkan sejumlah perbuatan yang semula halal.
Di satu sisi nikah dapat melahirkan sejumlah kebebasan yang tidak kita peroleh sebelum akad nikah, tapi dalam waktu yang sama nikah pun melahirkan sejumlah keterikatan dan keterbatasan.
Nikah dapat melahirkan sejumlah hak. Kita punya hak-hak tertentu dari istri maupun suami. Nikah juga melahirkan sejumlah kewajiban.
Biasanya, sebuah rumah tangga menjadi tidak harmonis kalau istri atau suami hanya menuntut hak, tapi tidak melaksanakan kewajiban.
Laksanakanlah oleh kalian kewajiban sebagai suami, kewajiban sebagai istri; dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Hak itu tidak perlu dituntut, ia akan datang dengan sendirinya.
Beberapa kali Al-Quranul Karim memberikan gambaran tentang keluarga yang ideal.
Salah satu di antaranya tercantum di dalam Surah Ar-rum 21,yaitu bahwa salah satu ciri penting sebuah keluarga ideal adalah apabila di tengah-tengah keluarga itu tercipta sebuah suasana sakinah, mawadah, wa rahmah.
Sebuah rumah tangga yang tenteram, damai, serta terjalin cinta kasih yang tulus dan ikhlas.
Ananda mempunyai kewajiban untuk melestarikan dan mengabadikan cinta dan kasih di antara kalian berdua.
Harta penting dalam membangun rumah tangga, tapi harta bisa habis karena celaka.
Kecantikan dan kegantengan pun harus dijaga, tapi itu pun akan sirna karena direnggut usia. Yang lestari adalah cinta dan kasih.
Tumbuhkan dan budayakan di antara kalian berdua semangat taawun,yaitu saling tolong- menolong. Suami gemar menolong istri, istri rajin menolong suami.
Kreatif untuk membahagian istri atau menyenangkan suami adalah langkah efektif untuk melestarikan cinta dan kasih.
Kalau semangat tolong-menolong sudah tidak ada; suami tidak ada minat untuk menolong, istri pun tidak menolong suami; maka cinta kasih pun akan menjadi sirna.
Bangunlah budaya tasamuh, saling toleran satu sama lain.
Selalu menghargai, mempertimbangkan, dan memperhatikan apa yang menjadi keinginan, harapan, usulan, bahkan kritik dari istri atau suami.
Kalian harus siap bahwa istri kita, suami kita adalah manusia biasa. Dia pasti punya sejumlah kelemahan.
Keharmonisan dari rumah tangga itu antara lain adalah apabila kelemahan istri diisi dengan kelebihan yang ada pada suami, dan tentu sebaliknya bahwa kelemahan yang ada pada suami dapat disempurnakan oleh kelebihan yang dimiliki istri.
Rasulullah saw. menyampaikan pesan kepada kaum pria, “Khairukum khairukum li nisaaihim“.
Orang yang terbaik di antara kamu adalah mereka yang paling arif dan bijak kepada istrinya.
Saya ini rasulullah, saya habiballah, kekasih Allah, dan saya berusaha menjadi suami yang paling baik kepada istri saya.
Ananda, ukuran kemulian seorang pria antara lain adalah kearifannya kepada istri. Jadilah suami yang baik, Allah akan sayang kepada kita.
Tolonglah istri, Allah akan menolong kita.
Sayangi istri, Allah akan sayangi kepada kita.
Ringankan beban istri, Allah akan ringankan beban kita.
Kepada setiap wanita Nabi saw. juga pernah menyampaikan,
“Seandainya di dunia ini diperbolehkan manusia bersujud kepada manusia yang lain, maka yang paling pantas itu istri sujud kepada suaminya…”
Ketika beberapa sahabat menceritakan tentang seorang wanita yang rajin shalat dan rajin puasa; lalu disebutkan nama dan alamatnya; Nabi saw. memberikan komentar:
“Kalau kalian ingin tahu contoh wanita yang haram masuk surga adalah wanita yang seperti ini!“
“Ya Rasulullah, dia rajin shalat rajin dan rajin puasa.”
“Saya tahu dia rajin shalat dan puasa, tapi dia adalah wanita yang tidak pernah loyal dan tidak pernah patuh kepada suami!”
Kemuliaan seorang istri antara lain adalah kepatuhan terhadap suaminya.
Ananda kalau buruk sangka itu dosa, buruk sangka suami kepada istri, istri kepada suami lebih besar dosanya.
Membuka aib itu perbuatan yang tidak terpuji, membuka aib istri atau suami, lebih tidak terpuji lagi.
Rasulullah saw mengajarkan bahwa dalam melestarikan cinta dan kasih di antara kita, usahakan jangan suka mengingat-ngingat kesalahan istri atau suami; tapi ingat-ingatlah jasa dan kebaikannya kepada kita.
Supaya cinta kasih lestari, jangan suka mengingat-ingat jasa dan kebaikan kita kepada istri atau suami.
Apalagi menceritakannya kepada orang lain!
Tetapi, sekali lagi, agar cinta dan kasih lestari dan abadi, jangan lupa khilap dan salah kita kepada istri atau suami.
Rasulullah saw. juga memberikan sebuah resep spiritual agar cinta dan kasih lestari, biasakanlah saling doa-mendoakan.
Tiada doa tanpa disertai doa untuk kebahagiaan istri atau suami.
Ketika kalian bersimpuh di atas sajadah, sebelum atau sesudah shalat, kalian memohon sesuatu; jangan lupa sertakan permohonan untuk kebaikan istri atau suami.
Saat kalian memohon ampun kepada Allah, sertakan permohonan ampunan untuk istri atau suami.
Doa yang paling baik itu antara lain adalah doa seorang istri untuk suami dan doa suami untuk istri; dan istri atau suami itu tidak tahu bahwa dirinya didoakan.
Kalau pada suatu saat suami dihadapkan dengan kesulitan dan problem yang berat, segera istri mengambil wudhu, lakukan shalat dua rakaat, namanya sholat syukrul wudhu.
Hadapkan diri ke ke kiblat, nyatakan kepada Allah: “Ya Allah tolong dia, sayangi dia, rahmati dia, berkati dia.”
Katanya, pintu arasy terbuka, ratusan malaikat ikut mengamini doa seorang istri yang salehah, yang tulus mendoakan keselamatan suaminya.
Ananda, rumah tangga adalah bagian dari kehidupan duniawi. Kalian tahu, kehidupan duniawi tidak senantiasa diwarnai oleh senyum gembira dan gelak tawa.
Jalan yang kita lalui sering kali tidak indah, tidak rata. Ujian dan cobaan akan datang menerpa. Kita harus siap berhadapan dengan gelombang dan badai kehidupan.
Kesuksesan kalian dalam membangun rumah tangga sangat tergantung pada kemampuan kalian dalam menghadapi, menyikapi, dan mengatasi ujian-ujian itu.
Kalau pada suatu saat kalian dihadapkan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan -apa pun namanya, lakukanlah introspeksi.
Sebab ternyata, kegagalan sampai musibah pun banyak disebabkan oleh kebodohan, ketoledoran, atau mungkin karena dosa-dosa kita.
Sadar akan kekurangan diri adalah merupakan pintu gerbang untuk perbaikan diri.
Orang yang tidak pernah sadar akan kekurangan diri, biasanya sulit diperbaiki. Dia merasa sudah sempurna, sehingga ia merasa tidak perlu perbaikan pada dirinya.
Apabila kalian dihadapkan dengan ujian yang berat, tidak boleh putus asa. Masih ada Allah yang Maha Perkasa.
Nabi memberikan resep spiritual ketika bahtera rumah tangga kita dihadang dengan badai kehidupan yang berat.
Bangunkan istri di penghujung malam; bangunkan suami di akhir malam dengan penuh kasih sayang.
Fa yaqumaan, suami-istri bangun untuk shalat malam; fa yadzkuraanillaah, suami dan istri berdoa, berzikir, pasrah kepada Yang Mahakuasa, maka Allah menjawab.
Dalam hadits qudsi disebutkan: “Aku malu kalau Aku tidak memenuhi keinginan mereka!
Aku malu kalau Aku tidak mengabulkan munajat mereka!”
Serahkan kesulitan itu kepada Allah sebelum kalian menyerahkannya kepada orang lain, yang belum tentu bisa menolong kalian.
Satu lagi hal penting saya sampaikan untuk meraih keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah; yaitu birrul walidaain.
Kalian harus selalu berkhidmat* dan hormat kepada ayah dan ibu!
Tidak akan pernah ada kesuksesan, tidak akan pernah ada kebahagiaan bagi mereka yang kerjanya menyakiti ayah dan ibunya.
Rida Allah kepada seseorang tergantung rida ayah dan ibunya. Murka Allah kepada seseorang tergantung murka ayah-ibu yang bersangkutan.
Malah, secara khusus Nabi saw. menyampaikan pesan moral kepada sahabatnya: semua dosa itu boleh-boleh saja ditangguhkan oleh Allah azabnya di akhirat nanti, kalau Allah mengehendaki.
Akan tetapi, satu dosa yang satu itu azabnya akan kontan diturunkan ke dunia. Dosa itu adalah‘uquuqul waalidain, menyakiti ayah dan ibu.
Berulang kali Al-Qur’an berpesan kepada kita: sembahlah oleh kalian Allah, jangan kalian menyekutukan Allah, berkhidmat dan hormatlah ayah dan ibu, insya Allah kalian akan sampai di Pulau Bahagia.
Kalau kalian senang, ayah dan ibu lebih bahagia; tapi sebaliknya, kalau kalian menderita, ayah dan ibu akan merasa tersiksa.
Baarakallaahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a baina kumaa fii khaiir.
Ciomas, bakda Subuh, 19 April 2017.
*Kata “khidmat” dalam bahasa aslinya, bahasa Arab, bermakna melayani atau pelayanan, pengabdian; berbuat baik kepada sesama.
Ia berasal dari kata:khadama-yakhdumu/yakhdimu-khidmatan (lihat: Al-Munjid fie al-lughati wa al-a’laam), artinya melayani.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia untuk khidmat menjadi hormat, takzim, khusyuk adalah kurang tepat.
Bahasa Melayu mengartikan kata khidmat dengan: servis, kerja untuk memenuhi keperluan orang ramai. Ini lebih sesuai dengan makna asalnya dalam bahasa Arab.
Orang yang melakukan pelayanan (ism faail), kalau laki-laki disebut khaadim, dan jika perempuan khaadimat(h). Ibu-ibu muda aktivis pengajian menyebut pelayan atau pembantu rumah tangga mereka sebagai khadimat. (jr).
Tinggalkan komentar