Wajah Bekas Sujud

Jumat sore, 9 Agustus, di Cerita Rase Cafe & Resto, Jln. Ampera Raya, Jakarta Selatan; saya berada pada sebuah ruangan luas yang sekeliling dindingnya terbuat dari kaca.

Untuk para tamu undangan, banyak kursi dipasang. Beberapa meja bundar besar tersedia di bagian kiri dan kanan. Saya duduk menghadap salah satu meja besar itu, di pojok kiri.

Seorang berpeci dan berjas hitam datang. “Bapak dari KUA?”, saya menyapa; beliau mengiyakan.

“Saya Jonih Rahmat, dari Ciomas, Bogor. Maaf, nama Bapak?”

“Muhammad Abdurrahman.” Pada waktunya, ia maju ke meja dan kursi dekat pangggung, memimpin prosesi akad nikah.

Sebelum beranjak, ia membungkuk dan berkata kepada saya, “Pak Kiai, saya ke depan.”

“Ah, saya mah ustaz saja bukan”, sembari mempersilakan, saya merespons.

Seorang bapak berkemeja batik dengan peci hitam bersama seorang ibu berjilbab, bergabung melingkari meja bulat itu.

Bapak ini bernama Dr. Zaenal Arifin, seorang qari; sedangkan si ibu adalah Nur Hasanah -pembaca sari tilawah.

Acara pernikahan Ingga dan Jihad, dimuai dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh Dr. Zaenal Arifin. Ibu Nur Hasanah menyampaikan terjemahnya.

Selesai pembacaan kitab suci, sebelum mereka meninggalkan ruangan, saya hampiri keduanya.

“Bapak, bagus sekali tilawahnya. Mengikuti bapak mengaji, hati saya bergetar. Ibu juga, enak sekali menyampaikan sari tilawahnya.”

Pak Zaenal, meraih dan mencium tangan saya. Saya tarik. “Kebalik”, kata saya. Bu Nur, manggut-manggut saja, sambil menunjukkan sikap merendah.

“Kami mau lanjut ke Cut Mutiah. Ada acara lain di sana”, orang-orang saleh itu berpamitan.

Saya sendiri, setelah selesai menyampikan _taushiah_ ; dan sempat mengobrol dengan Mas Aldin -pengundang; siap-siap untuk ke destinasi lain, di Bandung.

Mas Aldin berbicara tentang pekerjaannya saat ini, di Doha, Qatar; dan waktu di Houston, USA.

Ketika berdinas di Texas, tuan rumah pernikahan ini, punya teman yang juga teman saya, Sena dan Sigit. _Geologists_ ini berkerja untuk sebuah perusahan minyak di sana.

Sigit, sekarang ini, mencari minyak untuk Petronas di Malaysia; Sena adalah konsultan geologi minyak, dosen, dan pendaki gunung. _Mount Everest,_ Himalaya, pernah didakinya.


Dari Jakarta Selatan, saya menuju Bandung bagian utara. Panitia menyiapkan hotel, berlokasi pada sebuah lembah memanjang, pusat tanaman hias, di Cihideung, Lembang.

Salian Art, Lembah Saku, lokasi acara, berjarak sekitar 1 km dari situ. Tempat yang luas, indah, dan nyaman.

Sabtu 10 Agustus, saya mendapat 2 tugas: menyampaikan Nasihat Perkawinan, _soon after_ akad, pagi; dan, Doa Khusus Pernikahan, ketika resepsi, siang hari.

Pak Penghulu memimpin acara akad nikah.

Bersama 2 orang _senior citizens,_ di tanah yang 1 meter lebih rendah, jauh dari meja akad tapi suara dari sana -karena pakai _speaker_ , terdengar jelas; saya duduk di kursi plastik.

Khotbah Nikah disampaikan penghulu dengan singkat, padat, dan jelas.

Kepada dua orang yang berada di samping kanan dan di depan, saya berkata, “Bapak KUA ini, pasti tiap malam, shalat malam.”

“Kok, tahu?”

“Suaranya memberi isyarat?”

“Para penceramah, seperti khatib Jumat; biasanya, bisa dideteksi dalam  2 hal:
apakah ia banyak baca, atau sedikit referensi. Dan, apakah ia dawam shalat malam; atau, jarang melakukannya.”

“Untuk mengetahui itu, ada ilmunya?”

“Ah, ini mah, usil saja.”


Ada pun pada acara sehari sebelumnya, di Jakarta Selatan itu, saat _qari_ dan pembaca sari tilawah masuk ruangan. Saya merasakan sesuatu yang menakjubkan pada wajah-wajah mereka.

Hal ini lebih terkonfirmasi, ketika Ustaz Dr. Zaenal Arifin membaca kitab suci; dan Ibu Nur Hasanah menyampaikan terjemahnya.

Qari, terasa jelas dalam pembacaan Qurannya; sementara Ibu ini, selain dari penyampaian terjemah, terlihat juga disikapnya yang sangat santun dan wajahnya memancarkan cahaya. Dia pasti intens shalat malam.

Orang-orang itu rajin tahajud, sehingga bekas-bekas sujudnya tampak terlihat.

“Bagaimana dengan tanda hitam di jidat -pertanda orangnya banyak bersujud?”

“Agar tak kepanjangan membacanya; ceroten kedua mengenai tanda hitam di dahi, ingin disusulkan kemudian, insya Allah.”


Ciomas, 11 Agustus 2024, bakda Zhuhur; & dalam perjalanan Bogor-Bekasi, menjelang Ashar. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar