
LOMBOK TOUR -35 TAHUN BPST I EP PERTAMINA
Menu makan pada malam kedua kami berada di Lombok adalah ikan bakar yang dinikmati di area pantai. Udara yang hangat diimbangai hembusan halus angin laut, segar terasa suasana.
Meja panjang telah dipenuhi sajian. Teman-teman semua sudah mengisi piring dengan makanan pilihan. Dari arah bagian depan tempat makan, tiba-tiba terdengar nada ceria:
Hari ini hari yang kau tunggu
Bertambah satu tahun usiamu, bahagialah kamu
Yang kuberi bukan jam dan cincin
Bukan seikat bunga, atau puisi, juga kalung hati
——————-
Yang ingin aku beri padamu doa setulus hati
Semoga Tuhan melindungi kamu
Serta tercapai semua angan dan cita-citamu
Mudah-mudahan diberi umur panjang
———————–
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun
Lagu punya Jamrud itu menyemangati orang-orang yang sedang menikmati santap malam. Agar mata lebih terbuka, seorang kawan memesankan kopi untuk semua yang mau.
Fachrizal dan Sandy -panggilan pop dari Agus Eddie Supriyadi, hari itu bertambah usia. Baris Sitorus yang ulang tahun seminggu yang lalu, ditarik kedua temannya untuk bersama-sama menyanyikan lagu-lagu.
Kecuali saya yang tidak pandai bernyanyi -cukup menikmatinya saja, kawan-kawan larut dalam lagu-lagu merdu.
Sandy -seperti semua temannya tahu, paling tidak di lingkungan BPST I- adalah penyanyi top markotop. Di mana pun berada, ia siap sedia untuk membuat teman-teman ceria.
Sehari sebelumnya, hari pertama kami berada di Lombok, dari Bandara Praya dijemput; langsung ke tempat makan siang dengan lauk khas Lombok: Ayam Taliwang dan, tentu saja, *Plecing Kangkung.*
Plecing adalah makanan -kalau di tanah Jawa (Tengah dan Timur)- ia sejenis pecel; lotek di Parahyangan, tapi sayurnya dominan kangkung rebus dengan sedikit toge dan/atau kacang panjang.
Bisa ditambahkan ke dalam plecing: kacang goreng, telur, teri, ikan, atau tempe. Untuk menambah nikmat rasa sayuran, sambal tomat dan jeruk limau menyertainya.
Meski kadar cabenya sudah dikurangi dari yang standar, tetap masih terasa pedas itu makanan. Walau terasa menyengat di bibir, tapi karena enak, habis juga ia dari piring.
Ada kurangnya dari menu siang itu: porsi ayamnya, kurang banyak!!!
Setelah para turis merasa perutnya sudah kenyang; mereka diantar ke *Kampung Tenun Sukarara.*
Para penumpang bus wisata melihat-lihat para wanita pengrajin tenun memintal-mintal benang menjadi kain-kain yang indah; kemudian, berbelanja tenunan itu.
Sebagian besar lainnya menikmati kopi gratis di pekarangan. Kopi dan teh bersifat diuretik: minuman yang memicu untuk banyak dan sering mengeluarkan air kemih.
Tapi, kopi di sini tidak demikian. Rasanya pun tidak begitu pahit. Cucok dengan lidah dan tenggorokan saya!
Mengapa berbeda dengan sifat kopi pada umumnya: pahit dan sering mengajak ke kamar kecil? Sebab, kata Bang Suryadi Oemar, “ *Kopinya…kopi beras!”*
Jadi, selain jagung, ternyata bisa juga beras dijadikan “kopi”. Ia disangray hingga gosong; sehingga menghasilkan rasa pahit, mirip-mirip kopi.
Ada sih, rasa kopinya. Tapi, itu sebagai perasa saja, laiknya toping pada jajanan remaja.
Dari Sukarara, rombongan kakek-nenek yang masih gagah-gagah ini, menyaksikan tarian khas penduduk Lombok di Desa Sade.
Para wisatawan -yang umumnya kondisi finansial mereka masih sehat-sehat, berbelanja kain tenun, peci, berbagai macam tas, dan oleh-oleh lainnya di perkampungan Suku Sasak ini,
*Rumah Adat Sasak,* atapnya terbuat dari jerami; dindingnya anyaman bambu; sedangkan lantainya adalah campuran tanah liat, getah pohon, dan abu jerami.
Lantai ini, kemudian diolesi kotoran kerbau atau sapi menjadi *Lantai Kotoran Kerbau.*
_Faeces_ hewan ini dapat mengurangi kelembapan lantai; dan bisa berfungsi sebagai pengusir nyamuk. Bahan dari kerbau atau sapi ini, pun dipercaya dapat memberikan kehangatan pada rumah.
“Kang, gimana shalat berlantaikan kotoran binatang. Kan, najis?” seorang kawan bertanya.
“Asal dialasi tikar atau sejenisnya yang bersih, tak apa.”
Dahulu, seorang kawan pernah bertanya akan sebuah tempat shalat yang di tanahnya, di bawah lantai, adalah _septic tank_ , tempat penampungan produksi akhir dari rantai makanan manusia.
“Shalatnya, sah enggak, Kang?”
“Sejauh lantai yang digunakan untuk shalat bersih, tak masalah. Kan, di dalam perut orang yang shalat juga tidak bersih; malah penuh kotoran!”
“O…iya, ya!”
Dari *Sade* , rombongan menuju *Pantai Kuta Mandalika* -tempat yang kesohor sebagai sirkuit balapan motor atau mobil.
Apa kegiatan utama di Mandalika? Berfoto ria! Anak-anak yang menjajakan berbagai jenis suvenir, pandai memainkan kamera ponsel para tamu. Kreasi fotografi anak-anak Mandalika menghasilkan aneka lokasi yang heboh!
Walau tempat itu pantai, tapi ada foto yang seolah-olah berada di gua; bagai orang sedang mengangkat batu besar; atau terlihat seperti Bruce Lee sedang ginkang ke langit tinggi.
Malah, ada yang tampak terbang di angkasa laiknya batman atau superman!
Saat teman-teman pada asyik berfoto, pikir diri masih akan lama berada di Mandalika; saya ke Alfamart, di seberang jalan. Sepulang dari toko waralaba itu, kawan-kawan raib.
Ojek motor mengantar saya ke lokasi bus parkir. Tak ada pula mobil besar itu di sana. Wah, gawat!
“Akang tunggu saja di tempat parkir tadi, kami kembali,” Ketua Rombongan, Jeng Luky memenangkan. Alhamdulillah.
Bus berjalan ke *Tanjung Aan* dan *Bukit Merese* (bukan merege hese, ya!).
Kegiatan utama, berfoto-foto, tentu saja dilanjutkan. Ada gambar paling bagus, bagus sangat, dan sangat laik untuk dikutkan-sertakan dalam lomba: _Hanif & The Eagle!_
Malam hari, acara disudahi dengan menyantap sate khas Lombok: Sate Rambiaga. Plecing Kangkung, tak ketinggalan. Uenak tenan!
Pada hari kedua, turis-turis sepuh ini menuju Gili Trawangan, melihat pemandangan bawah laut, ber- _snorkeling_ .
Lantaran ramainya pantai, penuhnya pulau kecil itu oleh para wisatawan – _mostly bule,_ ikannya pada menjauh, ketakutan. Di dalam air, penyu-penyu saja yang terlihat; ikannya mah beberapa ekor saja!
Sangat berbeda dengan pemandangan bawah laut Raja Ampat. Ribuan ikan, berbagai jenis, rupa-rupa ukuran, aneka warna…berseliweran, menyapa orang-orang yang berwisata; indah tiada tara!
Setelah Jumatan di masjid Gili dan santap siang di Kafe Sama Sama -yang tamunya bajibun, tapi fasilitas berbilasnya untuk banyak tamu, memadai; rombongan kembali menyeberang ke P. Lombok.
“Duren…mana duren?” dari tempat duduk paling belakang, di bus, Waang berteriak-teriak, memprovokatori teman-temannya untuk menikmati buah paling menyengat rasa dan bau khasnya itu.
Pusat penjualan durian didatangi. Hanya spanduk dengan huruf-huruf besar bertulisan “Pusat Durian”, yang terlihat. Tulisannya saja, durennya mah sedang tidak di tempat, belum musim.
Pada malam hari, kami menikmati ikan bakar serta lagu-lagu dari Sandy dan kawan-kawan. Di sela-sela nyanyian, mengobrol santai dengan kawan semeja makan, nikmat rasanya!
“Apa kira-kira manfaat yang didapat dari perjalanan ini?”
“Untuk tempat atau orang-orang yang berada di lokasi yang dikunjungi, barang-barang jualan, baik makanan maupun cindera mata, menjadi ada pembeli.
Jasa penginapan dan transportasi pun, menghasilkan rezeki. Dengan demikian, ekonomi rakyat, sekecil apa pun, terbantu.”
Bagi saya, semua tempat yang dikunjungi, bagus-bagus; perjalanan selama di dalam bus menyenangkan -lantaran para penumpang saling menghibur.
Waang adalah peserta paling membuat teman-teman tak tidur, tertawa terus!
Saya sendiri, alhamdulillah, bisa bertemu salah satu anak yatim Ar-Rahmah asal Lombok, yang kini telah kuliah di sana. Juga, sempat bersilaturahmi kepada Tuan Guru di sebuah Pesantren.
Ada yang paling saya sukai dalam 3 hari ini: mengobrol santai akan banyak hal dengan kawan-kawan; baik ketika sarapan, saat santap siang, maupun waktu makan malam.
Semua kenikmatan ini, seperti juga dalam 30 tahun BPST I Pertamina EP, 5 tahun lalu -di mana kami berwisata ke Sumatra Utara; saya mungkin tak akan menikmatinya, jika tak ada yang mensponsori.
Kawan-kawan ini, seperti Edward Cole (Jack Nicholson) -setelah obrolan dengan Carter Chamber (Morgan Freeman)- dalam _The Bucket List_ , telah membuat dirinya bahagia dengan membahagiakan orang lain.
Ciomas, 30 Agustus 2024, waktu Dhuha. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar