Pesan Kebaikan Seorang Polisi

Brigagir  Jenderal Polisi Condro Kirono, saat rehat pada acara Rapat Koordinasi Keamanan di Pekan baru, bercerita kepada kami. Simak kisah menarik dari Kapolda Riau ini.

“Waktu itu saya berdinas di Polda Metro Jaya.  Saya perintahkan kepada seluruh anggota agar berbuat baik kepada siapa pun.

‘Nanti, kebaikan itu akan kembali juga kepada kalian. Kalau kita tidak mengalaminya, balasan atas kebaikan itu akan datang juga kepada anak, istri, atau keluarga kita lainnya. Tidak usah kuatir, Gusti Allah ora sare!’

‘Kalau ada mobil yang mogok, bantu mereka hingga jalan kembali mobilnya. Kalau ada yang kendaraannya perlu didorong, dorong saja!’

‘Apabila ada kendaraan yang bannya bocor, tambal dia!’”

Para anggota juga dibekali alamat-alamat redaksi surat kabar.

“Tolong kasihkan alamat-alamat koran itu kepada orang yang kamu bantu! Mereka mau menuliskan kejadian itu, syukur. Tidak, tak apa-apa. Ingat, Tuhan tidak tidur!”

Tiap hari ia sampaikan pesan-pesan kebaikan itu kepada para stafnya.

Kepada anggota yang melakukan kebaikan, ia berikan apresiasi.

Suatu hari, Pak Condro menerima telepon dari  Pak Makbul Padmanegara, Wakil Kepala Polisi Republik Indonesia, ketika itu.

Jenderal bintang  tiga  ini mengucapkan terima kasih atas sebuah kebaikan yang dilakukan oleh anggota polisi di Jakarta. Padahal, Pak Condro belum tahu peristiwa yang terjadi.

Seorang Staf Ahli Menteri Penertiban Aparatur Negara menelepon temannya,Waka. Polri, hal berita di surat kabar yang staf ahli itu baca.

Begini cerita di koran itu:

“Dua anggota polisi sedang berpatroli. Mereka mendapati sebuah mobil berhenti di perjalanan. Seorang ibu dan anaknya berada di dalam mobil. Pak Polisi turun dari kendaraannya.

‘Ada yang bisa saya bantu, Bu? Apakah  mobilnya mogok?’

‘Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya pening kepala, sehingga tidak bisa konsentrasi  menyetir. Saya mau istirahat dulu saja.”’

Mendengar bahwa jasa baiknya belum diperlukan, Pak Polisi tidak serta merta meninggalkan tempat itu.

Setelah lama menunggu, mobil yang berhenti tersebut belum berangkat-berangkat juga, anggota polisi tersebut menghampiri lagi kedua penumpangnya.

Rupanya, si ibu belum pulih dari sakitnya.

Pak Polisi segera berinisiatif dan cepat bertindak. Lalu, salah seorang polisi kendarai mobil yang berpenumpang ibu dan anak itu, pulang ke rumah mereka di Bekasi.

Ia antarkan keduanya kepada keluarganya.

Setiba di rumah, si ibu masuk ke dalam kamar. “Mau dikasih berapa ini polisi baik hati,” pikirnya.

Ia ambil sejumlah uang, dan diberikannya kepada anggota yang menyelamatkan dan mengantarkannya hingga tiba di rumah.

Akan tetapi, polisi itu menolak pemberian uang terima kasih. Dia merasa bahwa menolong orang di perjalanan, itu sudah tugasnya.

Atasannya, di kantor, setiap pagi, menyampaikan pesan kebaikan untuk diamalkan para anggota.

Si Ibu, lalu, menulis di Kolom Surat Pembaca sebuah harian di Jakarta. Ia juga bercerita bahwa pada awalnya ia dan anaknya agak ketakutan juga sama itu polisi.

Barangkali, mereka membayangkan dan mengkhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama dalam perjalanan. Ia juga tidak menduga seorang polisi, bisa berbuat sebaik itu!

Keluarga mereka sangat berterima kasih kepada pihak kepolisian.

Staf Ahli Menteri Penertiban Aparatur Negara membaca itu surat pembaca. Dia, lalu, menyampaikan berita itu kepada koleganya di kepolisian, Wakil Kepala Polisi Republik Indonesia.

Pak Makbul, kemudian,  menelepon Pak Condro Kirono, beliau mengucapkan terima kasih kepada jajarannya. Kepada Pak Condro ia bicara, “Anggotamu kasih apresiasi!”

Seorang atasan, mendengar anak buahnya berbuat baik; dan bahkan bisa membantu orang lain, tentu saja merasa senang.

Tapi, untuk lebih yakin atas apa yang terjadi, dia melakukan pengecekan. Di koran, alamat pengirim surat pembaca, tertera jelas. 

Seorang anggota lainnya Pak Condro tugaskan mengunjungi kediaman keluarga yang dibantu itu.

Di alamat yang dituju, petugas bertemu dengan penulis di kolom pembaca tersebut. Anggota itu menanyakan, “Maaf, apakah hal yang Ibu tulis di koran itu benar-benar terjadi?”

Ibu yang tertolong itu bilang, “Benar, Pak. Nih, tanya saja anak saya!”

Sang anak bercerita, persis seperti yang dimuat di surat kabar itu. 

Atas banyak peristiwa yang terdengar – walau itu belum tentu kebenarannya- sering kita terlalu cepat menyimpulkan dan mengeneralisasikannya. 

Banyaknya berita yang sampai ke telinga, kadang, membentuk suatu opini pribadi. Padahal, pada kenyataannya, tidak jarang, fakta bisa berbicara beda.

Dan, berbicara tentang kebaikan, ia –ternyata- ada di mana-mana. Di rumah-rumah ibadah, di perkantoran, juga di jalanan.

Kebaikan itu, boleh jadi, diamalkan oleh pemuka agama, guru, pelajar, atau mahasiswa. Kebaikan  mungkin dilakukan pejabat negara atau pekerja biasa.

Kebaikan bisa juga datang dari rakyat, tentara, atau polisi!



Hotel Arya Duta, Pekanbaru, 21 November 2013.

Tinggalkan komentar