Uzun Hikaye

“Toet…to…toet…to….Jug…gujug…jug…gujug….Toet…to…toet…to…. Jug…gujug…jug…gujug….”

Asap hitam dan tebal mengepul dari sebuah kereta api zaman perang dunia kedua.

Seorang penumpang,  pemuda berpotongan rambut gaya Elvis Presley, dengan mesin tik tua  Remington di depannya, menulis, 

“I am from a village of love.”

Entah apa maksudnya.

Gambar itu hanya muncul sekilas. Segera kemudian tampak sebuah keluarga: pasangan suami istri dengan dua anak balita, putra dan putri. Mereka membawa tas-tas berukuran besar.

Dari perbekalan yang dibawa,  kelihatannya mereka mau bepergian jauh dan lama.

“Kita mau pergi ke mana?” seorang anaknya bertanya.

Kereta tiba di tujuan. Seorang yang tampaknya pernah bertemu ketua rombongan, itu menjemput di stasiun.

Mereka, kemudian tinggal menumpang pada sebuah keluarga, teman dari Ali, ayah dari dua anak itu.

Keluarga pendatang itu dipinjami karavan yang dijadilkan rumah.

“Saya akan pergi, cari kerja,” kata sang suami, suatu pagi, kepada istrinya yang kelihatan masih belum mengerti dengan apa yg sedang terjadi.

Tapi karena percaya, bakti, dan cintanya kepada ayah dari anak-anaknya, ia menurut saja.

Walau mereka hidup sangat sederhana dan cenderung berkelurangan, mereka hidup bahagia.

Suami yang pekerja keras dan senantiasa optimis, senyumnya selalu menyungging di bibir.

Sementara, sang istri bersikap menerima, sehingga membuat keluarga itu selalu ceria.

Uzun Hikaye, cerita panjang yang inti isinya adalah mengenai kisah sebuah keluarga yang penuh haru, namun romantis.

Film Turki yang saya tonton dalam pesawat Turkish Airlines, ini berkisah mengenai petualangan seorang penulis yang kritis terhadap kondisi negeri dan cinta kasihnya kepada istri dan anak-anaknya.

Penuh liku, canda ceria, dan derai air mata.

Perjalanan hidup Ali, sang punya lakon, mirip kisah tokoh Minke dalam roman tetralogi Bumi Semua Bangsa karya Pramudya Ananta Tur: seorang penulis, yang karena hasil goresan tangannya yang tajam menusuk para pejabat negara dan sikapnya yang membela kepentingan rakyat banyak; senantiasa diteror penguasa; hingga, tak sekali saja, ia dianiaya.

Cerita itu masih panjang. Ketika sang bapak dalam rumah tahanan, karena dijebloskan oleh orang tua kekasih anaknya, menerima kunjungan anaknya. Di dalam penjara itu, Mustafa, sang anak, mendapat “restu” ayahnya untuk pergi, meninggalkan kota.

Dengan dibekali mesin tik kuno miliknya- untuk meneruskan cerita baru, Mustafa bersama sang kekasih, meninggalkan rumah, naik kereta; tak tahu mau ke mana.

Tapi saya, hanya ingin mengambil satu momen saja, ketika Minure, istri Ali hamil anak ketiga, ia mengalami pendarahan yang hebat. Karena terlalu banyak darah yang hilang, kendatipun sempat dibawa ke rumah sakit, ia tak tertolong.

Di dalam koridor menuju ruang rawat di rumah sakit itu, saat kesakitan mendera tubuhnya, dalam  kecemasan keluarga dan teman dekatnya, di atas pundak suami yang membopongnya, ia menoleh kepada kedua anaknya -yang terus menangis mengkhawatirkan keselamatan  ibunya- memaksakan diri, setengah berteriak, walau terbata-bata.

“Jangan khawatir, Nak, ibu akan sehat dan segera kembali!”

Itulah kasih seorang ibu.

Dalam kondisi sesulit apa pun, ia tetap, akan mengutamakan kebahagian anak-anaknya.

Teriakan ibu yang penuh kasih kepada putra-putrinya, meskipun ia sedang dalam kondisi menderita, menahan sakit yang tak terperi, mengingatkan saya akan kasih sayang Ummi, ibu kami tercinta yang telah lama pergi menghadap Ilahi. Tak terasa kedua pipi basah oleh tetesan air mata.


Dalam penerbangan Istanbul-Jakarta, 31 Maret 2013. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar